Percayakan Mimpi Pada-Nya untuk Mendapatkan Beasiswa LPDP dan Ini Tahapan yang Harus Kamu Lalui untuk Mengikuti Seleksi LPDP
By: Kim Timme
Percayalah pada keajaiban, tapi jangan tergantung padanya (H Jackson Brown Jr)
Inilah salah satu motivasi yang membuat aku terus dan terus berusaha guna menggapai mimpi. Apapun itu akan aku lakukan. Akan kulalui rintangan sesanggup san semampuku.
Aku sangat mempercayai keajaiban dalam impian. Tentunya keajaiban yang tak hanya berkutat pada kata dan keinginan, namun juga menerapkannya dalam tindakan dan berharap pada-Nya. Walaupun terkadang itu rasanya sangat sulit untuk dijangkau setidaknya dimulai dari niat dan diiringi dengan tindakan menuju keinginan yang diharapkan.
Tahun 2014 aku pernah menulis beberapa mimpi di kertas dan menempelkannya di dinding kamar (Kos Albanat Jamilah). Walaupun terkadang ada yang sedikit mengejek dan tertawa sinis, aku tak peduli. Karena menurut mereka itu tak mungkin, tetapi aku tak menggrubisi, bodoh amat yang penting kupercaya diri menempelnya di dinding kamar sendiri.
Satu persatu mimpi itu tidak lagi sebatas tulisan yg terpajang. Hasil menjawab atas usaha dan tekad yang dilalui. Mimpi yang masih ingat dibenak dan yang aku tempel di kamar waktu itu adalah menuliskan, "LOLOS LPDP" dan menuliskan, "JOGJA TUNGGU AKU YAH".
Lihat juga: Mahasiswa Pasif dalam Diskusi Apa yang Terjadi? Padahal ini Manfaat yang Didapatkan Jika Terbiasa Aktif
Awalnya aku tak sepenuhnya meyakini jika mimpi yang kutuliskan itu akan digenggam. Karena bagiku melanjutkan study S2 dengan beasiswa itu tidaklah mudah. Apalagi beasiswa LPDP yang sangat bergengsi dan menjadi incaran mahasiswa seluruh Indonesia dengan tujuan kuliah baik dalam negeri maupun ke luar negeri. Sungguh itu sulit bagiku untuk mendapatkannya, tetapi aku sangat menginginkannya. Sangat.
Jangan takut untuk mengambil satu langkah besar bila itu memang diperlukan. Anda tidak bisa melompati jurang dengan dua lompatan kecil (David Lyoid Heorge)
Tgl 16 April 2018 keputusanku bulat untuk resign dari Pt. Century (Anaknya Pt Pharos) Awalnya memang berat untuk mengambil keputusan ini. Namun, setelah kumempertimbangkan beberapa hal untuk menggapai asa yang tertunda, tanpa ragu kputuskan untuk tidak lagi bekerja di Century padahal gaji yang sudah aku dapatkan sudah mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bisa sedikit mengirim uang ke kampung halaman. Kalau orang bilang "Sudah berada di zona nyaman".
Sedikit berat memang melepaskan pekerjaan ini, karena aku sangat ingat perjuangan ke Jakarta tidaklah mudah dan aku juga harus mengumpulkan uang dengan hasil keringat sendiri untuk ongkos dan untuk kebutuhan beberapa bulan dalam prediksi jika dalam waktu yang lama belum juga mendapatkan pekerjaan.
Perjuangan untuk masuk Pt. Century juga tidak mudah, banyak tahapan seleksi yang dilalaui. Bahkan aku juga mendapatkan panggilan kerja di Century setelah 3 bulan berada di Bekasi tempatnya kak Riska (teman satu kos Albanat di Padang).
Btw makasih kak Riska dan bang Andri sudah menampung diri ini selama tiga bulan lamanya dan makasih juga dah bantu untuk mencari pekerjaan saat itu. Jika tak tinggal bersama kak Riska waktu itu kemungkinan aku sudah memiliki hutang sana sini untuk tetap melanjuti hidup di kota metropolitan.
Tahu kan ya, gimana mahalnya kebutuhan hidup di kota Metropolitan sana. Ampun. Jika disuruh ke sana lagi aku tak sanggup. Kehidupan di Metropolitan itu berat, aku nggak kuat, kamu saja.
Ketika kita resign sebelum habisnya kontrakan kerja tentunya harus punya alasan yang tepat, gak dibuat-buat dan masuk akal. Aku memiliki alasan kuat agar resignku disetujui oleh Room dan Area Manager, dengan alasan ingin memburu si LPDP.
Saat aku mau resign kerja ada teman yang berkata, "Napa resign Peh, sayangkan kerja di sini kau lepasin gitu jha. Udah sekarang cari kerja susah lagi. Apa kau yakin ntar lolos beasiswanya? Apa kau yakin bisa lolos lanjut S2? Kalo kau ga lolos gimana? Nganggur dong, harus cari kerja lagi. Kalau kau nanti kerja di Padang aku tahu kok gaji di Padang itu tak seberapa". Kata-kata ini masih kuingat dan tersimpan utuh di memori ingatan sampai sekarang dan tak aku anggap sebagai hinaan tetapi aku jadikan sebagai penyemangat untuk membuktikan bahwa aku bisa dan aku punya Tuhan untuk perihal itu semua.
Pada saat itu aku tak mempedulikan kata siapapun yang melarangku untuk berhenti dari pekerjaan. Tekadku bulad tetap melanjutkan apa yang aku inginkan.
Anda tidak bisa menunggu Inspirasi, anda harus mengejarnya dengan giat (Jack London)
Mimpi itu aku yakini dengan mengejarnya dan meninggalkan pekerjaan yang sudah membuat kunyaman namun mengusik pikiran tak karuan.
Akhir bulan April aku balik ke Padang dengan harapan aku bisa mengikuti seleksi LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), walaupun aku belum mengetahui jadwal pendaftaran penerimanaan beasiswa secara pasti, aku tetap memutuskan resign kerja dan meninggalkan Jakarta.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. LPDP pun akhirnya membuka pendaftaran tgl 7 Mei 2018. Dengan segera aku mempersiapkan syarat yang diminta. Syarat yang wajib aku dului dan aku dapatkan adalah sertifikat bahasa. Karena niat mau daftar ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, maka aku ikuti tes Toafl (Bahasa Arab). Tes awal yang aku ikuti tak memenuhi syarat, tanpa pantang mundur aku tes satu kali lagi dan alhamdulillah cukuplah untuk memenuhi syarat.
Ketika sertifikat sudah kudapatkan, semangatku makin bertambah untuk memenuhi persyaratan lainnya yang diminta oleh pengelola beasiswa LPDP. Mulai dari menulis esai tentang "Kontribusi yang akan diberikan untuk Indonesia sebelumnya, saat ini dan yang akan datang" serta esai tentang "Rencana Study" dan syarat-syarat lainnya yang menurutku tidak sesulit mendapatkan sertifikat bahasa dan menuliskan esai.
Tahap demi tahap kulalui. Seleksi Beasiswa LPDP yang saya ikuti di tahun 2018 terdiri dari 3 tahap:
- Tahap pertama, seleksi administrasi. Mengupload semua syarat-syarat yang diminta ke akun LPDP yang sudah dibuat. Kalau kamu ingin mengikuti seleksi LPDP nantinya silakan bikin akun di sini => Akun Beasiswa LPDP dan mengisi biodata diri, prestasi, pengalaman kerja, pengalaman organisasi, biodata orangtua dan lainnya dan mengupload syarat sesuai jadwa penerimaan beasiswa yang ditentukan oleh LPDP. Syarat yang diupload pada tahap pertama ini seperti: sertifikat bahasa sesuai skor yang diminta, 2 buah esai, ijazah, transkip nilai, KK, KTP, rekomendasi dosen (rekomendasi dari tempat bekerja atau tokoh masyarakat juga bisa), dan lain sebagainya.
- Tahap kedua, seleksi SBK (Seleksi Berbasis Komputer). Seleksi SBK hanya bisa diikuti bagi yang telah dinyatakan lolos seleksi tahap pertama. Jika seleksi tahap pertama tidak lolos, maka tidak bisa mengikuti seleksi tahap ke dua, sebab langsung dinyatakan gugur dan boleh diulang ditahun berikutnya. Tes yang dilakukan saat SBK ini yaitu ujian layaknya seperti tes CPNS tapi tak sebanyak soal CPNS seingat saya. Dalam pembuatan soal, LPDP bekerja sama dengan pembuat soal CPNS. Aku waktu itu ujian di gedung UPT BKN Padang jalan Rimbo Kaluang dekat GOR Agus Salim Kota Padang. Ujian SBK waktu itu terdiri dari TPA dan menanggapi sebuah artikel setelah ujian TPA.
- Tahap ketiga, seleksi Substansi. Nah ini tahapan seleksi terakhir. Walaupun terakhir namun pada seleksi ini cukup menguras pikiran juga yang terdiri dari: pengumpulan berkas (jika berkasnya tidak asli dan ada yang kurang tidak bisa ke seleksi berikutnya), setelah verifikasi berkas-berkas yang diminta sesuai yang di upload nanti akan berlanjut ke FGD dan Interview. FGD (Fokus Group Discussion) yang terdiri dari 10 anggota yang memasuki satu ruangan yang diawasi oleh 2 orang tim penilai. Apa yang dilakukan saat FGD? Saat kita dipanggil ke ruangan FGD maka nanti masing-masing peserta akan diberikan satu lembar kertas yang berisikan satu artikel yang sama. Maka persoalan dari sebuah artikel itulah nanti yang akan didiskusikan dengan memberikan argumen atau sanggahan dari masing-masing peserta yang tetap dalam pantaian tim penilai. Selanjutnya Interview, sungguh sebelum mengikuti interview ini rasa deg-deg an-nya juga cukup tinggi, serasa ujian sidang skripsi lagi, OMG. Tetapi berjalannya waktu aku bisa relax dan nervous-ku sedikit hilang. Saat itu aku memasuki sebuah ruangan yang cukup luas yang terdiri lebih kurang dari 10 meja panjang. Di setiap mejanya ada 3 orang interviewer. Ketika itu aku mendapatkan meja nomor urut 04. Mungkin kamu bertanya 3 orang interviewer itu tugasnya apa sih? Tugasnya setiap orang berbeda, yang satu mengampu bidang akademik, yang satu dari LPDP, yang satu psikolog. Semua bertanya sesuai bidangnya.
Pengumuman Kelulusan
Tahap demi tahap memiliki senggang waktu 1 hingga 2 bulan. Jadi benar-benar bersabar untuk mengikuti beasiswa LPDP ini. Dan alhamdulillah tgl 20 September 2018 surat cinta yang kutunggu-tunggu memberikan jawaban yang diinginkan. Aku dinyatakan lolos, sungguh aku sangat bahagia waktu itu. Aku tak menduga akan lolos dan akan mennggenggamnya. Alhamdulillah Tuhan mendengarkan do'a-do'aku dari waktu ke waktu. Sungguh, aku bersyukur.
Terimakasih to ortu, adik2ku, teman, sahabat, senior, guru-guru dan dosen-dosen yang telah mensupportku. Kalian luar biasa tanpa do'a kalian mungkin belum tentu aku mendapatkannya.
Oh iya, bagi kamu yang ingin mengikuti seleksi LPDP tetap pantengin terus infonya di web atau media sosial LPDP, jangan rajinnya cuman pantengin akun mantan atau akunnya si doi. Hihiw. Tetap persiapkan syaratnya, namun perlu kamu garis bawahi bahwa setiap tahun ada sedikit perubahan untuk syarat yang diminta atau bisa juga sama dengan tahun sebelumnya.
Semangat.
Yang mau bertanya seputar beasiswa LPDP boleh DM di Ig: @kim_timme atau langsung klik Di Sini yah. Atau juga bisa di kolom komentar bawah ini.☺
#alhamdulillah
#fabiayialairabbikubmatukadziban
#LPDP
#UntukNegeri
#IndonesiaAkuPastiMengabdi
#Scholarship
#Scholarship




Masyaallah semangat kamu, Say😍😍
ReplyDelete