Bagaimana Kedudukan Karya Sastra Indonesia di Mancanegara?

By: Kim Timme

www.scriberia.

Sebuah kemestian bagi kita untuk mengambil ilmu pengetahuan atau sebuah pengertian dari sebuah buku atau referensi yang merangkup di dalam karya sastra. Baik karya sastra berupa fiksi maupun non fiksi. Di Indonesia karya sastra modern baru bisa dibilang sangat muda, bisa dibilang pada tahun 1928. Namun untuk diakui secara resmi bisa dibilang dimulai pada tahun 1945.

Salman Faridi sebagai salah satu pemateri seminar, “Karya Sastra Indonesia di Mancanegara”pada suatu kesempatan menyampaikan sebuah kutipan yang ditulis oleh penulis Anton Kurnia yang tak lain yaitu “... karya sastra Indonesia masih menjadi terra incognita—negeri tak dikenal—dalam pentas sastra dunia. Salah satu sebabnya, meski kita cukup banyak menerjemahkan karya sastra asing ke bahasa Indonesia, adalah tak banyak karya sastra kita yang diterjemahkan ke bahasa asing, terutama bahasa utama dunia seperti Inggris, Jerman, dan Prancis.”

Dari apa yang beliau sampaikan tersebut terlihat jelas bahwa karya sastra Indonesia akan terkenal atau sangat dikenali oleh negeri lain atau pentas dunia yaitu dengan cara menterjemahkan buah karya sastra anak bangsa negeri ke bahsa asing.


Lihat saja Korea Selatan yang saat sekarang ini karya-karya anak negerinya sangat terkenal di kancah Internasional seperti K-Pop, K-Drama, K-Cinema. Semua itu bisa terjadi karena persiapan yang begitu matang dan butuh waktu bertahun-tahun ditambah dukungan dari pemerintahannya. Begitupun dengan dunia literasi, untuk meningkatkan karya sastranya dan mengambil hati negara lain mereka melakukan perekrutan mahasisiwa asing untuk mendalami bahasa lain dan memberikan pelatihan intensif. Tak lain gunanya untuk menterjemahkan karya mereka ke berbagai bahasa asing. Hal tersebut terbukti bahwa karya penulis Korea mendapatkan tempat di pasar Internasional terkhusus buku anak-anak. Begitupun untuk hasil yang lebih spekulatif, agen-agen naskahnya tidak kenal lelah untuk berkeliling ke sumua pameran buku Internasional.

Bagaimana dengan karya sastra Indonesia?

 Salman Faridi menyampaikan bahwa sejauh ini karya sastra Indonesia untuk bisa diterjemahkan sebanyak 244 judul. Dari 244 judul tersebut sebanyak 165 sudah selesai diterjemahkan. Untuk menterjemahkan karya sastra ke bangsa asing bukanlah hal yang mudah dilakukan. Semuanya butuh biaya yang sangat mahal dan dukungan dari pemerintahan. Untuk itu bukanlah hal yang menjadi penghambat bagi peulis, baik bagi para penulis maupun calon penulis terus berkarya untuk memperlihatkan nama kita di dunia literasi.


Lihat Juga: Tips Mendapatkan IP 4

Dibalik itu agar karya sastra yang ditulis terlihat bagus dan berkualitas dan diminati oleh pasar atau pembaca teruslah membaca dan menulis. Karena tulisan yang dibuat oleh penulis memperlihatkan bagus atau tidak bagusnya bacaaan seseorang.

Terus berlatih dan temukan jati diri dalam tulisan kita sendiri. Memang tidak semua orang suka membaca dan menulis. Namun hal tersebut bisa-bisa saja jika ada dorongan kuat dari dalam (internal) dan luar (eksternal). Salah satu wadah yang bisa membimbing kita untuk menjadi penulis berkualitas (InsyaaAllah) dengan menjadi bagian dari Forum Lingkar Pena. Bukankah begitu?

Sudah lama tak bergabung FLP Sumbar, Apa kabar FLP?

Padang, 18 Oktober 2016

Comments

Popular Posts