Anak Pertama | Si Sulung yang Mandiri

 Anak Pertama


By Kim Timme

Katanya anak pertama itu cuek. Gak pedulian. Padahal nyatanya dalam kepalanya yang ada bagaimana ia bisa membahagiakan orangtua dan adik-adiknya. Ia tak mau ada kesedihan yang mengampiri adik-adiknya. Bahkan ia sebagai anak sulunglah yang dicari oleh adik-adik yang pertama kali ketika tak berani dan gak sanggup menyampaikan apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Ia rela berjuang dan melakukan apa saja agar adik-adiknya bahagia. Agar adik-adiknya dimudahkan dari segala kendala. Bahkan ia melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuan orangtua karena tidak mau membuat orangtuanya khawatir dan menampung banyak beban dalam pikiranny.

Anak pertama adalah sosok mandiri. Apa-apa ia tanggung sendiri. Apa-apa ia bebani sendiri. Bahkan ia lupa membahagiakan diri sendiri. 

Anak pertama seringkali disebut sebagai kakak yang pemarah. Tapi percayalah, sepenuhnya isi dadanya penuh kasih sayang untukmu adik-adiknya. 

Sebagai anak yang tertua, ia lah yang paling paham terhadap beban yang dipikul orang tua terhadap anak-anak. Bagaimana jatuh bangunnya orang tua dalam menanggung berbagai hal.

Sebagai anak pertama ia seringkali merasa gagal yang terkadang belum mampu sepenunya memberikan apa yang dibutuhkan dan membahagiakan keluarga. Namun ia tetap berusaha memberikan yang terbaik, dan paling baik agar keluarganya bahagia. Walau terkadang ia merasa lemah, namun ia tetap berusaah tegar di depan orang lain. Selalu berusaha terlihat kuat dan bahkan ceria di depan adik-adik dan keluarganya. Agar melihatkan bahwa ia baik-baik saja. Yang padahal setiap 5 rakaatnya meminta pada Tuhan, agar hatinya dikuatkan. Agar beban yang ada dipundaknya diringankan. Agar semua langkahnya dimudahkan. Dan kelak agar ia dipertemukan dengan jodoh yang menemani setiap langkahnya dan mampu memberikan sandaran ternyaman.

Ketika kesedihan dan kesusahan menghampirinya ia hanya memendam sendiri. Ia tak akan menceritakannya pada adik-adik. Tak akan mengadukannya pada orangtua. Apapun masalah yang ia hadapi, ia selalu berusaha untuk menyelesaikannya sendiri. Tanpa mau membebani orang lain. Ia akan selalu berusaha menguatkan hatinya agar ia terlihat baik-baik saja. Padahal semua terasa sesak di dada. 

Untukmu anak pertama yang sedang mendengarkan ini. Yang mungkin saat ini yang lagi sedih, merasa capek, ingin menyerah, ingin berteriak, dan berusaha mencoba membuat hati bahagia dengan berbagai cara tapi belum juga hati reda. 

Di sini aku hanya bilang, mari kita berjuang bersama. Semua beban yang ada di pundakmu saat sekarang ini adalah kekuatanmu. Karena kamu kuat maka Tuhan memberikan gelar itu kepadamu, sebagai anak pertama dalam keluarga. Tidak mudah memang menjadi anak pertama, tapi mari kita jalani dengan lapang dada. Mari kita semangat. Yakinlah kamu pasti kuat.  Walaupun terkadang kamu merasa semua ini sulit, tapi percayalah Tuhan menjadikan kamu sebagai anak pertama karena dia sangat tahu bahwa kamu mampu dan kuat.

Jadi kamu jangan khawatir yah, apapun yang terjadi di luar kendali kamu. Kamu pasti  bisa mengahadapinya. Coba liat, sebelumnya kamu sudah berusaha berjuang sehebat dan sekuat mungkin. Hargai perjuanganmu. Kamu kuat. Kamu bisa. Bahkan kamu menjadi kebanggaan dan harapan keluarga. Jadi jangan menyerah yah. Tetap semangat.

Kamu adalah penggantungan harapan dan pucuk kebahagiaan yang diberikan Tuhan atas semua do'a-do'a yang selam ini dirapalkan oleh keluarga


Puisi anak pertama

Comments

Popular Posts