Aliran-aliran dalam Konsep Ketuhanan - Makalah Filsafat Agama
By: Fatimah
egindo.co
A. PENDAHULUAN
Aliran mengenai konsep keTuhanan berbeda dengan
perkembangan konsep kepercayaan kepada Tuhan. Kalau perkembangan konsep
keTuhanan lebih menekankan pada aspek sejarah dan perubahan yang terjadi dari
satu fase ke fase berikutnya, sedangkan dalam aliran tentang konsep keTuhanan
tidak dilihat dari aspek sejarah, tetapi hubungan Tuhan dengan dunia dan
makhluk-makhluk-Nya, seperti apakah Tuhan jauh atau dekat dari alam? Dan apakah
Tuhan setelah menciptakan alam selalu menjaga dan mengaturnya?
B. PEMBAHASAN
1. Teisme
Teisme berpendapat bahwa alam diciptakan
oleh Tuhan yang Maha Sempurna, sehingga antara Tuhan dan makhluk sangat berbeda. Menurut teisme, Tuhan berada di alam (immanent) dan Dia juga jauh dari alam (transcenden). Ciri lain dari teisme
menegaskan bahwa Tuhan setelah menciptakan alam, tetap aktif dan memelihara
alam. Karena itu, teisme meyakini kebenaran mukjizat kendati menyalahi hukum
alam, begitu juga do’a seseorang akan didengar dan dikabulkan Tuhan karena Dia
Maha Mendengar. Agama-agama besar pada dasarnya menganut paham deisme, seperti
Yahudi, Kristen dan Islam.
Teisme juga bisa dibedakan dalam hal kepercayaan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam. Sebagian besar penganut teisme percaya bahwa materi alam adalah nyata, sedangkan yang lain mengatakan tidak nyata, itu hanya eksis dalam pikiran dan idea. Kebanyakan mereka yakin bahwa Tuhan tidak berubah, tetapi sebagian ada yang terpengaruh oleh panteisme, sehingga mengatakan bahwa Tuhan berubah dalam beberapa hal. Perbedaan yang cukup menonjoldalam teisme adalah antara agama Yahudi dan Islam, Tuhan adalah zat yang Esa, sedangkan dalam kristen yakin bahwa Tuhan adalah tiga pribadi (trinitas).[1]
Teisme juga bisa dibedakan dalam hal kepercayaan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam. Sebagian besar penganut teisme percaya bahwa materi alam adalah nyata, sedangkan yang lain mengatakan tidak nyata, itu hanya eksis dalam pikiran dan idea. Kebanyakan mereka yakin bahwa Tuhan tidak berubah, tetapi sebagian ada yang terpengaruh oleh panteisme, sehingga mengatakan bahwa Tuhan berubah dalam beberapa hal. Perbedaan yang cukup menonjoldalam teisme adalah antara agama Yahudi dan Islam, Tuhan adalah zat yang Esa, sedangkan dalam kristen yakin bahwa Tuhan adalah tiga pribadi (trinitas).[1]
Dalam agama
Islam kejelasan Tuhan adalah Esa, sekaligus transendent dan immanent dijelaskan dalam beberapa ayat
Alqur’an. Diantaranya :
Surat
112 : 1
Surat
al-A’raf : 54
Surat Qaf : 16
Surat Qaf : 16
Lebih lanjut
Konsep teisme dalam Islam dijelaskan oleh al-Gazali. Menurutnya, Allah adalah
Zat yang Maha Esa dan pencipta alam serta berperan aktif dalam mengendalikan
alam. Allah menciptakan alam dari tidak ada. Karena itu mukjizat menurut
al-Gazali adalah suatu peristiwa yang wajar karena Tuhan bisa mengubah hukum
alam yang dianggap tidak bisa berubah menjadi berubah. Menurut al-Gazali,
karena maha kuasa dan berkehendak mutlak, Tuhan mampu mengubah segala
ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak mutlak-Nya.
Tokoh kristen yang pertama mengemukakan
gagasan teisme adalah St. Augustinus. Menurutnya, Tuhan ada dengan sendirinya,
tidak diciptakan, tidak berubah, abadi, bersifat personal, dan Maha Sempurna. Tuhan adalah kekuatan yang
personal, yang terdiri atas tiga person, yaitu Bapak, anak, dan Roh Kudus.
Menurutnya Tuhan menciptakan alam, jauh dari alam, diluar dimensi waktu, tetapi
dia mengendalikan setiap kejadian dalam alam. Karena itu, menurut Augustinus,
mukjizat adalah benar-benar ada karena Tuhan selalu mengatur ciptaan-Nya.
Filosof Yahudi yang berpaham teisme adalah Ibn Maimun atau
Maimonides. Menurutnya, Tuhan meliputi semua posisi yang penting, tidak
berjasad dan tidak berpotensi, dn tidak menyerupai makhluk. Singkatnya ketika
seorang berbicara tentang Tuhan dia hanya bisa menggunakan sifat-sifat yang
negatif. Dalam hal ini, menurut Ibn Maimun adalah transenden. Apakah hal ini
berarti Tuhan tidak memeperhatikan keadaan makhluknya? Apakah do’a tidak
dikabulkannya? Ibn Maimun menjawabbahwa Tuhan memperhatian nasib makhluk-Nya
dan mendengar do’a kita.
Bukti Tuhan memperhatikan nasib
makhluknya, menurut Ibn Maimun, Dia memberikan nikmat kepada mkhluk
bertingkat-tingkat. Semakin penting sesuatu itu untuk kebutuhan hidup, semakin
mudah dan murah diperolehnya. Sebaliknya, semakin tidak dibutuhkan, hal itu
semakin jarang dan mahal.
Kontribusi
positif yang terdapat dalam teisme, yaitu :
1. Sebagian pemikir mengakui adanya
suatu realitas tertinggi yang perlu dianut.
2. Dalam kehidupan yang selalu burubah,
teisme menawarkan suatu landasan yang kokoh, teisme menegakkan standar moral
yang universal untuk semua manusia, bahkan untuk semua ras.
3. Sebagian besar aliran pandangan
menempatkan manusia dalam posisi tertinggi. Teisme meletakkan suatu dasar yang
kokoh dalam menghargai manusia, dengan prinsip bahwa manusia adalah ciptaan
Tuhan dan sekaligus wakilnya di muka bumi.
4. Para penganut nihilisme yang
menyimpulkan bahwa hidup adalah sesuatu yang tidak bernilai, dalam hal ini
teisme menawarkan suatu tujuan tertinggi bagi kehidupan. Teisme mempertegas
keberadaan manusia di dunia, dari mana, sedang ke mana, dan mau ke mana. Maka
dari itu teisme menawarkan kehidupan yang abadi setelah mati.[2]
Theisme berpendapat Tuhan selain
Immanent juga transenden. Menurut penulis sebagaimana yang telah dipaparkan diatas bahwa yang dimaksud
immanentnya Tuhan (Tuhan berada di alam) yaitu Tuhan berada di dalam struktur
alam semesta serta turut serta ambil bagian dalam proses-proses dalam kehidupan
manusia. Dia selalu memperhatikan alam sebagaimana bukti sayangnya pada semua
makhluk ciptaan-Ny. Tuhan sangat dekat dengan orang yang dekat kepada-Nya.
Berbeda dengan transenden bahwa Tuhan jauh dari alam. Tuhan jauh dari alam
maksudnya disini bukan jaraknya yang jauh, tetapi Tuhan jauh berbeda dengan
semua ciptaannya. Tuhan tidak sama dengan alam atau tidak seperti alam. Dia
tiada tandingnya dengan ciptaan-Nya.
2. Deisme
Kata Deisme
berasal dari bahasa Latin deus yang
berarti Tuhan. Dari akar ini kemudian menjadi dewa, bahkan kata Tuhan sendiri
masih berasal dari kata deus. Menurut paham deisme, Tuhan berada jauh di luar
alam. Tuhan menciptakan alam dan sesudah alam yang diciptakan-Nya, ia tidak
memperhatikan dan memelihara alam lagi. Alam berjalan sesuai
dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan ketika proses penciptaan.
Peraturan-peeraturan tersebut tidak berubah-ubah dan sangat sempurna. Dalam
paham deisme, Tuhan diibaratkan dengan tukang jam yang sangat ahli, sehingga
setelah jam itu selesai tidak membutuhkan pembuatnya lagi.
Alam dalam paham deisme bagaikan jam. Setelah diciptakan,
alam tidak lgi butuh Tuhan dan alam berjalan berdasarkan mekanisme yang telah
diatur oleh Tuhan. Karena alam berjalan sesuai dengan mekanisme tertentu yang
tidak berubah-ubah, maka dalam deisme tidak terdapat paham mukjizat-kejadian
yang bertentangan dengan hukum alam. Begitu juga wahyu dan do’a dalam deisme
tidak diperlukan lagi. Tuhan telah memberikan akal kepada manusia, sehingga ia
mampu mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk, mana yang benar dan mana
yang salah. Jadi menurut deisme manusia dengan akalnya mampu mengurus kehudupan
dunia. [3]
Deisme membuka jalan untuk kemudian
“mencoret” Tuhan sama sekali. Kalau Tuhan diperlukan pada permulaan dan
kemudian dapat dilupakan, maka pada akhirnya Tuhan juga akan dianggap tidak
perlu dipermulaan. Alam dianggap sebagai kenyataan yang ada, kita tidak tahu
kenapa. Jadi deisme tepat
dianggap sebagai langkah pertama menuju ateisme.[4]
Pandangan
beberapa filsuf tentang Deisme diantaranya adalah
1.
Hebert dari Cherbury, pendiri deisme, tidak menolak baik
wahyu kodrati (yang dekat dengan intuisi) maupun wahyu pribadi yang berkaitan
dengan cara hidup.
2. Matthew
Tindal menyamakan kekristenan dengan agama natural (alamiah). Ia menamakan
dirinya seorang deis kristen.
3. William
Wollaston menyamakan agama natural dengan akal. Menurutnya, mengikuti alam
berarti mengikuti Allah.
4. Jhon
Toland menandaskan kemasuk akalan kekristenan. Baginya kebenaran merupakan
satu-satunya ortodoksinya.
5. Thomas
Woolston menganjurkan penafsiran secara alegoris atas agama dan melawan baik
nubuat maupun mukjizat.[5]
Deisme mulai muncul pada abad ke 17,
yang dipelopori oleh Newton (1642-1727). Menurutnya, Tuhan hanya penciptaan
alam dan jika terjadi kerusakan, alam tidak membutuhkan Tuhan untuk
memperbaikinya karena alam sudah memiliki mekanisme sendiri unntuk menjaga
keseimbangan. Kemudian dengan kemajuan ilmu pengetahuan, sebagian ilmuan
semakin meyakini kebenaran dan keuniversalan hukum-hukum fisika yang tidak
berubah. Akibatnya ahli fisika beranggapan bahwa perlunya Tuhan bagi alam yang
dapat beredar dengan semakin kecil.
Para penganut
deisme sepakat bahwa Tuhan Esa dan jauh dari alam, serta maha sempurna. Mereka
juga sepakat bahwa Tuhan tidak melakukan intervensi pada alam lewat kekuatan
supranatural. Namun tidak semua pengikut deisme setuju tentang keterlibatan
tuhan dalam alam dan kehidupan setelah mati. Atas dasar tersebut deisme dapat
dibagi menjadi empat tipe, yaitu:
1. Tuhan tidak terlibat dengan
pengaturan alam
2. Tuhan terlibat dengan
kejadian-kejadian yang sedang berlangsung di alam
3. Tuhan mengatur alam dan sekaligus
memperhatikan perbuatan moral manusia
4. Tuhan mengatur alam dan mengharapkan
manusia mematuhi hukum moral yang berasal dari alam.
Salah
satu tokoh deisme adalah Thomas Paine, ia berpendapat bahwa di percaya Tuhan
Esa, maha kuasa, maha tahu, tidak terbatas, dan maha sempurna. Namun, dia
menegaskan bahwa satu-satunya cara mengungkapkan Tuhan hanyalah akal. Dia
menolak pengetahuan tentang Tuhan yang berasal dari wahyu. Paine berpendapat
bahwa wahyu Tuhan yang serbenarnya adalah manusia yang sudah dilengkapi dengan
akal.
Paine
menegaskan bahwa wahyu mustahil diturunkan karena keterbatasan manusia untuk
menangkap kandungannya. Menurut dia wahyu Tuhan tidak berubah dan universal,
sedangkan bahasa manusia tidak universal dan berubah. Karena itu menurutnya
manusia tidak memiliki sarana untuk berkomunikasi dengan yang tidak berubah
itu.
Peine
menolak dengan tegas berbagai kelompok agama yang mengaku pernah menerima wahyu,
baik secara tertulis maupun secara lisan. Ia beranggapan bahwa semua
kepercayaan semacam itu tidak lain hanyalah penemuan manusia, yang dirancang
untuk memperbudak orang lain, memonopoli kekuasaan, dan mencari keuntungan. Ia
memberi contoh yaitu agama “wahyu” Kristen yang memperaktekan hal
tersebut. Paine berargumen,”dari semua sistem agama yang pernah ditemukan tidak
ada yang lebih merendahkan derajat tuhan, tidak bermanfaat bagi manusia,
menentang akal, dan pertentangan dalam dirinya dari pada agama Kristen.
Menurutnya agama Kristen sangat mustahil untuk dipercaya, dianut karena tidak
konsisten dalam praktek, sehingga membuat perasaan tidak tentram, bahkan bisa
menjadi ateis dan fanatik.
Aspek
positif dari aliran ini adalah peranan akal ditonjolkan untuk memahami
masalah-masalah agama secara lebih kritis. Contohnya tentang fungsi akal dalam
membedakan mana mukjizat yang sebenarnya dan mana mukjizat yang palsu, aspek
positif yang lain adalah sebagian agama menyimpang dari ajaran pokoknya karena
masuknya unsur-unsur budaya lokal dan takhayul, serangan deisme terhadap
keyakinan itu sedikit banyak bisa membantu penganut agama untuk mengevaluasi
kepercayaannya agar terhindar dari keteklidan dan kejumudan. Namun demikian aliran ini juga
tidak luput dari kritikan dan kelemahan, kritikan dan kelamahan deisme, antar
lain:
1. Deisme menolak mukjizat, namun
mereka mengakui bahwa Tuhan yang menciptakan alam
2. Sebagian penganut deisme meyakini
keuniversalan dan kemutlakan hukum-hukum alam
3. Jika Tuhan menciptakan alam tentu
bertujuan untuk kebaikan makhluk-Nya
4. Jika wahyu adalah sesuatu yang
mungkin terjadi, seseorang tidak mungkin menolak wahyu tanpa melakukan
pembuktian terlebih dahulu.[6]
Menurut hemat penulis sebagaimana paham
Deisme, Tuhan berada jauh di luar alam (Transenden) maksudnya yaitu Tuhan
sangat berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya. Tuhan maha tahu dan tiada yang
menandinginya. Tuhan berbeda dengan makhluk-Nya. Tuhan persis tau apa yang
terjadi. Dalam hal ini deisme memposisikan Tuhan yang maha sempurna. Kata jauh
juga menunjukkan bahwa Tuhan maha segala maha. Dia sudah tahu segala-galanya.
3. Panteisme
Panteisme terdiri atas tiga kata, yaitu pan berarti
seluruh, theo berarti Tuhan, dan ism (isme), berarti paham. Jadi, pantheism
atau panteisme adalah paham bahwa seluruhnya Tuhan. Mereka berpendapat bahwa
seluruh alam ini adalah Tuhan dan tuhan adalah seluruh alam. Sedangkan
benda-benda yang dapat ditangkap oleh panca indra adalah bagian dari Tuhan.
Tuhan, dalam pandangan panteisme sangat dekat dengan alam (imanen). Hal ini
bertolak belakang dengan deisme.
Karena seluruh kosmo ini satu, maka Tuhan dalam panteisme
juga satu, hanya tuhan mempunyai penampakan-penampakan atau cara berada Tuhan
di alam. Tuhan dalam panteisme disamping Esa juga maha besar, dan tidak
berubah. Alam indrawi adalah ilusi atau khayalan belaka karena selalu berubah.
Adapun, yang wujud hakiki hanya satu, yakni Tuhan.[7]
Dalam Islam paham ini dikenal dengan nama wahdat al-wujud
(kesatuan wujud) yang dikemukakan oleh Ibn al-‘Arabi. Namun antara paham wahdat
al-wujud dan panteisme disamping memiliki persamaan keduanya juga memiliki
perbedaan. Dalam panteisme alam adalah Tuhan dan Tuhan adalah alam, sedangkan
dalam wahdat al-wujud alam bukan Tuhan, tetapi bagian dari Tuhan. Karena itu
dalam aliran wahdat al-wujud alam dan Tuhan tidak identik, sedangkan dalam
panteisme identik.[8] Seorang tokoh
panteisme abad ke-3 yang bernama Plotinus mengatakan, alam mengalir dari
tuhan dan berasal dari-Nya. Tuhan tidak terbagi-bagi dan tidak mengandung arti
banyak. Sedangkan filosof modern yang mempelopori panteisme adalah Benedict de
Spinoza. Baginya jagat raya tidak ada yang rahasia karena akal manusia mencakup
segala sesuatu, termasuk Allah, bahkan Allah menjadi objek pemikiran akal yang
terpenting.
Ferkiss
seorang tokoh panteisme modern dalam gagasannya telah memberikan nuansa baru
terhadap panteisme, sehingga dapat dijuluki sebagai pelopor neopanteisme.
Gagasan barunya itu terletak pada penerapan konsep panteisme dalam menghadapi
ancaman kerusakan alam, menurutnya manusia yang merusak alam sama dengan
merusak Tuhan, karena alam identik dengan Tuhan.
Mary Long seorang filosof modern
menambahkan bahwa agama-agama timur bisa memberikan sumbangan pikiran tentang
kelestarian alam, yaitu dengan menyatukan antara ilmu dan agama. Seperti
perkataan dia, “panteisme dan penemuan ilmiah bisa sejalan secara harmonis
dengan agama”.
Panteime
Timur (Misalnya dalam Hinduisme) berbeda dengan panteisme Barat, karena
panteisme Timur tidak mengatakan bahwa segala sesuatu adalah Tuhan, tapi segala
sesuatu ada di dalam Tuhan. Ini berarti bahwa Tuhan dan makhluk-makhluk ciptaan
disatukan seperti badan dan jiwa dalam diri manusia, meskipun ciptaan
bergantung dan beerbeda dengan Tuhan.[9]
Mukjizat bagi panteisme mustahil terjadi karena semua adalah Tuhan dan Tuhan adalah semua. Kalau mukjizat diartikan sebagai peristiwa yang menyalahi hukum alam, maka hal itu tidak berlaku bagi panteisme sebab Tuhan identik dengan alam.
Mukjizat bagi panteisme mustahil terjadi karena semua adalah Tuhan dan Tuhan adalah semua. Kalau mukjizat diartikan sebagai peristiwa yang menyalahi hukum alam, maka hal itu tidak berlaku bagi panteisme sebab Tuhan identik dengan alam.
Kelebihan panteisme, antara lain:
1. Panteisme
diakui menymbangkan sesuatu pemikiran yang holistik tentang sesuatu.
2. Panteisme
menekankan tentang imanensi tuhan, sehingga seseorang selalu sadar bahwa Tuhan
selalu dekat dengan dirinya.
3. Panteisme
mengungkapkan bahwa seseorang tidak mampu memberi batasan terhadap tuhan dengan
bahasa manusia yang terbatas.
Kekurangan panteisme, antara lain:
1. Menurut panteisme radikal, manusia
adalah Tuhan, sedangkan Tuhan dalam pandangan ini tidak berubah dan abadi.
Kenyataannya manusia berubah dan tidak abadi.
2. Panteisme mengatakan bahwa alam ini
adalah maya bukan yang hakiki.
3. Jika Tuhan adalah alam dan alam
adalah Tuhan, mak tidak ada konsep kejahatan atau tidak ada kemutlakan
kejahatan dan kebaikan
Kritik terhadap panteisme ini
berasal dari para tokoh agama, kritikan tersebut dikarenakan panteisme tidak
memperhatikan moral dan mukjizat. Sedangkan dalam agama Islam, Kristen, dan
Yahudi kedudukan moral sangat penting sebab moral itulah yang menentukan nasib
manusia di akhirat nanti. Tanpa ada kejelasan antara baik dan buruk, maka
akhirat tidak ada artinya. Dan kalau akhirat tidak berarti tentu tujuan hidup
orang-orang beragama sama dengan kaum materialistis.[10]
4. Panenteisme
Dalam bahasa Inggris panenteisme
yaitu panentheism, dari Yunani pan dan theos yang berarti “semua dalam Allah”. Panenteisme adalah
pandangan bahwa seluruh ralitas merupakan bagian dari keberadaan Allah, berbeda
dari Panteisme yang menyamakan Allah dengan seluruh realitas.
Istilah ini dipakai
pertama kali oleh Krause untuk menyebut pandangannya bahwa dunia adalah ciptaan
yang terbatas di dalam keberadaan Allah yang tak terbatas, dan bahwa seluruh
alam merupakan suatu organisme ilahi yang terkonstitusi sedemikian rupa,
sehingga organisme yang lebih tinggi berunsurkan organisme yang lebih rendah.
Hubungan-hubungan organik semacam itu merupakan ciri khas kosmologi kaum
Panenteisme.[11]
Dari
segi nama panenteisme terlihat mirip dengan panteisme, namun pada kenyataannya
keduanya berbeda dalam pandangan tentang Tuhan. Panteisme
berarti semua adalah Tuhan, tetapi dalam panenteisme berarti semua dalam Tuhan.
Dalam kelompok panenteisme mereka
lebih menekankan Tuhan pada aspek terbatas, berubah, mengatur alam, dan bekerja
sama dengan alam untuk mencapai kesempurnaan ketimbang memandang tuhan sebagai
zat yang tidak terbatas, menguasai alam, dan tidak berubah. Namun pada
dasarnya, panenteisme setuju bahwa Tuhan terdiri atas dua kutub. Kutub potensi
adalah Tuhan yang abadi, tidak berubah, dan transenden, sedangkan kutub aktual
adalah Tuhan yang berubah, tidak abadi, dan imanen.
Menurut
Whitehead salah seorang pelopor panenteisme, ia mengklasifikasikan Tuhan dalam
tiga konsep, yaitu:
1. Konsepasiatimur tentang tatanan yang
impersonal yang sejalan dengan alam.
2. Konsep semit tentang suatu zat yang
personal yang eksistensinya adalah realitas metafisik yang tertinggi, absolut,
dan mengatur alam.
3. Konsep panteistik yang sudah
tergambar dlam konsep semit. Namun berbeda dalam memandang alam.
Beberapa
sumbangan pemikiran panenteisme yang bisa diambil, antara lain:
1. Parapenganut panenteisme dianggap
berjasa dalam memahami realitas secara utuh.
2. Panenteisme berhasilkan menjelaskan
hubungan Tuhan dan alam secara mendalam tanpa menghancurkan salah satunya.
3. Panenteisme mengakui teori-teori
baru dalam ilmu teknologi karena hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip
dasar mereka.
Kritikan yang di tujukan kepada
panenteisme, antara lain:
1. Ide tentang satu Tuhan yang
sekaligus terbatasdan tidak terbatas, mungkin dan tidak mungkin, absolut dan
relatif adalah suatu kerancuan tersendiri.
2. Ide tentang Tuhan sebagai wujud yang
disebabkan oleh diri sendiri menimbulkan problem.
3. Sulit dimengerti bagaimana segala
sesuatu yang relatif dan selalu berubah, bisa diketahui kebenarannya.
4. Parapen dukung
panenteisme dihadapkan pada suatu dilema. Mereka meyakini Tuhan meliputi semua
jagat raya dalam waktu yang sama. Namun, mereka jug meyakini Tuhan terbatas
dalam ruang dan waktu.[12]
C.
KESIMPULAN
Dari
semua pandangan tentang teisme, deisme, panteisme, dan panenteisme,
tidak dapat memuaskan para filosof, dan ketidakpuasan mereka atas berbagai
pandangan diatas adalah wajar karena hal itu adalah pernainan logika dan
katagori-katagori akal. Lagi pula ruang metafisika terbuka untuk mengadakan
spekulasi sebanyak mungkin dan sedalam- dalamnya. Karena itu, menurut penganut
agama penjelasan yang sangat memuaskan tentang Tuhan bukan berasal dari akal,
tetapi dari wahyu. Wahyulah yang mendatangkan ketenangan dan sekaligus
kejelasan tentang Tuhan. Akal hanya sebagai alat bantu untuk memahami wahyu
tersebut, bukan sebagai sumber utama.
1. Teisme
Theisme
berpendapat Tuhan selain Immanent juga transenden. Menurut penulis sebagaimana
yang telah dipaparkan diatas bahwa yang
dimaksud immanentnya Tuhan (Tuhan berada di alam) yaitu Tuhan berada di dalam
struktur alam semesta serta turut serta ambil bagian dalam proses-proses dalam
kehidupan manusia. Berbeda dengan transenden bahwa Tuhan jauh dari alam. Tuhan
jauh dari alam maksudnya disini bukan jaraknya yang jauh, tetapi Tuhan jauh
berbeda dengan semua ciptaannya. Tuhan tidak sama dengan alam atau tidak seperti alam. Dia
tiada tandingnya dengan ciptaan-Nya.
2. Deisme
Menurut paham Deisme, Tuhan berada
jauh di luar alam (Transenden) maksudnya yaitu Tuhan sangat berbeda dengan
makhluk ciptaan-Nya. Tuhan maha tahu dan tiada yang menandinginya. Tuhan
berbeda dengan makhluk-Nya. Tuhan persis tau apa yang terjadi. Dalam hal ini
deisme memposisikan Tuhan yang maha sempurna. Kata jauh juga menunjukkan bahwa
Tuhan maha segala maha. Dia sudah tahu segala-galanya.
3. Panteisme
Dalam Islam paham Panteisme dikenal dengan nama
wahdat al-wujud (kesatuan wujud) yang dikemukakan oleh Ibn al-‘Arabi. Namun
antara paham wahdat al-wujud dan panteisme disamping memiliki persamaan
keduanya juga memiliki perbedaan. Dalam panteisme alam adalah Tuhan dan Tuhan
adalah alam, sedangkan dalam wahdat al-wujud alam bukan Tuhan, tetapi bagian
dari Tuhan. Karena itu dalam aliran wahdat al-wujud alam dan Tuhan tidak
identik, sedangkan dalam panteisme identik.
4. Panenteime
Dari segi
nama panenteisme terlihat mirip dengan panteisme, namun pada kenyataannya keduanya berbeda dalam pandangan tentang
Tuhan. Panteisme berarti semua adalah Tuhan, tetapi dalam
panenteisme berarti semua dalam Tuhan.
[1] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (Jakarta : Rajawali
Perss , 2009), h. 81.
[2] Ibid, Amsal Bakhtiar, h. 84-86.
[3] Ibid, Amsal Bkhtiar, h. 89.
[4] Franz Magnis-Suseno, Menalar
Tuhan, (Yigyakarta : Kansius, 2006), h. 54.
[5] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama, 1996), h. 153.
[6] Op. Cit, Amsal Bkhtiar, h. 90-93
[7] Ibid, Amsal Bkhtiar, h. 94.
[8]
http://jumhurul-umami.blogspot.com/2009/02/aliran-aliran-dalam-konsep-ketuhanan.html/29
Maret2014/13.50
[9] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta :
Kansius, 1995), h. 141.
[10] Op. Cit, Amsal Bkhtiar, h. 95-96.
[12] Op. Cit, Amsal Bakhtiar, h. 101-102.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Bagus, Lorens. Kamus
Filsafat. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. 1996.
Bakhtiar, Amsal. Filsafat Agama.
Jakarta : Rajawali Perss. 2009.
Dhavamony, Mariasusai. Fenomenologi Agama. Yogyakarta : Kansius.
1995.
Suseno, Franz Magnis. Menalar
Tuhan. Yigyakarta : Kansius. 2006.
Comments
Post a Comment