INDAHNYA BERBAGI: Kecelakaan Berawal dari Bidik Misi

Amazing

Tuesday, 17 March 2015

Kecelakaan Berawal dari Bidik Misi



Kecelakaan Berawal dari Bidik Misi




Panas di hari ini sungguh panas yang luar biasa. Namun hal tersebut tak melunturkan niatku untuk membuat makalah PTIMK. Walaupun tampil makalah nggak dalam minggu ini aku tetap menyegerakan untuk mengetiknya di laptop kesayanganku. Saat mataku tertuju fokus pada layar monitor seketika pandanganku dialihkan oleh sebuah suara yang sudah ku kenal.

“Fatimah…sibuk ya???    
                                                                                          
“Nggak sibuk-sibuk banget kok Ra (Ira nama samaran), duduklah sini” jawabku sambil mengsave file makalah yang sudah 3 halaman kuketik. 
                                                     
Setelah ia duduk, ia pun menanyakan buku Logika padaku. “Fa ada punya buku Logika nggak?” katanya.      
                                                                                                                            
“Ada Ra, pembahasannya tentang apa?”     
                                                                          
Ia nggak menjawab pertanyaanku, namun melihatkan sebuah silabus Mata Kuliah Logika/Mantiq langsung kepadaku.        
                                                                                                           
“Owh, pembahasan yang ini ada di buku ku Ra, coba kulihat dulu ya” kataku sambil mengambil buku Logika di rak-rak buku ku (ya di rak-rak buku ku lah masak di rak-rak buku rang lain, , ya nggak? Hehe )     
                                                                                                      
Ternyata pembahasan yang Ira cari di buku tersebut ada dan iapun meminjamnya kepadaku. Sambil Ira membalik-balik buku yang kupinjamkan aku menanyakan bagaimana ia bisa keluar dari Bidik Misi yang ia dapatkan sebelumnya. Sungguh disayangkan jika beasiswa sebesar itu menurut saya bisa lepas dari tangan kita yang sudah berkesempatan untuk mendapatkannya.   
     
Irapun menceritakan proses perjalannannya dari status Mahasiswa Bidik Misi menjadi Mahasiswa seperti lainnya yang biaya kuliahnya ditanggung sendiri lagi. Semua terjadi karena berawal dari nilai semester 4 nya di bawah 3. Ira mendapatkan teguran dari AKAMA, karena IP nya sudah dua kali dibawah 3 yaitu waktu semester 1 dan 4. Ira nggak menerima semua itu karena nilainya yang semester 4 belum keluar semuanya. Dan masalah IP semester 1 nya juga dibawah 3 itu juga merupakan kesalahan dalam pemberian nilai oleh Dosen. Namun salah satu pihak AKAMA tidak menerima alasan apapun sebab waktu untuk mengumpulkan nilai sudah berakhir. Sebelumnya sudah ada diberi pemberitahuan untuk memperbaiku nilainya yang salah tersebut kepada dosen yang bersangkutan selama 1 minggu, namun Ira nggak mengetahui infomasi tersebut. Ia baru tahu setelah 2 minggu setelah itu. Pihak pengelola BM tidak menerima alasan apapun lagi dari Ira dan saat itu juga BM Ira dicabut.                   
                           
Hal ini disampaikan Ira pada kedua orang tuanya. Sekarang Ira nggak bisa lagi  menerima beasiswa Bidik Misi karena sudah dicabut oleh pihak pengelola. Ira berharap kedua orang tuanya nggak marah. Namun apa boleh buat, Ibunya nggak menerima hal tersebut terjadi, Ibunya bilang kenapa nilainya bisa turun. Dan ibunya bilang nggak bakalan membiayai kuliah Ira. Namun Ira nggak bisa membentak kata ibunya hanya melalui tetesan air mata bentakan itu bisa Ira lakukan, jika ia membentak kata ibunya maka penyakitnya akan kambuh katanya. Karena ibunya nggak bisa terlalu emosi.         

Pikiran Ira menjadi kacau nggak tau arah, tetesan air mata tak bisa dihentikan. Sudah jatuh tambah jatuh lagi itu lah yang terjadi pada Ira. Air mata tetap mengalir sepanjang jalan yang dilaluinya.        

Pada saat di jalan tersebut ada seorang juniornya bertanya, “Ada apa kak? kenapa kak nangis?” 

            Ira nggak menjawabnya, hanya seduk sedan yang diiringi gelengan yang bisa Ira lakukan. Bibir Ira nggak bisa bergerak untuk menjawan semua itu. Sepertinya junior Ira memahami kalau Ira baru saja mendapatkan masalah, tapi masalah apa itu ia nggak tau (ya Iyalah…toh nggak dikasih tau Ira).                  
                                                                                  
“Kakak sabar jha ya, semua ini cobaan buat kakak, nanti ada balasannya kok yang baik dari Allah untuk kakak, yakin dech” kata junior nya tersebut sambil melihatkan wajah ikut prihatin terhadap apa yang terjadi sama Ira.       
                                                                              
Ira hanya bisa menganggukkan kepala saja dan nggak bias mengeluarkan suara sedikitpun. 

“Kak, gimana kalau kita ke Mesjid Kampus sekarang ? Kakak bawa Shalat ya… biar hati kak bisa tenang”. Kata si junior.       
                            
           Ira menanggukkan kepalanya bahwa ia setuju untuk shalat dengan harapan bisa menenangkan hatinya. Ira mencoba tidak mengeluarkan air mata lagi ketika Shalat, Namun semua itu tidak bisa dihentikan, air mata masih tetap mengalir, suara sedu sedan tangisan Ira makain menjadi-jadi. Belum selesai shalat Ira membuka bukenanya karena dia nggak mau suara tangisannya mengganggu orang yang juga banyak bermunajah di rumah Allah tersebut.  
         
            Ira langsung keluar berlari menuju kos nya tanpa mengucapakan sepatah katapun kepada junior yang mengajaknya ke Mesjid tadi. Setibanya di kos Ira masih tetap menangis dan teman-temannya  di kos bertanya apa yang terjadi sama Ira. Namun Ira tidak memberikan respon sedikitpun. Ira malah mengambil baju-bajunya yang ada di lemari dan dimasukkan kedalam tas. Sekarang Ira nggak tau harus bagaimana lagi. Ira berlari keluar tanpa minta pamit sama teman-temannya di kos. Tanpa berfikir panjang Ira menaiki angkot berwarna pink menuju ke Pasar Raya. Tujuan Ira sekarang tidak ada, yang ada dalam pikirannya hanyalah satu yaitu “mati”. Kecelakaan pun angkot yang Ira tumpangi sekarang itu nggak masalah baginya, karena itu permintaan.    

Ira telah tiba di Pasar Raya, ternyata Ira masih selamat. Dan tujuan Ira sekarang ini yaitu ingin meloncat ke laut Padang dengan niat ingin bunih diri. Ira segera membayar ongkosnya dan langsung berlari sekencang-kencangnya tanpa melihat kekiri kekanan, kedepan dan kebelakang. Ira tetap berlari di tengah-tengah kepadatan lalu lintas.   

Belum sampai tujuan ke laut, sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang perempuan cantik separuh baya tanpa sengaja menabrak tubuh mungil Ira. Sekarang Ira tak sadarkan diri dan perempuan cantik yang menabrak Ira pun segera turun dari mobil mewahnya. Tanpa pertimbanagn  Ira pun segera dibawa oleh perempuan tadi ke salah satu Rumah sakit yang ada di Padang. Ira masih beruntung karena bisa diselamatkan oleh orang yang mempunyai hati nurani tak seperti kejadian tabrak lari kebanyakan.    
    
            Ira tak sadarkan diri dalam beberapa jam. Perempuan separuh baya tadi mencemaskan keadaan Ira. Mau menghubungi keluarga Ira, perempuan tersebut tidak memiliki alamatnya karena Ira nggak membawa KTP.      
                          
“Saya ada dimana?” tanya Ira kepada Perempuan tadi sambil memegang kepalanya karena terasa sakit.             
                                                                                                                          
“Anak ada di Rumah Sakit, karena tak sengaja Ibu tadi menabrak Anak, padahal Ibu tadi sudah membunyikan klason mobil Ibu, tapi anak tetap tak mengacuhkannya, maafkan Ibu ya nak”. Kata seorang perempuan tadi pada Ira.      
     
“Nggak apa-apa kok Bu, itu semua salah saya. Ketika Ibu membunyikan klason saya mendengarkannya tapi saya nggak mau ke tepi jalan, saya pasrah saja”. Keluh Ira kepada perempuan tersebut.              

“Kenapa anak lakukan demikian?” Kata perempuan separuh baya tersebut sambil menunjukkan ekspresi cemasnya.              
                                                                                                         
“Saya ingin mati saja buk” Jawab Ira dengan simple.   
                                            
“Kampung anak dimana, biar Ibu antar pulang”     
                                                  
“Saya nggak punya kampung Buk bawa saja saya kemana Ibu mau, bawa saja saya kemana Ibu mau” Jawab Ira dengan penuh harap.    
                                                                      
            Itulah semua penjelasan Ira pada perempuan tersebut. Setelah Ira berkata bawa saja dia kemana perempuan tersebut mau Irapun tak sadarkan diri kembali. Setelah seharian perempuan separuh baya tadi merawat Ira di Rumah Sakit Ira pun belum sadarkan diri. Dan perempuan tersebut berniat membawa Ira ke kampung halamnya yaitu di Payukumbuh. Dokterpun membolehkan Ira untuk di bawa.        
     
            Setelah Ira dirawat oleh perempuan tersebut di rumahnya yang mewah Ira baru sadarkan diri setelah satu minggu. Ira menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Sekarang Ira nggak bisa kuliah lagi karena tidak punya biaya dan orang tuanya pun nggak mau mambiayai kuliah Ira. Ira putus asa dan ingin mati saja. 

            Perempuan tersebut memberikan nasehat pada Ira dan tak lain suami dari perempuan tersebut juga memberikan nasehat dan motivasi. Ira pun menyadari kekhilafannya. . .

. . . BERSAMBUNG. . .


Udah dulu ya ceritanya ntar di sambung lagi. ..Mf ya tulisannya agak serak-serakkan. Maklum aku belum ngerti banget gimana ngatur tulisan di blog baruku uni.

Semoga kisah di atas bisa memberikan pelajaran buat kita semua. Bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan baik. Jangan putus asa dan memilih jalan akhir dengan bunuh diri. Itu semua merupakan jalan yang sangat di benci Allah.

Buat Ira. . . Tetap semangat ya Ra. Semua masalah bisa diselesaikan. Allah memberikan semua masalah ini buat Ira karena Allah sayang sama Ira. Toh sampai saat sekarang ini Allah nggak membiarkan Ira pergi begitu saja kan. Itu buktinya Allah masih sayang sama Ira. Semoga semua kejadiaan ini juga dapat menjadi pelajaran bagi diri Ira sendiri.