Ibnu Bajah Seorang Filusuf Muslim Yang Utama di Andalusia
By: Fatimah
A. Pendahuluan
Ibnu Bajjah adalah salah seorang filosof Islam yang
pertama kali dalam sejarah kefilsafatan di Andalusia. Ia merupakanserjana yng
sangat cerdas dan gesit sekali tetapi sangat disayangkan karena umurnya tidak
begitu lanjut sehingga orang tidak begitu tahu bagaimana kedudukan filsafatnya.
Seandainya umurnya di dunia ini lebih panjang lagi, maka prestasi karyanya
kemungkinan akan jauh besar dan mengagumkan.
Dia adalah filosof Islam Barat yang pertama sekali
mempelajari secara mendalam tentang filsafat al-Farabi dan Aristoteles. Agar
bisa mengenal lebih lanjut lagi, pada pembahasan kali ini. Mari kita lihat, bagaimana
hasil pemikiran filsafat Ibnu Bajjah?
B.
Pembahasan
1. Riwayat
Hidup dan Karyanya
Ibnu
Bajjah adalah filosof Muslim yang pertama dan utama dalam sejarah kefilsafatan
di Andalus. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad ibnu Yahya ibnu
Al-Sha’igh, yang lebig terkenal dengan
nama Ibnu Bajjah. Ia dilahirkan di Saragosa
(Spanyol) pada akhir abad ke-5 H/abad ke-11 M. Riwayat hidupnya secara
rinci tidak banyak diketahui orang. Begitu juga pendidikan yang ditempuhnya.
Ibnu Bajjah merupakan seorang
saintis yang menguasai beberapa disiplin ilmu pengetahuan, seperti kedokteran,
astronomi, fisika, musikus, dan matematika. Fakta ini dapat diterima karena
dimasa itu (juga masa filsafat Yunani) belum terjadi pemisahan dalam suatu buku
antara sains dan filsafat sehingga seseorang yang mempelajari salah satunya
terpaksa bersentuhandengan yang lain. Ia juga aktif dalam dunia politik,
sehingga Gubernur Saragossa Daulat Al-Murabith, Abu Bakar ibnu Ibrahim Al-Sahrawi
mengangkatnya menjadi wazir.
Menurut
Ibnu Thufail, Ibnu Bajjah adalah seorang filosof Muslim yang paling cemerlang
otaknya, paling tepat analisisnya, dan paling benar pemikirannya. Namun, amat
disayangkan pembahasan filsafatnya dalam beberapa bukunya tidaklah matang dan
sempurna. Ini disebabkan ambisi keduniaanya yang begitu besar dan kematiannya
yang begitu cepat.[1] Buku-buku
yang ditinggalkannya adalah : 1.
Beberapa risalah dalam ilmu Logika, dan sampai sekarang maish tersimpan di Perpustakaan Escurial (Spanyol). 2.
Risalah tentang jiwa. 3. Risalahh al-Ittisal, mengenai
pertemuan manusia dan akal faal. 4. Risalah al-Wada’, berisi uraian tentang
penggerak pertama bagi manusia dan tujuan sebenarnya bagi wujud manusia dan
alam. 5. Beberapa risalah tentang ilmu falak dan ketabiban. 6. Risalah Tadbir al-Mutawahdid. 7.
Beberapa ulasan terhadap buku-buku filsafat, antara lain dari Aristoteles,
al-Farabi, Porphyrius, dan sebagainya.[2]
2. Keadaan
Sosio Kultural
Ada
sekitar dua abad lamanya keterlambatannya lahirnya filsafat dii kawasan Islam
bagian Barat, Andalus, dari kawasan Islam bagian Timur. Kebangkitan filsafat
dalam dunia Islam (Timur), - terjemahan
– diprakarsai oleh Dinasti Abbasiyah (Khalifah Al-Makmun) walaupun embrionya
sudah dimulai masa Khalifah Ibnu Yazid. Gerakkan intelektual di Timur
berkembang dengan cepat.
Dengan keberhasilan Dinasti Abbasiyah naik “panggung” kekuasaan di kawasan Islam bagian Timur pada abad ke 8 H/749 M, menggantikan Dinati Umayyah, segera muncul di Spanyol Dinasti Umayyah tandingan. Dalam waktu yang relative singkat, Dinasti Umayyah Andalus telah mengancam Daulah Abbasiyah di Timur, baik secara politik maupun kutural. Pada masa sesudahnya, secara brilian Dinasti Umayyah Andalus ini telah memainkan peranan yang penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan di “pentas” sejarah, yang menjadi cikal bakal kemajuan ilmu pengetahuan di Barat (Eropa Barat). Kendatipun kompetisi antara Baghdad (Timur) dan Cornova (Barat) cukup ketat, namun di sector kebudayaan dan peradaban tetap terjadi hubungan yang erat antara keduanya. Hal ini menjadi bukti adanya kesatuan budaya dalamm Islam.
Dengan keberhasilan Dinasti Abbasiyah naik “panggung” kekuasaan di kawasan Islam bagian Timur pada abad ke 8 H/749 M, menggantikan Dinati Umayyah, segera muncul di Spanyol Dinasti Umayyah tandingan. Dalam waktu yang relative singkat, Dinasti Umayyah Andalus telah mengancam Daulah Abbasiyah di Timur, baik secara politik maupun kutural. Pada masa sesudahnya, secara brilian Dinasti Umayyah Andalus ini telah memainkan peranan yang penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan di “pentas” sejarah, yang menjadi cikal bakal kemajuan ilmu pengetahuan di Barat (Eropa Barat). Kendatipun kompetisi antara Baghdad (Timur) dan Cornova (Barat) cukup ketat, namun di sector kebudayaan dan peradaban tetap terjadi hubungan yang erat antara keduanya. Hal ini menjadi bukti adanya kesatuan budaya dalamm Islam.
Sebagaimana di
Dunia Islam kawasan Timur, di Andalus, perkembangan filsafat dan ilmu
pengetahuan lainnya juga didorong oleh ajaran al-Qur’an dan Hadis yang
menganjurkan kepada umatnya supaya menghargai kekuatan akal dan mencari ilmu
pengetahuan dimana pun saja. Disamping itu, factor yang paling dominan, adanya
kecintaan penguasa pada filsafat ilmu pengetahuan dan ia ikut pula memprakarsai
pengembangannya, seperti Khalifah Abd Al-Mukmin menyediakan biaya hidup
secukupnya bagi penuntut ilmu pengetahuan dan juga menyediakan tempat khusus di
samping istananya untuk kegiatan ilmu pengetahuan.[3]
3. Filsafat
Ibnu Bajjah
a) Metafisika
(Ketuhanan)
Menurut Ibnu Bajjah, segala yang ada
terbagi dua : yang bergerak dan yang tidak bergerak. Yang bergerak adalah jisim
(materi) yang sifatnya terbatas. Gerak terjadi dari perbuatan yang menggerakkan
terhadap yang digerakkan. Gerakkan ini digerakkan pula oleh gerakkan yang lain,
yang akhir rentetan gerakkan ini digerakkan oleh penggerak yang tidak bergerak,
dalam arti penggerak yang tidak berubah yang berbeda dengan jisim. Penggerak
ini bersifat azal. Gerak jisim mustahil timbul dari substansinya sendiri sebab
ia terbatas. Oleh karena itu, gerakkan ini mesti berasal dari gerakkan yang
tidak terbata, yang Ibnu Bajjah disebut dengan ‘aql. Sebagaimana
Aristoteles, Ibnu Bajjah juga mendasarkan filsafat metafisikanya pada fisika.
Argumen adanya Allah adalah dengan adanya gerakkan di alam ini. Jadi, Allah
adalah azali dan gerakkannya bersifat tidak terbatas.[4]
b) Materi
dan Bentuk
Menurut
pandangan Ibnu Bajjah, materi tidak mungkin bereksistensi tanpa bentuk.
Sementara itu, bentuk bias bereksistensi dengan sendirinya tanpa materi. Jika
tidak, secara pasti kita tidak mungkin dapat menggambarkan adanya modifika
(perubahan-perubahan) pada benda. Perubahan-perubahan
tersebut adalah suatu kemungkinan dan inilah yang dimaksud dengan pengertian
bentuk materi.
Bentuk
yang dimaksud Ibnu Bajjah mencakup arti jiwa, daya, makna, dan konsep. Bentuk
hanya dapat ditangkap dengan akal dan tidak dapat ditangkap oleh pancaindra.
Bentuk pertama menurut Ibnu Bajjah, merupakan suatu bentuk abstrak yang
bereksistensi dalam materi, yang dikatannya sebagai tidak mempunyai bentuk. Setiap materi, menurut Ibnu Bajjah,
mempunyai tiga bentuk, bentuk rohani umum atau bentuk intelektual, bentuk
khusus dan bentuk fisik. Jenis bentuk yang pertama memiliki satu hubungan, yakni
hubungan dengan yang menerima. Jenis bentuk kedua (khusus) mempunyai dua
hubungan, satu hubungan khusus dengan yang berakal sehat, yang satu lagi
hubungan umum dengan yang terasa. Jenis bentuk yang ketiga adalah bentuk yang
bereksistensi pada materi.[5]
c) Jiwa
Menurut pendapat Ibnu Bajjah, setiap
manusia mempunyai satu jiwa. Jiwa ini tidak mengalami perubahan sebagaimana
jasmani. Jiwa adalah penggerak bagi manusia. Jiwa digerakkan oleh da jenis alat
: alat-alat jasmaniah dan alat-alat rohaniah. Alat-alat jasmaniah diantaranya
ada berupa buatan dan ada pula yang berupa alamiah, seperti kaki dan tangan.
Alat-alat alamiah ini lebih dahuluu dari alat buatan, yang disebut juga oleh
Ibnu Bajjah dengan pendorong naluri tau roh insting. Ia dapat pada setiap makhluk
yang berdarah. Jiwa,
menurut Ibnu Bajjah, adalah Jauhar rohani, akan kekal setelah mati. Di akhirat
jiwalah yang akan menerima pembalasan, baik balasan kesenangan maupun balasan
siksaan.
d) Akal
dan Ma’rifah
Ibnu Bajjah menempatkan akal dalam posisi
yang sangat penting. Dengan perentaraan akal, manusia dapat mengetahui segala
sesuatu, termasuuk dalam mencapai kebahagiaan dan masalah Ilahiyat. Akal,
menurut Ibnu Bajjah terdiri dari dua jenis :
1) Akal
teoritis
Akal ini diperoleh
hanya berdasarkan pemahaman terhadap sesuatu yang konkret atau abstrak.
2) Akal
praktis
Akal ini diperoleh
melalui penyelidikan (eksperimen) sehingga menemukan ilmu pengetahuan.
Berbeda dengan al-Ghazali, menurut Ibnu
Bajjah menusia dapat mencapai puncak ma’rifah dengan akal semata, bukan dengan
jalan sufi melalui al-qalb, atau al-zauq. Manusia kata Ibnu Bajjah,
setelah bersih dari sifatt kerendahan dan keburukan masyarakat akan dapat
bersatu dengan Akal Aktif dan ketika itulah ia akan memperoleh puncak ma’rifah
karena limpahann dari Allah.[6]
e) Akhlak
Menurut Ibnu Bajjah sifat akal adalah
factor rohani yang menggerakkan manusia kepada kesusilaan karena sebahagian
akhlak manusia ada yang sama dengan hewan, mislanya fifst berani dari singan
dan sifat ta’jub akan diri sendiri seperti yang terdapat pada burung nerak dan
sebagainya. Tetapi sifat akal
manusia yang menjadi dasar dari ilmu
mereka adalah sifat kesempurnaan yang mutlak artinya yang dapat mengatasi
sifat-sifat hewan itu. Sekiranya manusia itu tidak dapat mengindahkan
sifat-sifat keutamaannya atau akalnya berarti dia memadai dirinya hanya parda
sifat-sifat hewan saja, maka jelas sifat-sifat keutamaannya akan hilang.
Apalagi sifat-sifat hewan itu sangat erat hubungannya dengan alat-alat jasmaniyah seperti soal makan dan sebagainya. Jadi
sifat akal mengadakan satu bagian yang tertentu dalam roh manusia yang tidak
ada hubungannya dengan sifat-sifat yang lain. Pekerjaan-pekerjaan akal dan ilmu
pada hakikatnya sama sekali adalah sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak dapat
memberikan kepada manusia wujud hakiki yang sempurna.[7]
f) Politik
Pandangan politik Ibnu Bajjah
dipengaruhi oleh pandangan politik al-Farabi. Sebagaimana al-Farabi, dalam buku
Ara’ Ahl al-Madinat al-Fadhilat, ia
(Ibnu Bajjah) juga membagi Negara menjadi Negara utama (al-Madinat al- Fadhilat) atau sempurna dan negara yang tidak
sempurna, seperti negara jahiliyah, fasiqah, dan lainnya. Demikian juga tentang hal-hal yang
lain, seperti persyaratan kepala negara dan tugas-tugasnya selain mengatur
negara, juga pengajar dan pendidik. Pendapat Ibnu Bajjah ini sejalan dengan
al-Farabi, perbedaannya hanya terletak pada penekanannya. Al-Farabi titik
tekannya pada kepala negara, sedangkan Ibnu Bajjah titik tekannya pada warga
negara (masyarakat).
Warga negara utama, menurut Ibnu
Bajjah, mereka tidak lagi memerlukan dokter dan hakim. Sebab mereka hidup dalam
keadaan puas terhadap segala rezeji yang diberiakan Allah, yang dalam istilah agama disebut dengan
al-qana’ah. Mereka tidak mau memakan-makanan yang akan merusak kesehatan.
Mereka juga hidup saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menghormati.
g) Manusia
Penyendiri
Filsafat Ibnu Bajjah yang paling popular
ialah manusia penyendiri (al-insan
al-munfarid). Pemikiran ini termuat dalam magnum opum-nya Kitab Tadbir
al-Mutawahhid. Sebagaimana al-Farabi, pembicaraan Ibnu Bajjah tentang hal
ini erat kaitannya dengan politik dan ahklak.
Dalam
menjelaskan manusia penyendiri ini, Ibnu Bajjah terlebih dahulu memaparkan
pengertian tadbir al-Mutawahhid.
Lafal tadbir, adalah bahasa Arab, mengandung pengertian yang banyak, namun
pengertian yang diinginkan oleh Ibnu Bajjah ialah mengatur perbuatan-perbuatan
untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dengan kata lain, aturan yang sempurna.
Dengan demikian, jika tadbir
dimaksudkan pengaturan yang baik untuk mencapai tujuan tertentu, maka tadbir tentu hanya khusus bagi manusia.
Sebab pengertian itu, hanya dapat dilakukan dengan perantaraan akal, yang akal
hanya terdapat pada manusia. Dan juga perbuatan manusia berdasarkan ikhtiar.
Hal inilah yang membedakan manusia dari makhluk hewan.
Ibnu
Bajjah menjelaskan tentang tadbir bahwa kata itu mencakup pengertian umum dan
khusus. Tadbir dalam pengertian umum, seperti disebutkan diatas, adalah segala
bentuk perbuatan manusia. Sementara itu,, tadbir dalam pengertian khusus adalah
pengaturan negara dalam mencapai tujuan tertentu, yakni kebahagiaan.
Adapun yang dimaksud dengan istilah al-Mutawahhid adalah manusia penyendiri.
Dengan kata lain, seseorang atau beberapa orang, mereka mengasingkan diri
masing-masingg secara sendiri, tidak berhubungan dengan orang lain. Berhubungan
dengan orang lain tidak mungkin sebab dikhawatirkan akan terpengaruh dengan
perbuatan yang tidak baik. Sementara itu
al-Mutawahhid yang dimaksud Ibnu
Bajjah ialah seorang filosof atau beberapa orang filosof hidup menyendiri pada
salah satu negara dari negara yang tidak sempurna, sepert Negara Fasiqah,
Jahiliya, Berubah, dan lain-lainnya.
Jadi
manusia penyendiri menurut Ibnu Bajjah adalah seorang filosof atau beberapa
orang filosof hidup pada salah satu negara yang tidak sempurna, mereka harus
mengasingkan diri sdari sikap dan perbbuatan-perbuatan masyarakat yang tidak
baik. Mereka cukup hanya berhubungan dengan ulama dan ilmuan, mereka harus
mengasingkan diri secara total, dalam arti tidak berhubungan sama sekali dengan
masyarakat, kecuali dalam hal-hal yang tidak dapat dihindarkan sekedar
keperluan atau kebutuhan.[8]
C. Kesimpulan
Ibnu Bajjah adalah filosof Muslim yang pertama dan
utama dalam sejarah kefilsafatan di Andalus. Riwayat hidupnya secara rinci
tidak banyak diketahui orang. Begitu juga pendidikan yang ditempuhnya. Filsafat
Ibnu Bajjah banyak terpengaruh oleh pemikiran Islam dari kawasan Timur.
Diantara pemikiran Filsafatnya yaitu :
1. Metafisika
(Ketuhanan)
2. Materi
dan Bentuk
3. Jiwa
4. Akal
dan Ma’rifah
5. Akhlak
6. Politik
7. Manusia
Penyendiri
[1]Sirajjudin Zar, Filsafat Islam : Filosof dan Filsafatnya,
(Jakarta : Rajawali Pers, 2010), h. 185-187.
[2]Ahmag
Hanafi, Pengantar Filsafat Islam,
(Jakarta : Bulan Bintang, 1991), h. 157.
[3] Sirajjudin Zar, Op. cit. h. 188-190.
[7]Fachri Syamsuddin, Filsafat Islam, (Jakarta : Minangkabau
Foundation, 2011), h. 96.
[8]Sirajjudin Zar, Op. cit. h. 198-201.
DAFTAR
KEPUSTAKAAN
Hanafi,
Ahmad. Pengantar Filsafat Islam.
Jakarta : Bulan Bintang. 1991.
Syamsuddin,
Fachri. Filsafat Islam. Jakarta :
Minangkabau Foundation. 2011.
Zar, Sirajjudin. Filsafat Islam : Filosof dan Filsafatnya. Jakarta : Rajawali Pers.
2010.


Comments
Post a Comment