Pendidikan dalam Pengembaraan Pola Pikir Mamad
By: M. Khusnun Niam (Mahasiswa Magister UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Tepatnya setelah Mamad lulus dari madrasah tsanawiyah (MTs), gambaran pendidikan dan masa depan tidaklah tampak saat itu. Bukan hanya itu saja, kemauan untuk lanjut ke jenjang selanjutnya pun tidak ada, baginya itu tidak penting. Rasanya tidak ada gairah untuk mendengar ceramah dan diskusi dengan memakai seragam dan beridentitas sebagai warga sekolah. Apalagi mengingat waktu itu Mamad masih dalam duka mendalam setelah kepergian Bapaknya (sekitar setahun yang lalu).
Keputusan untuk tidak melanjutkan ke jenjang Aliyah/SMA sangat bulat. Hal ini disebabkan oleh pandangan bahwa pendidikan hanya akan menghabiskan uang saja untuk orang bodoh seperti dirinya. Sehingga saat itu (sekitar 10 tahun lalu), yang ada di pikiran Mamad hanya kerja, kerja dan kerja. Dan dengan uang hasil keringat sendiri bisa untuk membantu memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari keluarga, karena Mamad sadar dengan kepergian Bapaknya ia harus lebih kuat lagi membantu Ibu dan saudara.
Kalaupun diharuskan lanjut sekolah, maka harus cari sekolah yang non reguler atau waktunya sore. Dari sini, Mamad berusaha mencari sekolah tersebut dan akhirnya ia mendapat informasi adanya sekolah sore yang murah meriah dan di dalamnya terdapat beberapa guru yang juga mengajar di Madrasahnya Mamad dulu. Sehingga, Mamad berminat untuk masuk di dalamnya.
Keesokan harinya, bersama teman-teman dari madrasah yang sama, Mamad dan teman-temannya mendaftar di Aliyah tersebut dengan biaya masuk yang sangat bersahabat. Kembalinya dari situ, tepatnya setelah sampai di rumah dan Mamad bertemu Simak (Ibu), bergegas menceritakan terkait kelanjutan sekolah. Disitu, beliau sangat mendukung, yang terpenting bagi Ibu Mamad bisa melanjutkan sekolah lagi.
Namun, setelah beberapa hari Ibu Mamad menganjurkan untuk masuk di salah satu sekolah yang dulu kakak kandungnya masuki. Disitu, rasa kesal mulai lahir dengan berbagai pikiran Mamad yang kacau. Hal tersebutlah menyebabkan rasa malas untuk lanjut sekolah kembali hadir dan begitu memaksa sampai akhirnya ada informasi terkait persyaratan dan nilai Mamad tidak cukup untuk masuk persyaratan (dalam hati Mamad bersyukur, Alhamdulillah).
Beberapa hari kemudian, Ibu Mamad mendapatkan informasi bahwa persyaratan nilainya diturunkan, dan hari itu hari terakhir pengumpulan berkas. Langsung saja Mamad bergegas ke sekolah itu dengan sepedanya yang dulu ia pakai untuk sekolah di Madrasah. Setelah mendaftar ke sekolah Mamad langsung pulang dan sampai di rumah Mamad menyampaikan bahwa ia telah mendaftar sekolah kepada Ibu, mengetahui perihal tersebut Ibunya sangat senang sekali. Kemudian Ibu Mamad mendo'akan semoga nanti tesnya dipermudah dan bisa masuk, dalam hati Mamad ia menolak karena bagi Mamad biaya sekolah disitu sangat mahal.
Keesokan harinya, Mamad diberi tahu oleh kakak dan adik Ibunya, kalau Ibu Mamad ke sekolah tersebut dengan bersepeda hanya untuk meminta kertas yang isinya informasi terkait tes dan jadwal. Disitu, Mamad sangat merasa terharu dan dan tak menyadari air mata berlinang begitu saja, mengingat jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh dan ibu Mamad bersepeda untuk meminta informasi yang kemudian diberikan kepadanya. Entahlah, saat itu Mamad merasa sangat malu dan berfikir kembali untuk tidak belajar supaya tidak masuk ke sekolah itu.
Sejak saat itu, Mamad mulai serius belajar. Sampailah akhirnya pada hari dan waktu Mamad memasuk kelas untuk tes dan alhamdulillah, berkat do'a Ibunya dan usahanya setelah sadar, ia diterima di sekolah itu. Kabar gembira itupun sampai ditelinga keluarga, terkhusus ibunya dengan respon yang sangat bahagia.
Keseriusan dan kegigihan Mamad dalam belajar dan perjuangan menjemput asa dan cita-cita juga terbukti dari kisah yang telah ia ceritakan sebelumnya. Jika kamu belum membaca, silakan lihat di sini.
Bagi Mamad, pemikiran yang tertindas merupakan bentuk kebelumsadaran seseorang akan posisinya yang diharapkan oleh beberapa orang disekitanya yang sangat mencintainya dan menyayanginya dan mengharapkannya menjadi orang yang dibanggakan untuk keluarganya. Sehingga, perjuangan sangat haram padam ketika mengetahui bahwa tidak ada orang yang ingin disia-siakan, meskipun mereka ikhlas melakukan semua bantuannya untuk dirinya.



Comments
Post a Comment