INDAHNYA BERBAGI: Pemikiran Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

Amazing

Saturday, 14 March 2015

Pemikiran Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi



Pemikiran Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi


       A. PENDAHULUAN
Peranan ulama yang berasal dari dunia Melayu yang menimba ilmu dan menetap di Mekah dan memiliki murid-murid yang berguru kepadanya, sudah berjalan begitu lama dan bersambung dari pada satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebagai salah satu contoh ulama besar yang menetap di Mekkah untuk  dan membawa pengaruh besar bagi Indonesia adalah Ahmad Khatib Minangkabawy. Syekh Ahmad Khatib tidak saja mengangkat citra bangsa Indonesia di mata dunia dalam bidang ilmu ke-Islaman, tetapi tidak sedikit pula mendidik murid-muridnya yang menjadi ulama berpengaruh dan berkontribusi besar bagi Indonesia.
Ahmad Khatib al-Minangkabawi secara tidak langsung memberi peranan serta kontribusi pembaharuan didalam dunia islam khususnya di Indonesia, banyak gagasan/ pembaharuan yang dilakukan ulama tersebut yang banyak berkembang di Indonesia. Dan juga banyak dari murid-muridnya yang menjadi tokoh sentral dan penting yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

         B. PEMBAHASAN

1.      Biografi Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi

Ahmad Khatib bin Latif bin Abdurrahman bin Imam Abdullah bin Tuanku Abdul Aziz atau lebihh terkenal dengan nama Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah putera dari Engku Abdurrahman gelar Datuak Rangkayo Basa, Hoofjaksa di Padang dan Abdurrahman ini adalah putera dari Tuanku Syekh Imam Abdullah di Koto Gadang di Bukittinggi dan Imam Abdullah adalah putera Tuanku Abdul Aziz. Dan seorang lagi putera Hoofjaksa Abdurrahman adalah Sutan Muhammad Salim, Hoofjaksa di Riau, dan Sutan Muhamman Salim ini adalah ayah dari Haji Agus Salim. Oleh sebab itu dari pihak ayah beliau berasal dari Koto Gadang, dari keturunan darah orang berpangkat dan Ulama. Ayah beliau Abdullatif bersaudara seayah dengan Ayah Haji Agus Salim yang bernama Sutan Muhammad Salim.
Ibu Syekh Ahmad Khatib adalah orang Empat Angkat. Ibunya bernama Limbak Urai. Ayah dari Limbak Urai ini adalah Tuanku nan Rancak, seorang ulama yang terkemuka dai zaman Paderi. Ibu dari Limbak Urai ini adalah Siti Zainab, dan Siti Zainab ini adalah anak perempuan dari Tuanku Bagindo Khatib pembantu Ragent Agam. Limabak Urai ini mempuyai saudara perempuan yaitu Gundam Urai, dan Gundam Urai ini adalah ibu dari Syekh Taher Jalaluddin, dan saudaranya yang lelaku bergelar Datuak Bagindo, Laras dari Empat Angkat. Jadi memiliki keturunan dari ayahnya dan ibunya, nyatalah bahwa dalam dirinya mengalir darah-darah pejuang agama.[1]
      Ahmad Khatib dilahirkan tanggal 6 Zulhijah1276 H (1860) dan berangkat ke Mekkah dalam usia 11 tahun (1287-1871 M), bersama ayahnya sendiri Khatib Nagari, untuk menunaikan ibadah Haji dan mendalami ilmu agam dari alim ulam yang berda di Mekah. Ilmu pengtahuan utama yang di perdalamnya adalah Ilmu Fiqhi, disamping juga mempelajari ilmu-ilmu agama lainnya dan ilmu-ilmu umum seperti Ilmu Falak, Hisab, Aljabar dan lainnya. Aliran Fiqhi yang dipelajari dan di anutnyy adalah Mazhab Syafi’i. Diantara guru-gurunya adalah Ahmad Zaid Dahlan, Said Bakri Syatta dan Syekh Yahya Kabli.[2]
      Ahmad Khatib mempunyai budi yang baik dan luas ilmunya dan disayangi oleh orang, beliau disayangi oleh hartawan Mekkah bernama Syekh Shaleh Kurdi, saudagar dan penjual kitab-kitab agama. Syekh Shaleh berasal dari keturunan Kurdi. Dan Mazhab orang Kurdi adalah Syafi’i sebagai Mazhab orang Indonesia juga. Diterimanya Ahmad Khatib menjadi menantunya, dinikahkannya dengan anaknya Khadijah.[3]
      Rupanya tidak cukup hanya hanya seorang puteri saja yang di amanahkan Shaleh Kurdi untuk dikawinkan dengan Ahmad Khatib, bahkan puterinya yang kedua juga dikawinkan dengan Ahmad Khatib setelah puterinya yang pertama meninggal dunia. Dalam istilah Minangkabau hal seperti semacam itu disebut “mengganti tikar”.
      Dari istrinya yang pertama beliau mendapatkan seorang putera bernama Abdul Karim dan dari isterinya yang kedua dikarunia tiga orang anak yaitu Abdul Malik, Abdul Hamid, dan Siti Khadijah. Ahmad Khatib tidak pernah berpoligami, dan tidak pernah kawin lagi setelah isterinya yang kedua meninggal dunia.[4]
      Kesungguhan dan kecerdasannya dalam menuntut ilmu ditunjang oleh fasilitas yang diberikan oleh mertanya membuat proses pembentukan keulamaan Ahmad Khatib berjalan dengan cepat. Kemampuan dan peluang yang diperolehnya melalui perantara mertuanya yang yang berasal dari keluarga Arab terpandang yang memiliki akses komunikasi dengan pihak kerajaan juga memberikan peluang bagi Ahmad Khatib untuk memperoleh kehormatan menjadi imam Mazhab Syafi’i, dengan status imam Mazhabnya tersebut Ahmad Khatib memiliki hak istimewa diantaranya beliau diizinkan untuk mengajar di Masjid al-Haram, sebuah tempat keramat yang tidak semua orang dapat memperolehnya.
      Disamping seorang imam Mazhab, Ahmad Khatib merupakan seorang sufi, dia menolak beberapa ajaran Thariqat yang menurutnya masuk kategori bid’ah, seperti wahdat al-wujud (panteisme), dan pemakaian rabithah atau wasilah (penengah).
      Meskipun beliau dan menetap di Mekkah, akan tetapi sumbangannya terhadap perkembanagn dakwah di Indonesia tetap mengalir melalui tulisannya, baik dikirim maupun di bawa jama’ah haji yang pulang dari Mekkah.
Ahmad Khatib juga sangat berjasa dalam mendidik murid-murid yang datang dari Indonesia yang belajar kepadanya, sebahagian dari mereka menjadi ulama dan tokoh dakwaj terkemuka di Indonesia.[5]
Diantara murid-murid beliau yang kembali ke tanah air ialah Tuan Haji Muhammad Nur yang kemudian menjadi Mufti Kerajaan Langkat, Tuan Syekh Hasan Masum Imam Paduka Tuan dan Mufti Kerajaan Deli. Ketiganya adalah dari daerah Sumatera Utara dan Aceh.
Banayk pula diantara murid-muridnya berasal dan kembali ke daerah Palembang, Jambi, Pontianak, Banjar Masin, Tanah Jawa dan Madura.
K.H Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, K.H Ibrahim ketua kedua Muhammadiyah. K.H Zarkati pengasuh Pondok Pesantren juga tercatat sebagai bekas murid Syekh Ahmad Khatib baik dalam waktu yang pendek maupun lama. Yang pulang ke Minangkabau adalah : Syek Muhammad Jamil Jambek (Bukittinggi), Syekh Muhammad Thaib Umar (Tanjung Sungayang), Syekh Abdullah Ahmad (mulanya di Padang Panjang, kemudian pindah ke Padang), dan Syekh Abdul Karim Amrullah (Maninjau) yang ke empat-empatnya terkenal dengan julukan EMPAT SERANGKAI, baik karena seiring dalam kegiatan dakwah, maupun juga banyak sepaham dalam aliran dan pembahasan pengajian.
Disamping itu Syekh Sulaiman Ar Rasuly (IV Angkat – Canduang) dan Syekh Muhammad Jamil Jaho (Padang Panjang) yang keduanya terkenal sebagai pendiri dan pengasuh Madrasah-Madrasah yang tergabung dalam PERTI, dan yang dalam banyak hal berbeda dengan Empat Serangkai tersebut sebelumnya, juga merupakan murid dari Ahmad Khatib yang berasal dari dan pulang ke Minangkabau dan masih banyak murid Syekh Ahmad Khatib yang lainnya.[6]

2.      Pemikiran Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawy

a.       Ahmad Khatib Minangkabau menentang Tarekat
Syeikh Ahmad Khatib banyak menentang praktek tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyyah di Minangkabau, Sumatera Barat. Menurutnya ke dalam tarekat naqsyabandi telah masuk bid’ah yang tidak terdapat pada masa Rasul dan para sahabat dan tidak pernah diamalkan oleh imam mahzab yang empat. seperti menghadirkan gambar/rupa guru dalam ingatan ketika mulai suluk – sebagai perantara kepada Tuhan.
Beliau mengatakan perbuatan serupa itu sama saja dengan penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. karena rupa guru yang dihadirkan dan berhala-berhala yang dibuat oleh manusia tidak memberikan manfaat dan mudharat kepada manusia. 
Penolakan Syaikh Ahmad Khatib terhadap praktek tarekat naqsyabandi di Minangkabau di ungkapkan dalam buku yang berjudul “Izhharu Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin” yang artinya menjelaskan kekeliruan para pendusta. 
Buku yang dikarang oleh Ahmad Khatib untuk menjawab pertanyaan muridnya Haji Abdullah Ahmad di Padang Panjang. buku tersebut telah sampai di Minangkabau tahun 1906, yang merupakan tulisan sanggahan terhadap tarekat Naqsyabandiyyah al-Khalidiyah di Minangkabau. Kitab tersebut mengundang kemarahan seluruh penganut tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah dan penganut-penganut tarekat lain­nya. 
Syeikh Muhammad Sa‘ad Mungka (salah seorang ulama dari ‘kaum tua‘ yang menganut tarekat Naqsyabandiyyah) menanggapi karya tersebut dengan bukunya yang berjudul “Irghamu Unufi Muta‘annitin fi Inkarihim Rabithatil Washilin.”
Dengan terbitnya karya Mungka tersebut, Syeikh Ahmad Khathib al-Minankabawi kemudian menjawabnya kembali dengan bukunya yang berjudul “Al-Ayatul Baiyinat lil Munshifin fi Iza­lati Khurafati Ba‘dhil Muta‘ashshibin.” Karya ini juga kembali disanggah oleh Syeikh Muhammad Sa‘ad Mungka dengan karyanya yang berjudul “Tanbihul ‘Awam ‘ala Taqrirati Ba‘dhil Anam.” Publikasi perdebatan-perdebatan ini kemudian membangkitkan semangat para pembaharu Islam di Minangkabau, yang kemudian menjalar ke Pulau Jawa seperti gerakan pembaharuan Muhammadiyah yang dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan. Setelah karya ini, tidak terdapat sanggahan kembali dari Syeikh Ahmad Khathib al-Minankabawi.

b.      Kritik terhadap Adat Minangkabau
Syeikh Ahmad Khatib banyak menentang praktek-praktek adat dan tingkah laku yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan beliau menolak hukum waris adat Minangkabau yang menganut Sistem Matrilinieal dimana adat masyarakat yang mengatur alur/garis keturunan berasal dari pihak ibu.
Menurut adat minangkabau harta pusaka diwariskan kepada kemenakan, bukan kepada anak sesuai dengan ajaran Islam. sedangakan kemanakan laki-laki hanya menjadi pembantu saja dalam menggarap dalam memelihara harta pusaka itu.
Ia hanya memperoleh sebagian hasil sebagai upah pekerjaannya. Padahal menurut ajaran Islam, harta pusaka diwariskan kepada anak sendiri dengan ketentuan anak laki-laki memperoleh dua bagian daripada anak perempuan. Jadi jelas adanya perbedaan/pertentangan antara peraturan adat dengan peraturan agama dalam hal warisan di minangkabau.
Pengetahuan agama yang diperoleh Syaikh Ahmad Khatib telah membentuk sikapnya yang tegas terhadap adat-istiadat minangkabau yang berdasarkan sistem kekeluargaan Matriarkat itu. Beliau sangat menentang adat, terutama dalam hal warisan. Tantangannya terhadap adat ini bahkan lebih keras daripada tantangannya terhadap tarekat naqsyabandi.
Beliau menulis dua buah buku mengenai harta pusaka ini, yaitu; “Al-Da’i al-masmu’ fi ‘il-radd ‘ala yuwarritsu’  -ikhwahwa awlad al-akhawat ma’a wujud al-ushul wa’l-furu’ ” yang artinya “seruan yang di didengar dalam menolak perwarisan kepada saudara dan anak-anak saudara perempuan beserta dasar dan perincian”. ditulis dalam bahasa arab dan dicetak di mesir pada tahun 1309 H.
Menurut keterangan B.J.O.Schirieke masih ada publikasi-publikasi lain dari Syaikh Ahmad Khatib yang menyinggung masalah warisan ini. Mengenai ini ia menunjuk buku Al-Ajat al-Bayyinat halaman 15. buku yang ditujukan Ahmad Khatib kepada seorang ulama tradisi pembela tarekat yang bernama Syaikh Sa’ad Mungka.
Menurut ahmad Khatib, barangsiapa yang masih mematuhi adat yang berasal dari kerajaan syaitan – yaitu dari datuk perpatih nan Sabatang dan Datuk Ketumanggungan -  disamping hukum Allah adalah kafir dan masuk neraka. Semua harta benda yang diperoleh menurut hukum waris kemenakan dianggap sebagai harta rampasan.
Barangsiapa yang mempertahankan sebagai miliknya berdosa besar, karena menghabiskan harta benda anak yatim piatu. Pelakunya adalah fasik dan tidak berhak/bias menjadi saksi dalam perkawinan. Ia hanya akan membuat perkawinan itu menjadi tidak sah. Karena itu tobat adalah mutlak dan perkawinan itu harus diulang kembali kalau tidak maka orang menjadi murtad. Hendaknya hubungan diputuskan dengan mereka yang tidak mau menerima hukum waris Islam dan mereka tidak berhak untuk mendapatkan pemakaman secara Islam.[7]

c.       Ahli Ilmu Hitung dan Hisab
Selain ahli dalam bidang fiqih, Ahmad Khatib Minangkabau juga ahli dalam bidang ilmu hitung dan hisab. Salah satu bukunya dalam bidang ilmu hitung adalah Rauda al-khusab fi ilmi al-hisab, yang membahas tentang ilmu hitung dan ilmu ukur, terutama sebagai ilmu Bantu dalam hukum Islam, sedangkan kitabnya yang berjudul al-Jawahir nakkiyah fi a’mal al-Jaibiyah merupakan buku pedoman untuk pengetahuan tentang pertanggal.[8]

3.      Karya

Sebagai ulama besar Melayu yang bermukim di Mekah, Syekh Ahmad Khatib al-Minankabawi telah menulis beberapa karya, baik berba­ha­sa Melayu maupun berbahasa Arab, di antaranya:
1.      Al-Jauharun Naqiyah fil A‘mali Jaibiyah (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al- Maimuniyah, 1309 H.
2.      Hasyiyatun Nafahat ‘ala Syarhil Waraqat (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah Darul Kutub al-‘Arabiyah al-Kubra, 1332 H.
3.      Raudhatul Hussab fi A‘mali ‘Ilmil Hisab (bahasa Arab). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1310 H.
4.      Ad-Da‘il Masmu‘ fir Raddi ‘ala man Yuritsul Ikhwah wa Auladil Akhawat ma‘a Wu­judil Ushl wal Furu‘ (bahasa Melayu). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1311 H.
5.      Al-Manhajul Masyru‘ Tarjamah Kitab Ad-Da‘il Masmu‘ (bahasa Melayu). Kairo, Mesir: Mathba‘ah al-Maimuniyah, 1311 H.
6.      ‘Alamul Hussab fi ‘Ilmil Hisab (bahasa Melayu). Mekah: Mathba‘ah al-‘Amirah al-Miriyah, 1313 H.
7.      An-Nukhbatun Nahiyah Tarjamah Khulashatil Jawahirin Naqiyah fil A‘malil Jabiyah (bahasa Melayu).
8.      Dhau-us Siraj (bahasa Melayu). Mekah: Mathba‘ah al-Miriyah al-Kainah, 1325 H.
9.      Shulhul Jama‘atain bi Jawazi Ta‘addudil Jum‘atain (bahasa Arab). Mekah: Mathba‘ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1312 H.[9]

       C.  KESIMPULAN

Ahmad Khatib Minang Kabau dilahirkan di kota Bukit tinggi, Sumatra Barat.. Menurut Prof. Dr. Hamka, Ahmad Khatib lahir tahun 1860 M. Ayahnya bernama Abdul Latif. Ibu Ahamad Khatib adalah Limbak Urai. Dilihat dari keturunan ayah dan ibunya, Ahmad Khatib Minang Kabau terhitung datang dari keluarga yang terpandang di Minag Kabau pada zamanya.
Pembaharuan Pemikiran Islam yang dilakukan Ahmad Khatib Minang Kabau meliputi berbagai bidang yaitu :
1.      Menentang tarekat Naqsyabandiyah,
2.     Kritik terhadap Adat Minang Kabau dalam pewarisan,
3.      Menjadi Ahli Ilmu hitung dan Hisab.








[1] Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah, Ayahku : Riwayat Hidup Dr. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, (Jakarta : Umminda, 1982), h. 271.
[2] Islamic Center Sumatera Barat, Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulam Besar Sumatera Barat, (Padang : Islamic Cnter Sumatera Barat, 1981), h. 16-17.
[3] Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah, op. cit, h. 272
[4] Islamic Center Sumatera Barat, op. cit, h. 15.
[5] Sarwan, Sejarahh dan Perjuangan buya HAMKA di atas api di bawah api, h. 44-46.
[6] Islamic Center Sumatera Barat, op. cit, h.18.
[7]http://manggopohalamsaiyo.blogspot.com/2012/05/syeikh-ahmad-khatib-al-minankabawi-1855.html/14Maret2015/01.33.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Amrullah, Abdul Malik bin Abdul Karim. Ayahku : Riwayat Hidup Dr. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera. Jakarta : Umminda. 1982.

Islamic Center Sumatera Barat. Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulam Besar Sumatera Barat. Padang : Islamic Cnter Sumatera Barat. 1981.

Sarwan. Sejarahh dan Perjuangan buya HAMKA di atas api di bawah api,