Bagaimana Kedudukan Karya Sastra Indonesia di Mancanegara?
By: Kim Timme
Padang, 18 Oktober 2016
Sebuah kemestian bagi kita untuk mengambil
ilmu pengetahuan atau sebuah pengertian dari sebuah buku atau referensi yang
merangkup di dalam karya sastra. Baik karya sastra berupa fiksi maupun non
fiksi. Di Indonesia karya sastra modern baru bisa dibilang sangat muda, bisa
dibilang pada tahun 1928. Namun untuk diakui secara resmi bisa dibilang dimulai
pada tahun 1945.
Salman Faridi sebagai salah satu pemateri
seminar, “Karya Sastra Indonesia di Mancanegara”pada suatu kesempatan
menyampaikan sebuah kutipan yang ditulis oleh penulis Anton Kurnia yang tak
lain yaitu “... karya sastra Indonesia masih menjadi terra incognita—negeri
tak dikenal—dalam pentas sastra dunia. Salah satu sebabnya, meski kita cukup
banyak menerjemahkan karya sastra asing ke bahasa Indonesia, adalah tak banyak
karya sastra kita yang diterjemahkan ke bahasa asing, terutama bahasa utama
dunia seperti Inggris, Jerman, dan Prancis.”
Dari apa yang beliau sampaikan tersebut terlihat
jelas bahwa karya sastra Indonesia akan terkenal atau sangat dikenali oleh
negeri lain atau pentas dunia yaitu dengan cara menterjemahkan buah karya sastra
anak bangsa negeri ke bahsa asing.
Lihat Juga: Mahasiswa Pasif dalam Diskusi. Apa yang terjadi? Padahal ini Manfaat yang Didapatkan Jika Terbiasa Aktif
Lihat saja Korea Selatan yang saat sekarang
ini karya-karya anak negerinya sangat terkenal di kancah Internasional seperti
K-Pop, K-Drama, K-Cinema. Semua itu bisa terjadi karena persiapan yang begitu
matang dan butuh waktu bertahun-tahun ditambah dukungan dari pemerintahannya. Begitupun
dengan dunia literasi, untuk meningkatkan karya sastranya dan mengambil hati
negara lain mereka melakukan perekrutan mahasisiwa asing untuk mendalami bahasa
lain dan memberikan pelatihan intensif. Tak lain gunanya untuk menterjemahkan
karya mereka ke berbagai bahasa asing. Hal tersebut terbukti bahwa karya
penulis Korea mendapatkan tempat di pasar Internasional terkhusus buku
anak-anak. Begitupun untuk hasil yang lebih spekulatif, agen-agen naskahnya
tidak kenal lelah untuk berkeliling ke sumua pameran buku Internasional.
Bagaimana dengan karya sastra Indonesia?
Salman
Faridi menyampaikan bahwa sejauh ini karya sastra Indonesia untuk bisa diterjemahkan
sebanyak 244 judul. Dari 244 judul tersebut sebanyak 165 sudah selesai
diterjemahkan. Untuk menterjemahkan karya sastra ke bangsa asing bukanlah hal
yang mudah dilakukan. Semuanya butuh biaya yang sangat mahal dan dukungan dari
pemerintahan. Untuk itu bukanlah hal yang menjadi penghambat bagi peulis, baik
bagi para penulis maupun calon penulis terus berkarya untuk memperlihatkan nama
kita di dunia literasi.
Lihat Juga: Tips Mendapatkan IP 4
Dibalik itu agar karya sastra yang ditulis
terlihat bagus dan berkualitas dan diminati oleh pasar atau pembaca teruslah
membaca dan menulis. Karena tulisan yang dibuat oleh penulis memperlihatkan
bagus atau tidak bagusnya bacaaan seseorang.
Terus berlatih dan temukan jati diri dalam
tulisan kita sendiri. Memang tidak semua orang suka membaca dan menulis. Namun
hal tersebut bisa-bisa saja jika ada dorongan kuat dari dalam (internal) dan
luar (eksternal). Salah satu wadah yang bisa membimbing kita untuk menjadi
penulis berkualitas (InsyaaAllah) dengan menjadi bagian dari Forum
Lingkar Pena. Bukankah begitu?
Sudah lama tak bergabung FLP Sumbar, Apa kabar
FLP?


Comments
Post a Comment