Sanggupkah Kamu Menjalin Cinta Layaknya Cinta Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib yang tetap Menjaga Kesucian Cinta dalam Diam?
By: Kim Timme
BAB: DILEMA
CINTA
Part I
Cintai
dan bencilah kekasihmu sewajarnya
Biar kau
tak dilema karenanya
Cinta
Tak Akan Kemana dan Cukup Mencintainya dalam Diam
Kisah
cinta yang diidamankan adalah seperti cinta Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi
Thalib
Karena
buah mencintai dalam diam, pernikahannya disaksikan oleh malaikat-Nya
Tersendat dan sesak rasanya
ketika mencintai seseorang dalam diam dan menyimpannya sendiri di dalam hati.
Apalagi yang dicintai juga tak pernah melirik sedikitpun kepada kita. Keluarkan
dan curahkanlah hanya pada Sang Pemilik Cinta. Cinta dalam diam dilakukan
dengan tidak memberikan harapan-harapan tak jelas dan tidak memberikan kode
apa-apa untuknya, cukup hanya Allah yang tahu kode tersebut.
Insan mana yang tak memiliki
sebuah perasaan untuk kekasih pilihan. Mungkin hanya insan yang tak waras yang
tak mempunyai sebuah rasa, apalagi rasa suka dan rasa cinta. Insan yang
memiliki rasa suka pada pujaan hati yang menyimpannya dalam diam memang tak
seorangpun yang tahu. Bukan berarti karena dia menyimpannya dan tak seorangpun
yang tahu dia dibilang tak waras. Malah dialah yang disebut lebih waras, lebih
terhormat, dan lebih mulia di sisi Allah. Sebab insan yang mencintai seseorang
dalam diam akan diberi pahala karena penjagaan hatinya.
Memang sulit rasanya mencintai
seseorang dalam diam. Apalagi mencintai seseorang dalam diam memang tidak
diutarakan pada pujaan hati dan dia tidak tahu sedikitpun tentang perasaan kita
padanya. Rasa was-waslah yang menyelindap di puncak hati. Terngiang di dalam
pikiran, jika nanti kekasih pilihan telah didahului oleh teman atau orang lain
maka rasa gundah gulanalah yang akan menjadi teman. Tak usah kamu khawatir,
tetaplah tanamkan pikiran positif. Bagi Sang Pemiliki Cinta semuanya sudah ditata
rapi di lauhul mahfudzh.
Walau Dia telah menentukannya di
lauful mahfudzh, bukan berarti kita hanya diam dan terpaku pada ketetapan Allah
dan menunggunya begitu saja tanpa melakukan usaha. Tetap lakukan usaha,
berikhtiar dan jangan lupa berdo’a untuk kekasih pilihan. Berdo’a semoga Allah
menyandingkan kita dengan pilihan-Nya yang tak pernah disangka. Pilihan yang
jika di tatap wajahnya meneduhkan hati. Pilihan yang menerima kurang dan
lebihnya diri kita. Pilihan yang menegur kita ketika salah. Pilihan yang tak
mengharapkan apa-apa dari kita. Pilihan yang ridho membimbing kita menuju
syorga-Nya. Dan yang lebih pentingnya lagi, jangan sampai lupa untuk menjemputnya
ketika hati telah mengatakan kesiapan untuk membangun istana cinta bersama
insan yang mencintaimu karena Allah SWT.
Mencintai dalam diam merupakan
sebuah tembok pembatas agar tidak terjadi maksiat yang berkelanjutan. Dengan
mengutarakan isi hati dan tak melanjutkannya ke jenjang pernikahan merupakan
langkah awal menuju gerbang untuk membuka celah maksiat. Mencintai dalam diam
dan dalam do’alah langkah untuk pensucian diri menuju jalan kemuliaan. Apalagi
dengan mencintainya, cinta kita akan semakin bertambah pada Sang Pemilik Cinta.
Bukan malah membuat kurangnya cinta kita pada-Nya. Jangan sampai terlena pada
kekasih yang dicintai tapi fokuskanlah diri kita pada-Nya. Berharap agar kita
juga mendapatkan kekasih pilihan yang selalu berada dalam dekapan-Nya.
Hati mana yang tak remuk ketika
kekasih hati yang dicintai dalam diam selama ini tak berjodohkan dengan kita.
Jangan salahkan Dia. Bisa jadi Dia menguji kesabaran iman dan kekuatan hatimu.
Apakah kamu masih tetap memalingkan hati dan wajah pada-Nya atau malah
sebaliknya? Putus asa lalu salahkan diri. Buang semua gundah gulana yang
meresap dalam hati dan pikiranmu. Biarkan dirimu menenangkan diri sejenak dan
kembali minta yang terbaik pada-Nya.
Tak usah singgahkan kekecewaan
dalam hati dan tak berusaha untuk mencari penggantinya. Sesungguhnya kekasih
yang kau sebut pengganti, sebenarnya bukanlah pengganti. Memang dialah kekasih
pujaan yang menjadi incaran hatimu selama ini. Dia lah kekasihmu yang merupakan
cinta pertama yang sesungguhnya. Cinta yang suci dan cinta yang ikhlas. Kekasih
yang seutuhnya untuk sama-sama melangkah menuju ridho-Nya. Kekasih yang
sama-sama melangkah untuk menuju syorga-Nya. Dan menjadi pasangan yang abadi
untuk selamanya.
Buah kesabaran atas cinta dalam
diam akan kamu petik di istana waktu yang ditetapkan-Nya. Kembangkan senyuman
yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Lahirkan debar-debar kegembiraan yang menghampiri
akan menatapmu dalam kepuasaan. Kepuasan bathin atas persembahan kado yang
terindah dari-Nya.
Kekasih pujaan tak beda jauh
dengan sebuah kado. Dia merupakan rahasia dari pemberi. Hanya yang memberi saja
yang tahu apa isinya. Begitupun dengan kekasih pilihan-Nya yang dirahasiakan.
Sang Pemilik Cinta akan membingkisnya untuk kita berdasarkan permintaan yang
diutarakan selama ini. Dia akan mempersembahkannya ketika waktu telah menatap
di hadapan.
Ketika mencintai seorang kekasih
pilihan, maka cintailah dia dengan ikhlas. Agar Allah SWT meridhoi perjuangan
cinta kita dan berbuah manis. Banyak wanita sholehah yang mendambakan kisah
cinta layaknya kisah cinta Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib yang
diiringi hati yang suci sesuai dengan tuntunan-Nya.
Fatimah Az-Zahra merupakan
seorang wanita yang tak lagi diragukan ketaatannya oleh para sahabat ketika
itu. Dia dikenal sebagai wanita yang berakhlak mulia, pemilik jiwa yang suci,
berperasaan lembut, dan cerdas. Kelembutan jiwa dan keindahan budi pekertinya
disempurnakan dengan kecerdasan pikiran dan ketangkasannya. Dia tak pernah
melakukan atau mengucapkan sesuatu yang sia-sia, tidak pula mendekati prilaku
yang tercela.
Fatimah Az-Zahra tidak pernah
mempergunakan lisannya kecuali untuk mengatakan yang benar. Setiap ucapan yang
dikatakannya dengan jujur, dan tidak pernah menyebutkan keburukan seseorang,
atau menyebut orang lain dengan kata-kata yang buruk. Dia tidak suka bergosip,
apalagi mengadu domba. Tak suka bercanda berlebihan, apalagi mengatakan sesuatu
yang sia-sia. Dengan kukuh dia akan menjaga rahasia, memenuhi setiap janji, dan
menasehati siapa saja yang memintanya. Dia sadar bahwa kedudukan mulia di sisi
Rasulullah adalah buah kejujuran dan kesetiaan menjaga amanat.
Sahabat mana yang tak mau
bersandingkan dengannya. Banyak sahabat yang hendak menjadikan dia sebagai
pelengkap hidup. Suatu ketika Fatimah di lamar oleh seorang sahabat yang selalu
dekat dengan Rasulullah SAW. Seorang sahabat yang rela mempertaruhkan
kehidupan, harta, dan jiwanya untuk Islam yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq. Entah
kenapa mendengar berita ini Ali bin Abi Thalib terkejut. Jiwanya tersentak dan
muncul rasa-rasa yang tak dimengerti. Ali merasa diuji kesabaran dan keimanannya
oleh Allah. Dibandingkan dengan Abu Bakar dirinya belum apa-apa menurutnya. Abu
Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat Nabi seperti Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan Rasulnya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan
perjalanan Nabi dalam Hijrah sementara Ali bertugas menggantikan beliau menanti
maut di ranjang.
“Inilah persaudaraan dan cinta,”
gumam Ali. “Aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku.” Cinta tak
pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia
adalah keberanian dan pengorbanan.
Ali pun mengikhlaskannya dan
ikut bahagia jika Fatimah bersandingkan dengan Abu Bakar. Walaupun rasa yang membuncah
di hatinya tak bisa dibohongi. Sebab Abu Bakar menurutnya merupakan salah satu
sahabat yang juga dekat dengan Rasulullah dan memiliki perjuangan yang sangat
tinggi untuk menyebarkan risalah Islam. Banyak tokoh-tokoh Islam dan saudagar
yang masuk Islam karena sentuhan dakwahnya. Dan banyak pula para budak yang
dibebaskannya.
Dengan berlalunya hari pelamaran
Fatimah oleh Abu Bakar. Ali mendengar kabar bahwa Abu Bakar ditolak oleh
Rasulullah secara baik. Hal tersebut menumbuhkan harapan baru bagi Ali. Dia
berharap masih ada kesempatan bagi dirinya untuk melamar Fatimah.
Kesabaran harus ditanamkan lagi
oleh Ali dalam jiwanya. Ujian itu datang lagi, ketika ada seorang laki-laki
yang gagah berani datang melamar Fatimah setelah kedatangan Abu Bakar kepada
Rasulullah. Yaitu seorang yang mengangkat derajat kaum muslimin. Sebagaimana
syaitanpun berlari takut dan musuhpun bertekuk lutut padanya. Seorang yang di
beri gelar Al-Faruq, dialah Umar ibn Al-Khathab. Umar adalah lelaki pemberani.
Ali sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak,
dia pemuda yang belum siap untuk menikah. Apalagi menikahi Fatimah bintu
Rasulullah! Tidak. Umar jauh lebih layak.
Ali pun meridhoinya jika Fatimah
bisa hidup bahagia dengan seorang sahabat kedua terbaik Rasulullah setelah Abu
Bakar Ash Shiddiq. Mencintai tak harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan
untuk kebahagiaan orang yang kita cinta. Cinta tak pernah meminta untuk
menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian.
Tapi apa yang terjadi, nyatanya
Umar ibn Al-Khatab mendapatkan jawaban yang sama seperti jawaban yang diberikan
Rasulullah untuk Abu Bakar Ash Shiddiq. Rasululllah SAW menolak lamaran Abu
Bakar dan Umar ibn Al-Khathab dengan ungkapan, “Tunggulah ketetapan – al-qadha
(dari Allah SWT).”
Kemudian keduanya Abu Bakar dan
Umar Ibn Al-Khathab, pergi menemui Abdurrahman ibn Awf dan memintanya untuk
meminang Fatimah, “Engkaulah orang yang paling kaya di antara Quraisy. Jika
kamu menemui Rasulullah SAW dan melamar Fatimah untuk dirimu, niscaya Allah SWT
akan menambahkan kekayaan dan kemuliaan padamu.”
Kemudian Abdurrahman menemui
Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku kepada Fatimah.”
NamunRasulullah menolaknya. Abdurrahman kembali menemui kedua sahabat itu dan
berkata, “Jawaban Rasulullah sama saja.”
Kedua sahabat yang mulia itu
berpikir keras tentang siapakah yang paling pantas menjadi pendamping hidup
wanita yang mulia ini, wanita yang paling dekat dengan Rasulullah dan yang
paling dicintainya. Maka keduanya menemui
Ali bin Abi Thalib, karena keduanya mengetahui posisi Ali yang sangat luhur di
sisi Allah dan Rasulullah SAW. Keduanya berkata, “ Kami telah mengetahui
kedekatanmu dengan Rasulullah SAW dan kau termasuk pemuda pertama yang
bersyahadat. Jika engkau menemui Rasulullah dan melamar Fatimah untukmu,
niscaya Allah SWT akan menambah kemuliaan dan kehormatan dirimu.
Ali memiliki niat dan keinginan
yang kuat ntuk melamar Fatimah. Namun, dia masih ragu karena tidak memiliki
apa-apa untuk melamar Fatimah nantinya. Setelah sekian lama diombang-ambing
keraguan, Ali memberanikan diri untuk menemui Rasulullah SAW. Yang hanya
ditemani hasrat dan keinginan yang kuat untuk melamar Fatimah. Ia datang
menyampaikan perkara yang tak kuasa ditahannya. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya
dengan lembut, “Apa maksud kedatanganmu wahai putra Abu Thalib?”
Seraya tetap menundukkan
kepalanya, Ali menjawab lirih, “Aku ingin meminang Fatimah putri Rasulullah
SAW.”
Tetap dengan suara lembut dan
muka yang bersinar Rasulullah menjawab, “Marhaban wa ahlan”.
Dalam riwayat lain Rasulullah
menjawab, “Ia untukmu wahai Ali.” Hanya penggalan kalimat itulah yang
disampaikan Rasulullah tak ada yang lain.
Ali terdiam dan pergi keluar.
Dia tak tahu, apa yang akan dikatakannya jika paras sahabat dan keluarganya
bertanya tentang hasil lamarannya. Mereka lelah menunggu dengan gelisah dan
penasaran ingin mengetahui jawaban Rasulullah kali ini. Ketika telah berhadapan
dengan mereka, Ali berkata, “Sungguh aku tidak tahu apa-apa. Aku telah
menyampaikan niat dan maksudku kepada Rasulullah SAW. Dan dia tidak mengatakan
apa-apa kecuali, “Marhaban wa ahlan.”
Semua sahabat dan keluarga yang
hadir serentak berkata, “Tunggu apa lagi? Jawaban itu sudah cukup.” Kemudian
mereka pergi meninggalkan Ali, yang masih dilanda kebingungan. Para sahabat itu
cukup puas bahwa akhirnya Rasulullah memberikan putrinya kepada Ali.
Ali dan Fatimah menjadi pasangan
kekasih yang seutuhnya. Betapa bahagianya mereka bisa hidup dalam cinta yang
satu. Ternyata selama ini Fatimah juga menyimpan rasa suka kepada Ali bin Abi
Thalib dalam diam. Mereka tak pernah tahu kalau keduanya saling mencintai,
karena tak pernah saling mengungkapkan. Cinta Ali selama itu tak bertepuk
sebelah tangan. Mereka bisa mencicipi buah cinta yang mereka simpan selama itu.
Begitu Maha Kuasanya Dia mempersembahkan kekasih pilihan untuk Ali.
Ada rahasia yang terdalam di
hati Ali yang tak pernah diceritakan pada siapapun. Fatimah, karib kecilnya,
putri tersayang dari Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh mempesonanya. Kesantunannya,
ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Begitu indahnya kisah cinta Fatimah
dan Ali, yang saling mencintai dalam diam. Sebuah cinta yang tak pernah diberi
tahu pada orang lain. Dan hanya Dia saksi cinta satu-satunya yang mengetahui
cinta mereka masing-masing. Dan mereka sama-sama berharap dan mendo’akannya
kepada Sang Pemilik Cinta.
Setiap manusia mempunyai insting
untuk mencintai. Namun tak semua manusia mampu untuk memendam cinta demi menjaga
kesucian cinta itu agar tak ternodai. Memendam cinta adalash sesuatu yang
sangat berat untuk dipikul, bahkan lebih berat dari pekerjaan yang terberat
sekalipun.
Apakah kamu menginginkan kisah
cinta seromantis Fatimah dan Ali bin Abi Thalib? Siapkah sekarang untuk
menjemputnya? Jika kamu belum siap untuk menjemputnya, cukup cintai dia dalam
diam. Karena dengan rasa yang dipendam dalam diam membuktikan cintamu padanya. Diammu
akan lebih membuatmu mulia. Diammu akan lebih manjaga hatimu dan hatinya.
Diammu akan menjaga kesucian diantara kamu dan dia. Bersabarlah untuk menunggu
waktu yang tepat. Jemput dia, dan diammu akan berakhir dengan ikatan suci yang
diridhoi Sang Pemilik Cinta. Tak usah bimbang karena tulang rusukmu takkan
pernah bertukar dan hilang.
Berharap kepada Allah untuk
mendapatkan jodoh yang baik adalah pinta setiap insan. Siapa yang tak
menginginkan jodoh yang hati dan dirinya terjaga dan selalu berada dalam
dekapan Allah. Pasti setiap insan menginginkannya. Sungguh beruntunglah insan
yang nantinya mendapatkan jodoh sesuai pinta dan taat pada-Nya. Berharap dan
menunggu jodoh dengan menjaga diri adalah salah satu kehormatan yang mulia
untuk diri.
KESETIAANKU
UNTUKMU
Oleh :
Kim Timme
Hatiku masih terjaga
Suci bak embun pagi
Tanpa ternodai goresan luka
Kau tahu kenapa?
Karena
aku tak
pernah membuka gerbang
Gerbang
kepahitan untuk siapapun
Diiringi
serakan tangis yang menyedu-nyedu
Tetesan
air mata berlinang darah
Sakit
disayat sembilu
Lemah
tak
berdaya
Tatapan
kosong tanpa tujuan
Aku
tak
mau itu
Biarlah
aku setia menunggumu
Walau aku tidak tahu dimana dirimu
Siapa namamu
Yang aku lakukan disini hanyalah untuk menjaga hatiku
Dan
hatimu
Biar
kelak kau
tak
terluka
Aku
disini ingin menyambutmu dengan senyum
Melihat
wajah yang meneduhkan jiwa yang belum pernah disakiti
Mendengar
rayuanmu yang syahdu
Membalas
senyumanmu yang menawan
Diiringi
tatapan yang lembut
Jiwa
dan ragaku akan selalu setia menunggu dan merindukan kedatanganmu
Diiringi
do'a dan harapan dariNya
Batu Kambing, 28 Februari 2016



Comments
Post a Comment