Sanggupkah Kamu Menjalin Cinta Layaknya Cinta Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib yang tetap Menjaga Kesucian Cinta dalam Diam?

By: Kim Timme

BAB: DILEMA CINTA

Part I

pinterest.com

Cintai dan bencilah kekasihmu sewajarnya
Biar kau tak dilema karenanya

Cinta Tak Akan Kemana dan Cukup Mencintainya dalam Diam

Kisah cinta yang diidamankan adalah seperti cinta Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib
Karena buah mencintai dalam diam, pernikahannya disaksikan oleh malaikat-Nya

Tersendat dan sesak rasanya ketika mencintai seseorang dalam diam dan menyimpannya sendiri di dalam hati. Apalagi yang dicintai juga tak pernah melirik sedikitpun kepada kita. Keluarkan dan curahkanlah hanya pada Sang Pemilik Cinta. Cinta dalam diam dilakukan dengan tidak memberikan harapan-harapan tak jelas dan tidak memberikan kode apa-apa untuknya, cukup hanya Allah yang tahu kode tersebut.

Insan mana yang tak memiliki sebuah perasaan untuk kekasih pilihan. Mungkin hanya insan yang tak waras yang tak mempunyai sebuah rasa, apalagi rasa suka dan rasa cinta. Insan yang memiliki rasa suka pada pujaan hati yang menyimpannya dalam diam memang tak seorangpun yang tahu. Bukan berarti karena dia menyimpannya dan tak seorangpun yang tahu dia dibilang tak waras. Malah dialah yang disebut lebih waras, lebih terhormat, dan lebih mulia di sisi Allah. Sebab insan yang mencintai seseorang dalam diam akan diberi pahala karena penjagaan hatinya.

Memang sulit rasanya mencintai seseorang dalam diam. Apalagi mencintai seseorang dalam diam memang tidak diutarakan pada pujaan hati dan dia tidak tahu sedikitpun tentang perasaan kita padanya. Rasa was-waslah yang menyelindap di puncak hati. Terngiang di dalam pikiran, jika nanti kekasih pilihan telah didahului oleh teman atau orang lain maka rasa gundah gulanalah yang akan menjadi teman. Tak usah kamu khawatir, tetaplah tanamkan pikiran positif. Bagi Sang Pemiliki Cinta semuanya sudah ditata rapi di lauhul mahfudzh.

Walau Dia telah menentukannya di lauful mahfudzh, bukan berarti kita hanya diam dan terpaku pada ketetapan Allah dan menunggunya begitu saja tanpa melakukan usaha. Tetap lakukan usaha, berikhtiar dan jangan lupa berdo’a untuk kekasih pilihan. Berdo’a semoga Allah menyandingkan kita dengan pilihan-Nya yang tak pernah disangka. Pilihan yang jika di tatap wajahnya meneduhkan hati. Pilihan yang menerima kurang dan lebihnya diri kita. Pilihan yang menegur kita ketika salah. Pilihan yang tak mengharapkan apa-apa dari kita. Pilihan yang ridho membimbing kita menuju syorga-Nya. Dan yang lebih pentingnya lagi, jangan sampai lupa untuk menjemputnya ketika hati telah mengatakan kesiapan untuk membangun istana cinta bersama insan yang mencintaimu karena Allah SWT.
Mencintai dalam diam merupakan sebuah tembok pembatas agar tidak terjadi maksiat yang berkelanjutan. Dengan mengutarakan isi hati dan tak melanjutkannya ke jenjang pernikahan merupakan langkah awal menuju gerbang untuk membuka celah maksiat. Mencintai dalam diam dan dalam do’alah langkah untuk pensucian diri menuju jalan kemuliaan. Apalagi dengan mencintainya, cinta kita akan semakin bertambah pada Sang Pemilik Cinta. Bukan malah membuat kurangnya cinta kita pada-Nya. Jangan sampai terlena pada kekasih yang dicintai tapi fokuskanlah diri kita pada-Nya. Berharap agar kita juga mendapatkan kekasih pilihan yang selalu berada dalam dekapan-Nya.

Hati mana yang tak remuk ketika kekasih hati yang dicintai dalam diam selama ini tak berjodohkan dengan kita. Jangan salahkan Dia. Bisa jadi Dia menguji kesabaran iman dan kekuatan hatimu. Apakah kamu masih tetap memalingkan hati dan wajah pada-Nya atau malah sebaliknya? Putus asa lalu salahkan diri. Buang semua gundah gulana yang meresap dalam hati dan pikiranmu. Biarkan dirimu menenangkan diri sejenak dan kembali minta yang terbaik pada-Nya.

Tak usah singgahkan kekecewaan dalam hati dan tak berusaha untuk mencari penggantinya. Sesungguhnya kekasih yang kau sebut pengganti, sebenarnya bukanlah pengganti. Memang dialah kekasih pujaan yang menjadi incaran hatimu selama ini. Dia lah kekasihmu yang merupakan cinta pertama yang sesungguhnya. Cinta yang suci dan cinta yang ikhlas. Kekasih yang seutuhnya untuk sama-sama melangkah menuju ridho-Nya. Kekasih yang sama-sama melangkah untuk menuju syorga-Nya. Dan menjadi pasangan yang abadi untuk selamanya.

Buah kesabaran atas cinta dalam diam akan kamu petik di istana waktu yang ditetapkan-Nya. Kembangkan senyuman yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Lahirkan debar-debar kegembiraan yang menghampiri akan menatapmu dalam kepuasaan. Kepuasan bathin atas persembahan kado yang terindah dari-Nya.

Kekasih pujaan tak beda jauh dengan sebuah kado. Dia merupakan rahasia dari pemberi. Hanya yang memberi saja yang tahu apa isinya. Begitupun dengan kekasih pilihan-Nya yang dirahasiakan. Sang Pemilik Cinta akan membingkisnya untuk kita berdasarkan permintaan yang diutarakan selama ini. Dia akan mempersembahkannya ketika waktu telah menatap di hadapan.

Ketika mencintai seorang kekasih pilihan, maka cintailah dia dengan ikhlas. Agar Allah SWT meridhoi perjuangan cinta kita dan berbuah manis. Banyak wanita sholehah yang mendambakan kisah cinta layaknya kisah cinta Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib yang diiringi hati yang suci sesuai dengan tuntunan-Nya.
Fatimah Az-Zahra merupakan seorang wanita yang tak lagi diragukan ketaatannya oleh para sahabat ketika itu. Dia dikenal sebagai wanita yang berakhlak mulia, pemilik jiwa yang suci, berperasaan lembut, dan cerdas. Kelembutan jiwa dan keindahan budi pekertinya disempurnakan dengan kecerdasan pikiran dan ketangkasannya. Dia tak pernah melakukan atau mengucapkan sesuatu yang sia-sia, tidak pula mendekati prilaku yang tercela.

Fatimah Az-Zahra tidak pernah mempergunakan lisannya kecuali untuk mengatakan yang benar. Setiap ucapan yang dikatakannya dengan jujur, dan tidak pernah menyebutkan keburukan seseorang, atau menyebut orang lain dengan kata-kata yang buruk. Dia tidak suka bergosip, apalagi mengadu domba. Tak suka bercanda berlebihan, apalagi mengatakan sesuatu yang sia-sia. Dengan kukuh dia akan menjaga rahasia, memenuhi setiap janji, dan menasehati siapa saja yang memintanya. Dia sadar bahwa kedudukan mulia di sisi Rasulullah adalah buah kejujuran dan kesetiaan menjaga amanat.

Sahabat mana yang tak mau bersandingkan dengannya. Banyak sahabat yang hendak menjadikan dia sebagai pelengkap hidup. Suatu ketika Fatimah di lamar oleh seorang sahabat yang selalu dekat dengan Rasulullah SAW. Seorang sahabat yang rela mempertaruhkan kehidupan, harta, dan jiwanya untuk Islam yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq. Entah kenapa mendengar berita ini Ali bin Abi Thalib terkejut. Jiwanya tersentak dan muncul rasa-rasa yang tak dimengerti. Ali merasa diuji kesabaran dan keimanannya oleh Allah. Dibandingkan dengan Abu Bakar dirinya belum apa-apa menurutnya. Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat Nabi seperti Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan Rasulnya tak tertandingi.  Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam Hijrah sementara Ali bertugas menggantikan beliau menanti maut di ranjang.

“Inilah persaudaraan dan cinta,” gumam Ali. “Aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah keberanian dan pengorbanan.

Ali pun mengikhlaskannya dan ikut bahagia jika Fatimah bersandingkan dengan Abu Bakar. Walaupun rasa yang membuncah di hatinya tak bisa dibohongi. Sebab Abu Bakar menurutnya merupakan salah satu sahabat yang juga dekat dengan Rasulullah dan memiliki perjuangan yang sangat tinggi untuk menyebarkan risalah Islam. Banyak tokoh-tokoh Islam dan saudagar yang masuk Islam karena sentuhan dakwahnya. Dan banyak pula para budak yang dibebaskannya.

Dengan berlalunya hari pelamaran Fatimah oleh Abu Bakar. Ali mendengar kabar bahwa Abu Bakar ditolak oleh Rasulullah secara baik. Hal tersebut menumbuhkan harapan baru bagi Ali. Dia berharap masih ada kesempatan bagi dirinya untuk melamar Fatimah.

Kesabaran harus ditanamkan lagi oleh Ali dalam jiwanya. Ujian itu datang lagi, ketika ada seorang laki-laki yang gagah berani datang melamar Fatimah setelah kedatangan Abu Bakar kepada Rasulullah. Yaitu seorang yang mengangkat derajat kaum muslimin. Sebagaimana syaitanpun berlari takut dan musuhpun bertekuk lutut padanya. Seorang yang di beri gelar Al-Faruq, dialah Umar ibn Al-Khathab. Umar adalah lelaki pemberani. Ali sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap untuk menikah. Apalagi menikahi Fatimah bintu Rasulullah! Tidak. Umar jauh lebih layak.

Ali pun meridhoinya jika Fatimah bisa hidup bahagia dengan seorang sahabat kedua terbaik Rasulullah setelah Abu Bakar Ash Shiddiq. Mencintai tak harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cinta. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian.



Tapi apa yang terjadi, nyatanya Umar ibn Al-Khatab mendapatkan jawaban yang sama seperti jawaban yang diberikan Rasulullah untuk Abu Bakar Ash Shiddiq. Rasululllah SAW menolak lamaran Abu Bakar dan Umar ibn Al-Khathab dengan ungkapan, “Tunggulah ketetapan – al-qadha (dari Allah SWT).”

Kemudian keduanya Abu Bakar dan Umar Ibn Al-Khathab, pergi menemui Abdurrahman ibn Awf dan memintanya untuk meminang Fatimah, “Engkaulah orang yang paling kaya di antara Quraisy. Jika kamu menemui Rasulullah SAW dan melamar Fatimah untuk dirimu, niscaya Allah SWT akan menambahkan kekayaan dan kemuliaan padamu.”

Kemudian Abdurrahman menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku kepada Fatimah.” NamunRasulullah menolaknya. Abdurrahman kembali menemui kedua sahabat itu dan berkata, “Jawaban Rasulullah sama saja.”

Kedua sahabat yang mulia itu berpikir keras tentang siapakah yang paling pantas menjadi pendamping hidup wanita yang mulia ini, wanita yang paling dekat dengan Rasulullah dan yang paling dicintainya.  Maka keduanya menemui Ali bin Abi Thalib, karena keduanya mengetahui posisi Ali yang sangat luhur di sisi Allah dan Rasulullah SAW. Keduanya berkata, “ Kami telah mengetahui kedekatanmu dengan Rasulullah SAW dan kau termasuk pemuda pertama yang bersyahadat. Jika engkau menemui Rasulullah dan melamar Fatimah untukmu, niscaya Allah SWT akan menambah kemuliaan dan kehormatan dirimu.

Ali memiliki niat dan keinginan yang kuat ntuk melamar Fatimah. Namun, dia masih ragu karena tidak memiliki apa-apa untuk melamar Fatimah nantinya. Setelah sekian lama diombang-ambing keraguan, Ali memberanikan diri untuk menemui Rasulullah SAW. Yang hanya ditemani hasrat dan keinginan yang kuat untuk melamar Fatimah. Ia datang menyampaikan perkara yang tak kuasa ditahannya. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya dengan lembut, “Apa maksud kedatanganmu wahai putra Abu Thalib?”

Seraya tetap menundukkan kepalanya, Ali menjawab lirih, “Aku ingin meminang Fatimah putri Rasulullah SAW.”

Tetap dengan suara lembut dan muka yang bersinar Rasulullah menjawab, “Marhaban wa ahlan”.

Dalam riwayat lain Rasulullah menjawab, “Ia untukmu wahai Ali.” Hanya penggalan kalimat itulah yang disampaikan Rasulullah tak ada yang lain.

Ali terdiam dan pergi keluar. Dia tak tahu, apa yang akan dikatakannya jika paras sahabat dan keluarganya bertanya tentang hasil lamarannya. Mereka lelah menunggu dengan gelisah dan penasaran ingin mengetahui jawaban Rasulullah kali ini. Ketika telah berhadapan dengan mereka, Ali berkata, “Sungguh aku tidak tahu apa-apa. Aku telah menyampaikan niat dan maksudku kepada Rasulullah SAW. Dan dia tidak mengatakan apa-apa kecuali, “Marhaban wa ahlan.”

Semua sahabat dan keluarga yang hadir serentak berkata, “Tunggu apa lagi? Jawaban itu sudah cukup.” Kemudian mereka pergi meninggalkan Ali, yang masih dilanda kebingungan. Para sahabat itu cukup puas bahwa akhirnya Rasulullah memberikan putrinya kepada Ali.

Ali dan Fatimah menjadi pasangan kekasih yang seutuhnya. Betapa bahagianya mereka bisa hidup dalam cinta yang satu. Ternyata selama ini Fatimah juga menyimpan rasa suka kepada Ali bin Abi Thalib dalam diam. Mereka tak pernah tahu kalau keduanya saling mencintai, karena tak pernah saling mengungkapkan. Cinta Ali selama itu tak bertepuk sebelah tangan. Mereka bisa mencicipi buah cinta yang mereka simpan selama itu. Begitu Maha Kuasanya Dia mempersembahkan kekasih pilihan untuk Ali.

Ada rahasia yang terdalam di hati Ali yang tak pernah diceritakan pada siapapun. Fatimah, karib kecilnya, putri tersayang dari Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh mempesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Begitu indahnya kisah cinta Fatimah dan Ali, yang saling mencintai dalam diam. Sebuah cinta yang tak pernah diberi tahu pada orang lain. Dan hanya Dia saksi cinta satu-satunya yang mengetahui cinta mereka masing-masing. Dan mereka sama-sama berharap dan mendo’akannya kepada Sang Pemilik Cinta.

Setiap manusia mempunyai insting untuk mencintai. Namun tak semua manusia mampu untuk memendam cinta demi menjaga kesucian cinta itu agar tak ternodai. Memendam cinta adalash sesuatu yang sangat berat untuk dipikul, bahkan lebih berat dari pekerjaan yang terberat sekalipun.

Apakah kamu menginginkan kisah cinta seromantis Fatimah dan Ali bin Abi Thalib? Siapkah sekarang untuk menjemputnya? Jika kamu belum siap untuk menjemputnya, cukup cintai dia dalam diam. Karena dengan rasa yang dipendam dalam diam membuktikan cintamu padanya. Diammu akan lebih membuatmu mulia. Diammu akan lebih manjaga hatimu dan hatinya. Diammu akan menjaga kesucian diantara kamu dan dia. Bersabarlah untuk menunggu waktu yang tepat. Jemput dia, dan diammu akan berakhir dengan ikatan suci yang diridhoi Sang Pemilik Cinta. Tak usah bimbang karena tulang rusukmu takkan pernah bertukar dan hilang.

Berharap kepada Allah untuk mendapatkan jodoh yang baik adalah pinta setiap insan. Siapa yang tak menginginkan jodoh yang hati dan dirinya terjaga dan selalu berada dalam dekapan Allah. Pasti setiap insan menginginkannya. Sungguh beruntunglah insan yang nantinya mendapatkan jodoh sesuai pinta dan taat pada-Nya. Berharap dan menunggu jodoh dengan menjaga diri adalah salah satu kehormatan yang mulia untuk diri. 

KESETIAANKU UNTUKMU
Oleh : Kim Timme

Hatiku masih terjaga
Suci bak embun pagi
Tanpa ternodai goresan luka
Kau tahu kenapa?
Karena aku tak pernah membuka gerbang
Gerbang kepahitan untuk siapapun

Diiringi serakan tangis yang menyedu-nyedu
Tetesan air mata berlinang darah
Sakit disayat sembilu
Lemah tak berdaya
Tatapan kosong tanpa tujuan
Aku tak mau itu

Biarlah aku setia menunggumu
Walau aku tidak tahu dimana dirimu
Siapa namamu
Yang aku lakukan disini hanyalah untuk menjaga hatiku
Dan hatimu
Biar kelak kau tak terluka
Aku disini ingin menyambutmu dengan senyum
Melihat wajah yang meneduhkan jiwa yang belum pernah disakiti
Mendengar rayuanmu yang syahdu
Membalas senyumanmu yang menawan
Diiringi tatapan yang lembut
Jiwa dan ragaku akan selalu setia menunggu dan merindukan kedatanganmu
Diiringi do'a dan harapan dariNya
Batu Kambing, 28 Februari 2016


Comments

Popular Posts