Celoteh Ibu yang Belum Selesai

By: Kim Timme

pxhere.com

Kontrakan yang kutempati sekarang selalu sepi dari pagi hingga sore hari. Senasib dengan suasana hati yang yang kurasakan tujuh bulan terakhir ini. Keputus asaan hampir saja merasuki pemikiranku. Bagaimana jika tawaran pekerjaan yang diberikan oleh Rafy dua minggu kemarin kuterima. Hitung-hitung bisa meluniasi hutangku yang telah menumpuk sejak kehadiranku ke tanah rantau ini. 

Pekerjaan yang ditawarkan oleh Rafy kuakui memang tidaklah halal. Tentu saja, masalah seperti ini otakku masih bisa membedakan mana pekerjaan yang bersih dan mana pekerjaan yang dimurkai-Nya.

Aku begitu teringat atas tingkah yang kulakukan di waktu kecil dulu. Sungguh aku dikenal dan terkenal sebagai anak yang paling nakal dan anak yang paling bodoh di kelasku. 

Mungkinkah ini karma bagiku? 

Ibuku begitu sangat membenciku dan tak menyukaiku karena selalu membuat ia malu. Hampir seluruh majelis guru mengenali kalau ia adalah ibu dari anak yang selalu membuat masalah dan berkelahi dengan teman-teman satu kelas. Setiap kali ada masalah yang kulakukan, surat panggilan menjadi bacaan yang sangat memalukan dan memuakkan untuknya. 

Aku tak tahu, sudah berapa kali hatinya tersakiti olehku. Sudah berapa besar luka nganga yang singgah di hati lembutnya. Aku tak pernah memikirkan, bahkan merasakan apa yang dirasakan oleh ibuku sebelumnya. Sungguh luka itu belum pernah kubasuh dengan air mata tulusku. Begitu pekakkah hatiku?


***

Lihat Juga: Pedang Kesuksesan

Baru saja meletakkan sapu di belakang pintu yang tadinya kugunakan untuk memukul kepala Juni, suara Fani yang lengking membuatku terkejut, “Fahri, kamu disuruh pak Wawan ke kantor untuk menemuinya.” Kemudian Fani pun menoleh kepada Juni sambil mengatakan, “Juni, kamu juga disuruh bu Ulfa ke kantor untuk menemuinya.”

Aku tahu, kenapa aku bisa dipanggil pak Wawan yang mengajar mata pelajaran olahraga itu. Mungkin ini karena ulahku yang memukul kepala Juni dengan tangkai sapu tadi. Aku tidak takut, karena kumerasa apa yang kulakukan tak salah.

“Fahri, fisikmu sudah siapkah?” Tanya pak Wawan sambil menepuk pundakku yang masih sakit karena terkilir saat latihan volly ball kemaren sore.

Aku tidak menjawab pertanyaan pak Wawan. Wajahku hanya menunduk ke bawah. Aku cemas, sangsi seperti apakah yang akan diberikan oleh pak wawan kepadaku saat tangan sakit seperti ini. 

Bermacam hukuman menari-nari di pikiranku. Mungkinkah aku disuruh untuk membersihkan semua WC yang ada di sekolah lagi atau menyapu seluruh halaman sekolah dari gerbang depan hingga gerbang belakang yang membuat pinggangku dan tanganku menjadi kaku setelah menyelesaikannya.

“Hai, kenapa kau diam. Apa kau tak mau mengikuti lomba volly ball dua minggu lagi? Kau salah satu murid yang terpilih di seluruh SD di desa ini,” ulas pak wawan dengan logat bataknya yang sulit ia ubah.

Wajahku langsung cerah dan kepalaku begitu kencang untuk menganggukkan dagu dengan menyatakan, “Mau, mau, mau Pak.”

“Ya sudah, sekarang kau silahkan masuk kelas lagi dan ingat jaga kondisi tubuhmu!”

“Siap  Pak.”

Langkahku begitu tegap menuju pintu keluar dari kantor majelis guru setelah mendengar penuturan dari pak Wawan. Anak mana yang tak mau mengikuti lomba volly ball antar kecamatan yang tak semua murid bisa mencobanya.

Belum sampai langkahku menuju pintu keluar, suara bu Ulfa mmbuat kakiku berhenti di ruang yang sering kumasuki itu, “Fahri, kesini,”

“Saya Bu.”

“Iya, kamu.”

“Ada apa Bu.”

“Kenapa kamu pukul kepala Juni hingga ia menangis? Beginikah yang diajarkan sekolah? Atau...”

Belum selesai bu Ulfa berciloteh, langsung kata-katanya kusambar, “Begini ceritanya Bu... Tadi pas jam istirahat setelah aku selesai jajan, aku langsung ke kelas dan melihat banyak teman-teman di sana. Aku bingung, tumben-tumbennya mereka suka main di kelas. Sejak kapan?”

“Lalu apa hubungannya,” sanggah bu Ulfa.

“Nah, setelah itu tuh Bu, mulai ceritanya. Saat aku menikmati enaknya kerupuk kuah buatan mpok Ipeh, aku terkejut dan kerupuk yang baru kumakan separuh terjatuh dan bajuku kena kuahnya. Teman-teman di kelas berteriak-teriak dan berlari kesana kemari karena ketakutan. Aku lihat apa yang menyebabkan teman-teman seperti itu. Ternyata Juni kesurupan karena main jelangkung. Agar ia sadar, aku ambil sapu dan tangkainya kupukulkan ke kepala Juni. Eh, ternyata Juni menangis dan jelangkungnya menurutku telah pergi.”

“Apa benar yang dikatakan oleh Fahri, Juni?”

“Benar Bu. Tapi, aku tak kesurupan. Hanya saja aku pura-pura kesurupan,” jawab Juni sambil memegang dasi merahnya yang sudah dibasahi air mata.

Bu Ulfa tertawa berbahak-bahak mendengarkan penuturan dari kami berdua, “Hahaha..., jadi begitu ceritanya. Ya sudahlah. Juni, jangan diulangi lagi ya permainan jelangkungnya. Begitupun denganmu Fahri, jangan sembarang main pukul saja.”

“Siap Bu,” jawab kami serempak.

Hatiku jadi tenang dan lega karena tidak mendapatkan hukuman seperti yang kuduga sebelumnya. 

Untungnya ulahku yang kali ini tak kena hukuman seperti hari Sabtu kemarin yang ketahuan meletakkan permen karet di kursi Ferdi dan memasukkan kalajengking hidup ke dalam tas Mia saat jam pelajaran olahraga berlangsung. Jika mendapatkan hukuman lagi, pasti akan sama seperti sebelumnya. Tak lain adalah berlari mengelilingi lapangan sebanyak 100 kali dan setelah itu membersihkan seluruh WC yang ada di sekolah.

***

Lihat Juga: Aku Terjebak

“Apakah sudah ada panggilan kerja untukmu, bro?” Sorak Alfin sambil membawa dua gelas kopi panas menuju tempat dudukku. Asapnya menggumpal-gumpal entah kemana-mana, sama halnya seperti kacaunya pikiranku yang tak tahu diri ini harus dibawa kemana.

“Sama halnya seperti sore ini Fin. Tak akan hadir pelangi di langit kelabu, jika hujan sebelumnya tidak memberikan kabar pada mentari. Begitupun dengan nasibku. Tidak akan Allah berikan rezeki untukku, jika sebelumnya aku hanya bisa membuat ibuku murka,” kataku pada Alfin dengan kata yang sok bijak dan entah darimana kudapati.

“Ah, tak ada hubungannya itu. Jika kau selalu mencari pekerjaan dan terus berusaha, pasti akan dapat kok. Memang sih, mencari pekerjaan sekarang agak sulit.”

“Iya Fin, besok aku akan mencoba kembali memasukan surat lamaran pekerjaan ke perusahaan yang belum kumasukkan dan akan kutemui kembali perusahaan yang pernah kumasuki surat lamaran pekerjaan,” kataku sambil menyeruput kopi panas buatannya.

“Gitu dong,” kata Alfin sambil menghembuskan asap rokok yang sudah tiga batang habis sambil bercerita denganku. Sepertinya Alfin sangat menikmati rokok yang dihisapnya, sebelum harga rokok benar-benar naik mencapai lima puluh ribu rupiah.

Aku juga ingin merasakan bagaimana susahnya hidup di rantau orang. Bagaimana kehidupan yang sebenarnya? Bagaimana mengecap pahit, manis, asin, asamnya kehidupan ini. 

Aku tak ingin menjadi anak manja yang biasanya hanya bisa meminta dan tetap berpangku pada orangtua. Ingin rasanya diri ini tidak menyusahkan keluarga dan mengikuti pepatah Minangkabau yang mungkin sudah populer di telinga masyarakat Minangkabau, “Ka rantau madang di ulu, babuah babungo balun, ka rantau dagang (bujang) daulu, di rumah baguno balun.”


Aku pergi marantau bukan berarti pekerjaan di kampung tak ada. Malahan ibu menginginkanku untuk tetap berada di kampung dengan membuka usaha yang dimodalkan oleh ibu. Ide yang ibu berikan untukku bukan berarti semuanya kutolak. Hanya saja aku ingin mencari modal dengan hasil dari keringatku sendiri.

Assalamu’alaikum Bu,” sapaku pada ibu melalui handphone yang umurnya hampir sama dengan keponakanku Vika yang saat ini berada di kelas 2 SD.

Wa’alaikumsalam Fahri,” jawab ibu.

Hatiku begitu tenang ketika mendengar suaranya yang menurutku sangat lembut. Aku tahu, perempuan pertama yang mengisi hatiku ini sangat menyayangiku. Hanya saja, ia tak pernah memperlihatkannya padaku secara langsung seperti halnya bunga yang tak mengetahui kepergian embun saat mentari datang. Becinya ibu padaku, tak lain karena ulahku yang jahil dan pemalas balajar sewaktu sekolah dulu.

“Ibu bagaimana kabarnya, sehatkah Ibu di sana?”

Alhmadulillah sehat nak, kau bagaimana di sana? Masih adakah uangmu untuk kebutuhan sehari-hari, jika tidak biar Ibu titip lewat pak Zuhri yang katanya akan ke Jakartata dua hari lagi.”


Dibalik ketidak setujuannya atas kepergianku ke tanah rantau ini ternyata beliau masih menyimpan rasa perhatian yang sangat dalam untukku.

Alhamdulillah aku juga sehat di sini Bu dan uangku juga masih ada untuk kebutuhan sehari-hari,” jawabku dengan membohongi Ibu.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah kamu sekarang sudah bekerja? Kamu bekerja di mana? Jangan lup....”

Belum selesai ibu berbicara, perkataannya langsung kusambar, “Ma’afkan aku Bu, sampai sekarang aku belum mendapatkan pekerjaan. Belum ada tanggapan atau surat panggilan dari lebih kurang 10 surat lamaran yang telah kumasukkan ke beberpa perusahaan di kota ini.”

Kali ini aku harus berbicara jujur, aku tak ingin membohongi ibu lagi. Aku tak ingin menambah dosa yang semakin hari membuat hidupku tak karuan.

“Fahri...,”

Belum selesai aku mendengarkan ibu berbicara, handphoneku di sambar oleh Alfin dengan kencangnya.

“Hai bro, ini ada surat dari perusahaan tempatku bekerja untukmu.”


Padang, 03 Desember 2016

Comments

Popular Posts