Tidak Hanya Memasak, Ternyata Menulis Juga Butuh Bahan Belanja Lho
By: Kim Timme
Ketika seorang emak-emak hendak memasak, eh tidak hanya emak-emak kamu juga dong, tentunya
sebelumnya sudah memiliki bahan persediaan untuk memasak. Jika bahan yan akan
dimasak tidak ada, harus belanja bahan ke pasar terlebih dahulu. Biar bisa
memasak makanan yang diinginkan. Tentunya ini bisa memenuhi kebutuhan untuk
kelangsungan hidup.
Ngomong-ngomong soal bahan, ternyata untuk
menjadi penulis dan ingin menuliskan entah apa itu harus mempunyai bahan.
Banyakin belanja bahan. Agar nanti mudah memproduksinya di dapur literasi untuk
kelangsungan tetap bisa menulis. Perihal ini disampaikan oleh Pak Hairus Salim,
penulis buku “Tuhan Yang Bersembunyi” ketika bincang-bincang santai
tentang kepenulisan bersama teman-teman literasi Masjid Jendral Sudirman di
kediaman beliau. Di sebuah rumah yang memiliki keunikan dengan desain kayu yang
terkesan minimalis. Duduk di taman rumah beliau benar-benar terasa sejuk.
Hembusan angin benar-benar terasa. Sesekali dedaunan jatuh dari pohon sehingga
suasananya benar-benar terasa hayat. Layaknya rumah beliau yang disebut sebagai
“Rumah Hayat” yang berasal dari nama sang putra beliau yaitu Hayat.
Pembicaraan Pak Hairus Salim tentang tulis
menulis kemarin sontak mengkagetkan saya. Ketika beliau membicarakan soal
perlunya mengumpulkan dan belanja bahan bagi penulis. Beliau menyampaikan
bahwa, “Kita tidak mempunyai ide jika bahan yang akan ditulis tidak ada. Apa
yang mesti ditulis jika bahan tidak ada? Kalau tak ada bahan, tak usah saja
menjadi penulis.” Kata-kata ini membuat hati saya mendidih. Betapa tidak,
selama ini saya menyadari kekurangan bahan. Tapi tidak sadar akan kekurangan
tersebut. Adapun kadang mempunyai bahan, bahan hanya sekedar bahan. Tidak
dituliskan, lalu hilang begitu saja.
Seketika saya ternganga. Ternyata bahan-bahan
itu sesuatu hal yang membuat kita senang untuk membelanjainya. Beliau
menjelaskan bahan-bahan itu tak lain adalah:
Pertama, membaca. Membaca adalah salah satu bahan yang
utama untuk menulis. Baik itu membaca buku, membaca majalah, membaca surat
kabar dan lainnya. Terkadang kita tidak mau maembaca tapi ingin menjadi penulis.
Apa yang harus ditulis jika isi kepala tidak ada.
Kedua, menonton film. Menonton film sesuatu refreshing yang menyenangkan bahkan banyak yang menyukai ini. Tapi perlu disadari, menonton film tidak sekedar
menonton film. Dari menonton film tersebut bisa dijadikan bahan untuk menulis.
Misalkan menulis resensi film. Film yang ditayangkan di bioskop pasti sebagian
orang belum menonton atau belum mengetahuinya sama sekali. Nah di sini kita
bisa menulis tentang resensi tentang film yang ditonton. Orang yang tidak
mengetahui film tersebut jadi mengetahui bahkan tertarik ingin menonton film
tersebut dari tulisan yang kita ditulis. Betapa bodohnya saya selama ini,
menonton hanya sekedar menonton saja. Tanpa menuliskan setelahnya.
Ketiga, menonton pertunjukan. Bahan yang bisa
digunakan untuk menulis juga bisa diperoleh dengan menonton pertunjukan. Baik
itu pertunjukan seni, pertunjukan musik, pertunjukan teater dan lainnya. Dari
pertunjukan tersebut bisa menuliskan dan menceritakan baik dari sudut pandang
seni, dari sudut pandang kehidupan, dari sudut pandang jalan cerita atau
lainnya.
Keempat, jalan-jalan. Jalan-jalan tentunya sesuatu
hal yang menyenangkan. Ternyata sesuatu hal yang menyenangkan ini bisa menjadi
bahan untuk menulis. Menuliskan tentamg sejarah tempat yang dikunjungi,
keunikannya, nilai estetikanya dan lainnya. Selama ini saya pergi jalan-jalan
hanya sebatas jalan-jalan. Ada hal yang unik dan menarik yang membuat terkagum-kagum,
singgah begitu saja lalu karena tidak
dituliskan. Untuk sekarang jalan-jalannya di stop dulu yah, tetap duduk manis
di rumah untuk menghindari bahayanya virus Corona yang dapat mematikan dan
dapat menghampiri kita dimana dan kapan saja.
Kelima, Bincang-bincang. Bincang-bincang, sesuatu
hal yang ringan ini juga bisa digunakan sebagai bahan yang diolah menjadi
tulisan. Dari bincang-bincang tersebutlah nantinya mendapatkan pengalaman atau
pengetahuan yang baru. Contohnys saja, bincang-bincang dengan Pak Hairus Salim
kemarin bisa menjadi bahan untuk dituliskan menjadi tulisan.
Keenam, makan-makan. Siapa yang tidak suka makan.
Apa lagi makanan khas Indonesia yang kaya akan cita rasanya. Secara jelas
kemarin Pak Hairus Salim tidak menjelaskan makan-makan seperti apa yang bisa
digunakan sebagai bahan untuk menulis. Mungkin saja makan-makan bisa menjadi
inspirasi untuk menulis yang beliau maksud di sini adalah dengan kita mencicipi
makan-makanan nusantara kita bisa menuliskan cara memasaknya. Menuliskan
darimana asal-usul masakannya. Masakan khusus seperti apa yang dihidangkan
ketika mengadakan suatu acara dan lainnya.
Itulah enam bahan yang setidaknya yang
dimiliki oleh penulis jika ingin menulis, Menurut Pak Hairus Salim, jika
bahannya sudah dibeli dan dikumpulkan maka dengan mudahnya nanti kita untuk menuliskan
apa yang ingin kita tulis.
Lihat Juga: Mahasiswa Pasif dalam Diskusi. Apa yang Terjadi? Padahal ini Manfaat yang Didapatkan jika Terbiasa Aktif
Selain itu beliau juga menyampaikan bahwa
sebuah tulisan akan lebih menarik jika ditulis berdasarkan pengalaman pribadi.
Jangan sungkan untuk menampilkan atau menuliskan pengalaman pribadi yang pernah
dilalui. Terkadang pengalaman yang biasa saja akan menjadi luar biasa ketika
menjadi sebuah tulisan.
Pak Hairus Salim mencontohkan sebuah
pengalaman yang sederhana tapi begitu menarik. Tak lain adalah ada seorang
pemuda yang membawa daging pulang ke rumah. Lalu memakannya bersama teman. Di
saat asiknya makan, ternyata ada kuku kaki manusia di daging tersebut. Maka
ditanyalah oleh temannya, “Bukankah daging tersebut daging manusia karena ada kuku
kaki manusia.” Si pemuda yang membawa daging tersebut mengiyakan. Bahwa daging
tersebut adalah potongan kaki manusia ketika tragedi Bintaro. Namun setelah itu
mereka tetap lahap memakannya, nikmat.
Dari kisah ini terlihat bahwa betapa susahnya
mereka, apa yang akan dimakan saja tidak ada. Sehingga potongan kaki manusia
menjadi makanan yang lezat bagi mereka. Dan dari kisah sederhana tersebut kita
akan bisa menulisannya menjadi sebuah cerita yang luar biasa dan memiliki nilai
kehidupan di dalamnya. Untuk itu pengalaman dalam bentuk apapun bisa ditulis
sebagus mungkin tinggal bagaimana si penulis meraciknya menjadi tulisan yang
menarik dan empuk untuk dinikmati.
Semangat menulis.
Semangat menulis.

Comments
Post a Comment