Aliran-aliran dalam Konsep Ketuhanan - Makalah Filsafat Agama

By: Fatimah


egindo.co

  A.   PENDAHULUAN

Aliran mengenai konsep keTuhanan berbeda dengan perkembangan konsep kepercayaan kepada Tuhan. Kalau perkembangan konsep keTuhanan lebih menekankan pada aspek sejarah dan perubahan yang terjadi dari satu fase ke fase berikutnya, sedangkan dalam aliran tentang konsep keTuhanan tidak dilihat dari aspek sejarah, tetapi hubungan Tuhan dengan dunia dan makhluk-makhluk-Nya, seperti apakah Tuhan jauh atau dekat dari alam? Dan apakah Tuhan setelah menciptakan alam selalu menjaga dan mengaturnya?

  B.      PEMBAHASAN
1.      Teisme                                                                                                      
Teisme berpendapat bahwa alam diciptakan oleh Tuhan yang Maha Sempurna, sehingga antara Tuhan dan makhluk sangat  berbeda. Menurut teisme, Tuhan berada di alam (immanent) dan Dia juga jauh dari alam (transcenden). Ciri lain dari teisme menegaskan bahwa Tuhan setelah menciptakan alam, tetap aktif dan memelihara alam. Karena itu, teisme meyakini kebenaran mukjizat kendati menyalahi hukum alam, begitu juga do’a seseorang akan didengar dan dikabulkan Tuhan karena Dia Maha Mendengar. Agama-agama besar pada dasarnya menganut paham deisme, seperti Yahudi, Kristen dan Islam.
Teisme juga bisa dibedakan dalam hal kepercayaan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam. Sebagian besar penganut teisme percaya bahwa materi alam adalah nyata, sedangkan yang lain mengatakan tidak nyata, itu hanya eksis dalam  pikiran dan idea. Kebanyakan mereka yakin bahwa Tuhan tidak berubah, tetapi sebagian ada yang terpengaruh oleh panteisme, sehingga mengatakan bahwa Tuhan berubah dalam beberapa hal. Perbedaan yang cukup menonjoldalam teisme adalah antara agama Yahudi dan Islam, Tuhan adalah zat yang Esa, sedangkan dalam kristen yakin bahwa Tuhan adalah tiga pribadi (trinitas).[1]
Dalam agama Islam kejelasan Tuhan adalah Esa, sekaligus transendent  dan immanent dijelaskan dalam beberapa ayat Alqur’an. Diantaranya :
            Surat 112 : 1                                                                                                                            
            Surat al-A’raf : 54 
            Surat Qaf : 16
Lebih lanjut Konsep teisme dalam Islam dijelaskan oleh al-Gazali. Menurutnya, Allah adalah Zat yang Maha Esa dan pencipta alam serta berperan aktif dalam mengendalikan alam. Allah menciptakan alam dari tidak ada. Karena itu mukjizat menurut al-Gazali adalah suatu peristiwa yang wajar karena Tuhan bisa mengubah hukum alam yang dianggap tidak bisa berubah menjadi berubah. Menurut al-Gazali, karena maha kuasa dan berkehendak mutlak, Tuhan mampu mengubah segala ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak mutlak-Nya.                                       
Tokoh kristen yang pertama mengemukakan gagasan teisme adalah St. Augustinus. Menurutnya, Tuhan ada dengan sendirinya, tidak diciptakan, tidak berubah, abadi, bersifat personal,  dan Maha Sempurna. Tuhan adalah kekuatan yang personal, yang terdiri atas tiga person, yaitu Bapak, anak, dan Roh Kudus. Menurutnya Tuhan menciptakan alam, jauh dari alam, diluar dimensi waktu, tetapi dia mengendalikan setiap kejadian dalam alam. Karena itu, menurut Augustinus, mukjizat adalah benar-benar ada karena Tuhan selalu mengatur ciptaan-Nya.                       
Filosof Yahudi  yang berpaham teisme adalah Ibn Maimun atau Maimonides. Menurutnya, Tuhan meliputi semua posisi yang penting, tidak berjasad dan tidak berpotensi, dn tidak menyerupai makhluk. Singkatnya ketika seorang berbicara tentang Tuhan dia hanya bisa menggunakan sifat-sifat yang negatif. Dalam hal ini, menurut Ibn Maimun adalah transenden. Apakah hal ini berarti Tuhan tidak memeperhatikan keadaan makhluknya? Apakah do’a tidak dikabulkannya? Ibn Maimun menjawabbahwa Tuhan memperhatian nasib makhluk-Nya dan mendengar do’a kita.                                                                                                                       
Bukti Tuhan memperhatikan nasib makhluknya, menurut Ibn Maimun, Dia memberikan nikmat kepada mkhluk bertingkat-tingkat. Semakin penting sesuatu itu untuk kebutuhan hidup, semakin mudah dan murah diperolehnya. Sebaliknya, semakin tidak dibutuhkan, hal itu semakin jarang dan mahal.
Kontribusi positif yang terdapat dalam teisme, yaitu :
1.      Sebagian pemikir mengakui adanya suatu realitas tertinggi yang perlu dianut.
2.      Dalam kehidupan yang selalu burubah, teisme menawarkan suatu landasan yang kokoh, teisme menegakkan standar moral yang universal untuk semua manusia, bahkan untuk semua ras.
3.      Sebagian besar aliran pandangan menempatkan manusia dalam posisi tertinggi. Teisme meletakkan suatu dasar yang kokoh dalam menghargai manusia, dengan prinsip bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan dan sekaligus wakilnya di muka bumi.
4.      Para penganut nihilisme yang menyimpulkan bahwa hidup adalah sesuatu yang tidak bernilai, dalam hal ini teisme menawarkan suatu tujuan tertinggi bagi kehidupan. Teisme mempertegas keberadaan manusia di dunia, dari mana, sedang ke mana, dan mau ke mana. Maka dari itu teisme menawarkan kehidupan yang abadi setelah mati.[2]   
                                   
Theisme berpendapat Tuhan selain Immanent juga transenden. Menurut penulis sebagaimana yang  telah dipaparkan diatas bahwa yang dimaksud immanentnya Tuhan (Tuhan berada di alam) yaitu Tuhan berada di dalam struktur alam semesta serta turut serta ambil bagian dalam proses-proses dalam kehidupan manusia. Dia selalu memperhatikan alam sebagaimana bukti sayangnya pada semua makhluk ciptaan-Ny. Tuhan sangat dekat dengan orang yang dekat kepada-Nya. Berbeda dengan transenden bahwa Tuhan jauh dari alam. Tuhan jauh dari alam maksudnya disini bukan jaraknya yang jauh, tetapi Tuhan jauh berbeda dengan semua ciptaannya. Tuhan tidak sama dengan alam atau tidak seperti alam. Dia tiada tandingnya dengan ciptaan-Nya.

2.      Deisme
Kata Deisme berasal dari bahasa Latin deus yang berarti Tuhan. Dari akar ini kemudian menjadi dewa, bahkan kata Tuhan sendiri masih berasal dari kata deus. Menurut paham deisme, Tuhan berada jauh di luar alam. Tuhan menciptakan alam dan sesudah alam yang diciptakan-Nya, ia tidak memperhatikan dan memelihara alam lagi. Alam berjalan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan ketika proses penciptaan. Peraturan-peeraturan tersebut tidak berubah-ubah dan sangat sempurna. Dalam paham deisme, Tuhan diibaratkan dengan tukang jam yang sangat ahli, sehingga setelah jam itu selesai tidak membutuhkan pembuatnya lagi.                                 
Alam dalam paham deisme bagaikan jam. Setelah diciptakan, alam tidak lgi butuh Tuhan dan alam berjalan berdasarkan mekanisme yang telah diatur oleh Tuhan. Karena alam berjalan sesuai dengan mekanisme tertentu yang tidak berubah-ubah, maka dalam deisme tidak terdapat paham mukjizat-kejadian yang bertentangan dengan hukum alam. Begitu juga wahyu dan do’a dalam deisme tidak diperlukan lagi. Tuhan telah memberikan akal kepada manusia, sehingga ia mampu mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Jadi menurut deisme manusia dengan akalnya mampu mengurus kehudupan dunia. [3]                      
Deisme membuka jalan untuk kemudian “mencoret” Tuhan sama sekali. Kalau Tuhan diperlukan pada permulaan dan kemudian dapat dilupakan, maka pada akhirnya Tuhan juga akan dianggap tidak perlu dipermulaan. Alam dianggap sebagai kenyataan yang ada, kita tidak tahu kenapa. Jadi deisme tepat dianggap sebagai langkah pertama menuju ateisme.[4]                                                                                         
Pandangan beberapa filsuf tentang Deisme diantaranya adalah               
1.      Hebert dari Cherbury, pendiri deisme, tidak menolak baik wahyu kodrati (yang dekat dengan intuisi) maupun wahyu pribadi yang berkaitan dengan cara hidup.
2.      Matthew Tindal menyamakan kekristenan dengan agama natural (alamiah). Ia menamakan dirinya seorang deis kristen.
3.      William Wollaston menyamakan agama natural dengan akal. Menurutnya, mengikuti alam berarti mengikuti Allah.
4.      Jhon Toland menandaskan kemasuk akalan kekristenan. Baginya kebenaran merupakan satu-satunya ortodoksinya.
5.      Thomas Woolston menganjurkan penafsiran secara alegoris atas agama dan melawan baik nubuat maupun mukjizat.[5]

Deisme mulai muncul pada abad ke 17, yang dipelopori oleh Newton (1642-1727). Menurutnya, Tuhan hanya penciptaan alam dan jika terjadi kerusakan, alam tidak membutuhkan Tuhan untuk memperbaikinya karena alam sudah memiliki mekanisme sendiri unntuk menjaga keseimbangan. Kemudian dengan kemajuan ilmu pengetahuan, sebagian ilmuan semakin meyakini kebenaran dan keuniversalan hukum-hukum fisika yang tidak berubah. Akibatnya ahli fisika beranggapan bahwa perlunya Tuhan bagi alam yang dapat beredar dengan semakin kecil.                          
Para penganut deisme sepakat bahwa Tuhan Esa dan jauh dari alam, serta maha sempurna. Mereka juga sepakat bahwa Tuhan tidak melakukan intervensi pada alam lewat kekuatan supranatural. Namun tidak semua pengikut deisme setuju tentang keterlibatan tuhan dalam alam dan kehidupan setelah mati. Atas dasar tersebut deisme dapat dibagi menjadi empat tipe, yaitu:
1.      Tuhan tidak terlibat dengan pengaturan alam
2.      Tuhan terlibat dengan kejadian-kejadian yang sedang berlangsung di alam
3.      Tuhan mengatur alam dan sekaligus memperhatikan perbuatan moral manusia
4.      Tuhan mengatur alam dan mengharapkan manusia mematuhi hukum moral yang berasal dari alam.        
                                                               
Salah satu tokoh deisme adalah Thomas Paine, ia berpendapat bahwa di percaya Tuhan Esa, maha kuasa, maha tahu, tidak terbatas, dan maha sempurna. Namun, dia menegaskan bahwa satu-satunya cara mengungkapkan Tuhan hanyalah akal. Dia menolak pengetahuan tentang Tuhan yang berasal dari wahyu. Paine berpendapat bahwa wahyu Tuhan yang serbenarnya adalah manusia yang sudah dilengkapi dengan akal.                
Paine menegaskan bahwa wahyu mustahil diturunkan karena keterbatasan manusia untuk menangkap kandungannya. Menurut dia wahyu Tuhan tidak berubah dan universal, sedangkan bahasa manusia tidak universal dan berubah. Karena itu menurutnya manusia tidak memiliki sarana untuk berkomunikasi dengan yang tidak berubah itu.                      
Peine menolak dengan tegas berbagai kelompok agama yang mengaku pernah menerima wahyu, baik secara tertulis maupun secara lisan. Ia beranggapan bahwa semua kepercayaan semacam itu tidak lain hanyalah penemuan manusia, yang dirancang untuk memperbudak orang lain, memonopoli kekuasaan, dan mencari keuntungan. Ia memberi contoh yaitu agama “wahyu” Kristen  yang memperaktekan hal tersebut. Paine berargumen,”dari semua sistem agama yang pernah ditemukan tidak ada yang lebih merendahkan derajat tuhan, tidak bermanfaat bagi manusia, menentang akal, dan pertentangan dalam dirinya dari pada agama Kristen. Menurutnya agama Kristen sangat mustahil untuk dipercaya, dianut karena tidak konsisten dalam praktek, sehingga membuat perasaan tidak tentram, bahkan bisa menjadi ateis dan fanatik.                                    
Aspek positif dari aliran ini adalah peranan akal ditonjolkan untuk memahami masalah-masalah agama secara lebih kritis. Contohnya tentang fungsi akal dalam membedakan mana mukjizat yang sebenarnya dan mana mukjizat yang palsu, aspek positif yang lain adalah sebagian agama menyimpang dari ajaran pokoknya karena masuknya unsur-unsur budaya lokal dan takhayul, serangan deisme terhadap keyakinan itu sedikit banyak bisa membantu penganut agama untuk mengevaluasi kepercayaannya agar terhindar dari keteklidan dan kejumudan. Namun demikian aliran ini juga tidak luput dari kritikan dan kelemahan, kritikan dan kelamahan deisme, antar lain:
1.      Deisme menolak mukjizat, namun mereka mengakui bahwa Tuhan yang menciptakan alam
2.      Sebagian penganut deisme meyakini keuniversalan dan kemutlakan hukum-hukum alam
3.      Jika Tuhan menciptakan alam tentu bertujuan untuk kebaikan makhluk-Nya
4.      Jika wahyu adalah sesuatu yang mungkin terjadi, seseorang tidak mungkin menolak wahyu tanpa melakukan pembuktian terlebih dahulu.[6]

Menurut hemat penulis sebagaimana paham Deisme, Tuhan berada jauh di luar alam (Transenden) maksudnya yaitu Tuhan sangat berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya. Tuhan maha tahu dan tiada yang menandinginya. Tuhan berbeda dengan makhluk-Nya. Tuhan persis tau apa yang terjadi. Dalam hal ini deisme memposisikan Tuhan yang maha sempurna. Kata jauh juga menunjukkan bahwa Tuhan maha segala maha. Dia sudah tahu segala-galanya.

3.      Panteisme
Panteisme terdiri atas tiga kata, yaitu pan berarti seluruh, theo berarti Tuhan, dan ism (isme), berarti paham. Jadi, pantheism atau panteisme adalah paham bahwa seluruhnya Tuhan. Mereka berpendapat bahwa seluruh alam ini adalah Tuhan dan tuhan adalah seluruh alam. Sedangkan benda-benda yang dapat ditangkap oleh panca indra adalah bagian dari Tuhan. Tuhan, dalam pandangan panteisme sangat dekat dengan alam (imanen). Hal ini bertolak belakang dengan deisme.
Karena seluruh kosmo ini satu, maka Tuhan dalam panteisme juga satu, hanya tuhan mempunyai penampakan-penampakan atau cara berada Tuhan di alam. Tuhan dalam panteisme disamping Esa juga maha besar, dan tidak berubah. Alam indrawi adalah ilusi atau khayalan belaka karena selalu berubah. Adapun, yang wujud hakiki hanya satu, yakni Tuhan.[7]
Dalam Islam paham ini dikenal dengan nama wahdat al-wujud (kesatuan wujud) yang dikemukakan oleh Ibn al-‘Arabi. Namun antara paham wahdat al-wujud dan panteisme disamping memiliki persamaan keduanya juga memiliki perbedaan. Dalam panteisme alam adalah Tuhan dan Tuhan adalah alam, sedangkan dalam wahdat al-wujud alam bukan Tuhan, tetapi bagian dari Tuhan. Karena itu dalam aliran wahdat al-wujud alam dan Tuhan tidak identik, sedangkan dalam panteisme identik.[8] Seorang tokoh panteisme abad ke-3  yang bernama Plotinus mengatakan, alam mengalir dari tuhan dan berasal dari-Nya. Tuhan tidak terbagi-bagi dan tidak mengandung arti banyak. Sedangkan filosof modern yang mempelopori panteisme adalah Benedict de Spinoza. Baginya jagat raya tidak ada yang rahasia karena akal manusia mencakup segala sesuatu, termasuk Allah, bahkan Allah menjadi objek pemikiran akal yang terpenting.                                                                  
Ferkiss seorang tokoh panteisme modern dalam gagasannya telah memberikan nuansa baru terhadap panteisme, sehingga dapat dijuluki sebagai pelopor neopanteisme. Gagasan barunya itu terletak pada penerapan konsep panteisme dalam menghadapi ancaman kerusakan alam, menurutnya manusia yang merusak alam sama dengan merusak Tuhan, karena alam identik dengan Tuhan.                                                            
Mary Long seorang filosof modern menambahkan bahwa agama-agama timur bisa memberikan sumbangan pikiran tentang kelestarian alam, yaitu dengan menyatukan antara ilmu dan agama. Seperti perkataan dia, “panteisme dan penemuan ilmiah bisa sejalan secara harmonis dengan agama”.                                                                       
Panteime Timur (Misalnya dalam Hinduisme) berbeda dengan panteisme Barat, karena panteisme Timur tidak mengatakan bahwa segala sesuatu adalah Tuhan, tapi segala sesuatu ada di dalam Tuhan. Ini berarti bahwa Tuhan dan makhluk-makhluk ciptaan disatukan seperti badan dan jiwa dalam diri manusia, meskipun ciptaan bergantung dan beerbeda dengan Tuhan.[9]
Mukjizat bagi panteisme mustahil terjadi karena semua adalah Tuhan dan Tuhan adalah semua. Kalau mukjizat diartikan sebagai peristiwa yang menyalahi hukum alam, maka hal itu tidak berlaku bagi panteisme sebab Tuhan identik dengan alam.

Kelebihan panteisme, antara lain:
1.    Panteisme diakui menymbangkan sesuatu pemikiran yang holistik tentang sesuatu.
2.   Panteisme menekankan tentang imanensi tuhan, sehingga seseorang selalu sadar bahwa Tuhan selalu dekat dengan dirinya.
3.  Panteisme mengungkapkan bahwa seseorang tidak mampu memberi batasan terhadap tuhan dengan bahasa manusia yang terbatas.

Kekurangan panteisme, antara lain:
1.  Menurut panteisme radikal, manusia adalah Tuhan, sedangkan Tuhan dalam pandangan ini tidak berubah dan abadi. Kenyataannya manusia berubah dan tidak abadi.
2. Panteisme mengatakan bahwa alam ini adalah maya bukan yang hakiki.
3. Jika Tuhan adalah alam dan alam adalah Tuhan, mak tidak ada konsep kejahatan atau tidak ada kemutlakan kejahatan dan kebaikan

Kritik terhadap panteisme ini berasal dari para tokoh agama, kritikan tersebut dikarenakan panteisme tidak memperhatikan moral dan mukjizat. Sedangkan dalam agama Islam, Kristen, dan Yahudi kedudukan moral sangat penting sebab moral itulah yang menentukan nasib manusia di akhirat nanti. Tanpa ada kejelasan antara baik dan buruk, maka akhirat tidak ada artinya. Dan kalau akhirat tidak berarti tentu tujuan hidup orang-orang beragama sama dengan kaum materialistis.[10]      
                                             
4. Panenteisme
Dalam bahasa Inggris panenteisme yaitu panentheism, dari Yunani pan dan theos yang berarti “semua dalam Allah”. Panenteisme adalah pandangan bahwa seluruh ralitas merupakan bagian dari keberadaan Allah, berbeda dari Panteisme yang menyamakan Allah dengan seluruh realitas.                                                                            
Istilah ini dipakai pertama kali oleh Krause untuk menyebut pandangannya bahwa dunia adalah ciptaan yang terbatas di dalam keberadaan Allah yang tak terbatas, dan bahwa seluruh alam merupakan suatu organisme ilahi yang terkonstitusi sedemikian rupa, sehingga organisme yang lebih tinggi berunsurkan organisme yang lebih rendah. Hubungan-hubungan organik semacam itu merupakan ciri khas kosmologi kaum Panenteisme.[11]                                                                                             
Dari segi nama panenteisme terlihat mirip dengan panteisme, namun pada kenyataannya keduanya berbeda dalam pandangan tentang Tuhan. Panteisme berarti semua adalah Tuhan, tetapi dalam panenteisme berarti semua dalam Tuhan.            
Dalam kelompok panenteisme mereka lebih menekankan Tuhan pada aspek terbatas, berubah, mengatur alam, dan bekerja sama dengan alam untuk mencapai kesempurnaan ketimbang memandang tuhan sebagai zat yang tidak terbatas, menguasai alam, dan tidak berubah. Namun pada dasarnya, panenteisme setuju bahwa Tuhan terdiri atas dua kutub. Kutub potensi adalah Tuhan yang abadi, tidak berubah, dan transenden, sedangkan kutub aktual adalah Tuhan yang berubah, tidak abadi, dan imanen.                                   
Menurut Whitehead salah seorang pelopor panenteisme, ia mengklasifikasikan Tuhan dalam tiga konsep, yaitu:
1. Konsepasiatimur tentang tatanan yang impersonal yang sejalan dengan alam.
2. Konsep semit tentang suatu zat yang personal yang eksistensinya adalah realitas metafisik yang tertinggi, absolut, dan mengatur alam.
3.  Konsep panteistik yang sudah tergambar dlam konsep semit. Namun berbeda dalam memandang alam.

Beberapa sumbangan pemikiran panenteisme yang bisa diambil, antara lain:
1.  Parapenganut panenteisme dianggap berjasa dalam memahami realitas secara utuh.
2. Panenteisme berhasilkan menjelaskan hubungan Tuhan dan alam secara mendalam tanpa menghancurkan salah satunya.
3. Panenteisme mengakui teori-teori baru dalam ilmu teknologi karena hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip dasar mereka.

Kritikan yang di tujukan kepada panenteisme, antara lain:
1. Ide tentang satu Tuhan yang sekaligus terbatasdan tidak terbatas, mungkin dan tidak mungkin, absolut dan relatif adalah suatu kerancuan tersendiri.
2. Ide tentang Tuhan sebagai wujud yang disebabkan oleh diri sendiri menimbulkan problem.
3. Sulit dimengerti bagaimana segala sesuatu yang relatif dan selalu berubah, bisa diketahui kebenarannya.
4. Parapen dukung panenteisme dihadapkan pada suatu dilema. Mereka meyakini Tuhan meliputi semua jagat raya dalam waktu yang sama. Namun, mereka jug meyakini Tuhan terbatas dalam ruang dan waktu.[12]

  C.      KESIMPULAN

Dari semua pandangan tentang teisme, deisme, panteisme, dan panenteisme, tidak dapat memuaskan para filosof, dan ketidakpuasan mereka atas berbagai pandangan diatas adalah wajar karena hal itu adalah pernainan logika dan katagori-katagori akal. Lagi pula ruang metafisika terbuka untuk mengadakan spekulasi sebanyak mungkin dan sedalam- dalamnya. Karena itu, menurut penganut agama penjelasan yang sangat memuaskan tentang Tuhan bukan berasal dari akal, tetapi dari wahyu. Wahyulah yang mendatangkan ketenangan dan sekaligus kejelasan tentang Tuhan. Akal hanya sebagai alat bantu untuk memahami wahyu tersebut, bukan sebagai sumber utama.                                                       
 1. Teisme
Theisme berpendapat Tuhan selain Immanent juga transenden. Menurut penulis sebagaimana yang  telah dipaparkan diatas bahwa yang dimaksud immanentnya Tuhan (Tuhan berada di alam) yaitu Tuhan berada di dalam struktur alam semesta serta turut serta ambil bagian dalam proses-proses dalam kehidupan manusia. Berbeda dengan transenden bahwa Tuhan jauh dari alam. Tuhan jauh dari alam maksudnya disini bukan jaraknya yang jauh, tetapi Tuhan jauh berbeda dengan semua ciptaannya. Tuhan tidak sama dengan alam atau tidak seperti alam. Dia tiada tandingnya dengan ciptaan-Nya.   

 2. Deisme
Menurut paham Deisme, Tuhan berada jauh di luar alam (Transenden) maksudnya yaitu Tuhan sangat berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya. Tuhan maha tahu dan tiada yang menandinginya. Tuhan berbeda dengan makhluk-Nya. Tuhan persis tau apa yang terjadi. Dalam hal ini deisme memposisikan Tuhan yang maha sempurna. Kata jauh juga menunjukkan bahwa Tuhan maha segala maha. Dia sudah tahu segala-galanya.

3. Panteisme
Dalam Islam paham Panteisme dikenal dengan nama wahdat al-wujud (kesatuan wujud) yang dikemukakan oleh Ibn al-‘Arabi. Namun antara paham wahdat al-wujud dan panteisme disamping memiliki persamaan keduanya juga memiliki perbedaan. Dalam panteisme alam adalah Tuhan dan Tuhan adalah alam, sedangkan dalam wahdat al-wujud alam bukan Tuhan, tetapi bagian dari Tuhan. Karena itu dalam aliran wahdat al-wujud alam dan Tuhan tidak identik, sedangkan dalam panteisme identik.    
                                     
 4. Panenteime
Dari segi nama panenteisme terlihat mirip dengan panteisme, namun pada kenyataannya keduanya berbeda dalam pandangan tentang Tuhan. Panteisme berarti semua adalah Tuhan, tetapi dalam panenteisme berarti semua dalam Tuhan.



[1] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (Jakarta : Rajawali Perss , 2009), h. 81.
[2] Ibid, Amsal Bakhtiar, h. 84-86.
[3] Ibid, Amsal Bkhtiar, h. 89.
[4] Franz Magnis-Suseno, Menalar Tuhan, (Yigyakarta : Kansius, 2006), h. 54.
[5] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1996), h. 153.
[6] Op. Cit, Amsal Bkhtiar, h. 90-93
[7] Ibid, Amsal Bkhtiar, h. 94.
[9] Mariasusai  Dhavamony, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta : Kansius, 1995), h. 141.
[10] Op. Cit, Amsal Bkhtiar, h. 95-96.
[11] OP. Cit, Lorens Bagus, h. 770.
[12] Op. Cit, Amsal Bakhtiar, h. 101-102.




DAFTAR KEPUSTAKAAN

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. 1996.
Bakhtiar, Amsal. Filsafat Agama. Jakarta : Rajawali Perss. 2009.
Dhavamony, Mariasusai.  Fenomenologi Agama. Yogyakarta : Kansius. 1995.
Suseno, Franz Magnis. Menalar Tuhan. Yigyakarta : Kansius. 2006.

Comments