INDAHNYA BERBAGI: Pemikiran Jurgen Habermas

Amazing

Friday, 27 March 2015

Pemikiran Jurgen Habermas



PEMIKIRAN JURGEN HABERMAS
A.    PENDAHULUAN

Jurgen Habermas adalah sosok filsuf pewaris pemikiran Madzhab Frankfrut. Pemikiran-pemikirannya cukup rumit dan sarat dengan rujukan metafora tapi sangat filosofis. Narasi besar pemikirannya bertumpu pada usaha pencarian sebuah teori yang secara memadai merumuskan syarat-syarat nyata perwujudan sebuah masyarakat yang bebas dari penindasan. Ia mencoba mengembangkan sebuah teori kritis. Madzhab Habermas ini terkenal dengan “Teori Kritis” atau “Teori Kritis Masyarakat” yang melemparkan sebuah kritikan serius terhadap konsep teori Positivisme dan menyebut positivisme itu sebagai saintisme karena mengadopsi metode ilmu-ilmu alam untuk menggagas unified science. Dikatakan bahwa positivisme hanya berpura-pura bertindak objektif dengan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah bebas nilai, padahal ia menyembunyikan kekuasaan dengan mempertahankan status Quo masyarakat dan tidak mendorong perubahan.

B.     PEMBAHASAN

         1. Riwayat Hidup

Jurgen Habermas dilahirkan di Dussekdorf pada 1929 dan dibesarkan di Gummersbach, kota kecil dekat Dusseldorf. Ketika menginjak usia remaja pada akhir Perang dunia II, ia ikut menyadari bersama bangsanya kejahatan yang dilakukan rezim nasional-sosialis Hitler. Keyakinan tentang pentingnya demokrasi dalam pemikiran polotiknya di kemudian hari, mungkin berasal dari pengalaman yang mengejutkan itu.
Di Universitas kota Gottingen ia mempelajari kesusastraan, sejarah dan filsafat (antara lain pada N. Hartmann) dan juga mengikuti kuliah di bidang psikologi dan ekonomi. Baru pada 1956 Habermas berkenalan dengan Institut Penelitian Sosial di Frankfurt dan menjadi Asisten Adorno. Menurut kesaksiannya, ia belajar dari Adorno apa itu sosiologi. Sewaktu bekeraja di Institut Soial ia brkenalan juga secara lebih mendalam dengan pemikiran Marxisme.
Pada awal tahun 1960-an Habermas sangat popular dalam kalangan mahasiswa Jerman dan oleh beberapa golongan dianggap sebagai ideology mereka, khususnya beberapa kelompok SDS (Sozialistische Deutsche Studentenbund). Tetapi ketika aksi-aksi mahasiswa mulaimelewati batas dengan menggunakan kekerasan, Habermas tidak segan mengemukakan kritiknya. Lama kelamaan dia tidak luput dari nasib yang sudah menimpa Mazhab Frankfurt lainnya (Horkheimer dan Adorno) : ia mengalami konflik dengan mahasiswa.[1]
Jurgen Habermas adalah tokoh yang paling banyak berkarya dan paling berpengaruh dalam generasi kedua Mazhab Frankurt.[2] Mazhab Frankfurt merupakan aliran filsafat social, dirintis oleh Horkheimer (1895- ) dan Th. W. Adowno (1903-1969). Berusaha menggabungkan ekonomi social Marx dengan psikoanalisa Freud dalam mengkrirtik teori masyarakat kapitalis. Melawan positivism empiris dalam penelitian ilmu maupun teori-teori metafisis tradisional yang hanya membenarkan  system social yang ada. Teori dan praxis merupakan suatu dwitunggal. Eksponen : Marcus dan Habermas yang mempengaruhi revolusioner di tengah-tengah mahasiswa di Eropa dan AS tahun 60-an.[3]
Mazhab Frankfurt berkembang dari “teori krtitis tentang masyarakat” (sebagaimana disajikan dalam karya-karya Horkheimer da Mercus pada paruh kedua tahun 1930-an) menuju suatu filsafat sejarah yang pesimistis. Kecondongan pokok evolusi ini adalah “membuang” semua yang alami dan yang objektif dalamhubungan-hubungan barang-uang (yang diperluas kepada seluruh sejarah peradaban manusia). Pada akhirnya, evolusi ini menuju sesuatu penafsiran sosiologis-vulgar terhadap hubungan-hubungan social.[4]
Selama di Frankfurt Habermas terjun juga dalam diskusi yang dikenal sebagai Positivismusstreit (diskusi tentang positivism)I , suatau diskusi yang menarik banyakl perhaian dalam kalangan akademis di Jerman sekitar  1960-an dan berkumandang sampai dunia Internasional.Yang dipersoalkan adalah metode dalam ilmu-ilmu social. Inti persoalannya adalah hubungan antara teori dan praksis.
Sebagimana dapat dimaklumi, dalam hal ini Mahzab Frankfurt mempunyai keyakinan teguh bahwa teori tidak dapat dilepaskan dari praksis dan bahwa tidak ada ilmu pengetahuan bebas nilai.
Selam 10 tahun Habermas bekerja di Institut Max Planck, takni sampai 1981 ketika pusat penelitian social ini terpaks abubar, setelah stafnya tidak berhasil mencapai persepakatan tentang arah perkembangan selanjutnya. Setelah Institut Max Plank ditutup, Habermas kembali ke Frank sebagai professor filsafat. Ia mengajar di Universitas Frankfurt sampai masa pensiunnnya pada 1994. Pada waktu itu Habermas sudah mempunyai reputasi Internasional yang besar dab banyak diminta sebagai pembicara pada pertemuan ilmiah di luar negeri.[5]
Selama beberapa tahun, Habermas menjadi pemikir neo-Marxis paling terkenal di dunia. Nanum seseudah itu karyanya diperluasnya sehingga meliputi  berbagai masukan teoritis yang berbeda. Dia optimis terhadap masa depan kehidupan modern. Dengan optimisnya itulah ia menulis tentang modernitas sebagai proyek belum selesai itu. Sementara Marxs memusatkan perhatian pada pekerjaan dan tenaga kerja, Habermas terutama memusatkan perhatian pada masalah komunikasi yang ia angap sebagai proses yang lebih umum ketimbang pekerjaan.[6]
Karya-karyanya diantaranya adalah :
1.   Strukturwandel der Oefentlichkeit (Transformasi structural dari lingkup umum) (1962).
2.      Theorie und Praxis (Teori dan praksis) (1963)
3.      Student und Politik (Mahasiswa dan Politik) (1964).
4.      Zur Logic der Sozialwissenschaften (Tentang logika ilmuilmu social) (1967)
5.  Technik und Wissenschaft als Ideologie (Teknik dan ilmu pengetahuansebagai ideology) (1968)
6.      Erkenntnis un Interesse (Pengenalan dan kepentingan manusiawi) (1968)
7. Protesbewegung und Hochschulreform (Gerakan oposisi dan pembaharuan Perguruan Tinggi) (1969).

        2. Pemikiran Filosofis

1.      Tahap pertama : 1960-1970

Dalam periode ini Habermas mengkritik pandangan positivistis tentang ilmu pengetahuan dan ia berusaha menghidupkan kembali pemikiran Marx dalam mengerti ilmu pengetahuan dengan lebih kritis, sambil mengikuti jejak Max Horkheimer dan Thedor Adorno. Dalam buku Pengenalan dan kepentingan manusia Habermas memperlihatkan bahwa manusia tidak memperoleh pengetahuan baru berdasrkan sesuatu hubungan netral terhadap kenyataan, tetapi dalam hal ini ia selalu dituntun oleh kepentingan-kepentingan tertentu.
Ia mengajukan pengertian Erkenntnisleitende Interesse: kepentingan yang menjuruskan pengenalan. Dalam hal ini ia membedakan tiga macam kepentingan : 

a.       Kepentingan pengenalan teknis
Pengenalan yang diperoleh berdasarkan kepentingan pengenalan teknis, seperti misalnya pengenalan ilmu alam dan pengenalan social teknologis, hanya dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah teknis, tetapi tidak berguna untuk melestarikan proses-proses komunikatif atau mengurangi ketidaksamaan kuasa.

b.      Kepentingan pengenalan praktis
Pengenalan yang diperoleh berdasarkan kepentingan pengenalan praktis, seperti misalnya pengenalan seperti masa lampau yang dicari dalam ilmu sejarah dan pengertian yang diupayakan dalam ilmu-ilmu hermeneutis, tidak dapat dipakai untuk masalah-masalah teknis tetapi cocok untuk tujuan komunikatif, guna melestarikan tradisi dan memperdalam pengertian-diri suatu kebudayaan.

c.       Kepentingan pengenalan emansipatoris
Pengenalan emansipatoris, seperti misalnya pengertian psikonalitis dan teori-teori kritis tentang masyarakat, terarah pada emansipasi atau pembebasan dari keadaan kekuasaan serta ketergantungan dank arena itu hanya dapat dijalankan dalam konteks proses-proses yang bertujuan meningkatkan kesadaran emansipatoris.[7]

2.      Tahap kedua: 1970-1981

a.       Teori perbuatan tutur

Dalam periode kedua Habermas berhasil mengerti dan secara rinci menganalisis struktur praksis komunikatif, dan khususnya pengandaian-pengandaian normatif yang berperan disitu, dengan memanfaatkan filsafat bahasa Anglosakson.
Dengan praksis komunikatif Habermas mengerti keseluruhan perbuatan manusia yang bertujuan mencapai persetujuan dengan orang lain dalam konteks kemasyarakatan. Praksis komunikatif ini harus dibedakan dari praksis instrumental (pekerjaan ), misalnya menciptakan hubungan yang paling cepat atau paling ekonomis diantara dua kota. Tetapi praksis komunikatif harus dibedakan juga dengan praksis strategis. Praksis strategis ini orang bersusaha untuk mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil orang lain. Dalam praksis strategis ini Habermas membedakan antara praksis strategis strategis yang terbuka dan praksis strategis yang ttersembunyi. Contoh praksis strategis yang terbuka adalah persaingan antara pelakupelaku bisnis di pasaran yang sama. Sedangkan contoh tentang praksis strategis yang tersembunyi adalah memeras uang dari seseorang dengan membohonginya.
Habermas menganalisis sifat khusus dari praksis komunikatif dengan memanfaatkan teori perbuatan tutur dari Jhon Austin  dan Jhon Searle. Inti pemikiran mereka adalah bahwa berbahasa atau  berbicara  harus dimengerti sebagai melakukan perbuatan-perbuatan yang tertentu, yaitu “perbuatan-tutur”. Setiap perbuatan tutur terdiri atas dua bagian: bagian proposional yang menunjuk kepada fakta atau kenyataan tertentu dan bagian performatif, dimana si penutur menjelaskan bagaimana kenyataan itu harus dipahami oleh si pendengar. Suatu perubahan penting yang ditambah Habermas pada teori perbuatan-tutur tersebut adalah pendapatnya bahwa si penutur menyampaikan sifat komunikatif dari perbuatan  tuturnya kepada si pendengar melalui klaim-klaim kesahihan yang terkandung dalam bagian peformatifnya, yaitu kalim atas kebenara, ketepatan normative, dan keikhlasan.[8]

b.      Teori argumentasi

Sesuai dengan perkembangan dalam filsafat ilmu, Habermas mengusulkan untuk menganalisis pertanyaan tentang pengenalan yang benar secara umum dengan menyelidiki struktur proses-proses argumentasi. Menurutnya yang dapat disebut benar adalah ucapan-ucapan yang dapat diterima berdasarkan consensus rasional  di antara semua pihak bersangkutan. Suatu consensus boleh disebut rasional, jika semua peserta diskusi dapat mengemukakan semua argumen yang relevan pada saat itu,
Lalu Habermas bertanya tentang syarat-syarat  komunikatif yang harus dipenuhi, supaya kekuatan argument-argumen terbaik dapat meyakinkan. Syarat-syarat itu dianalisinya  dalam apa yang disebutnya “situasi percakapan yang ideal”. Situasi yang tidak terdistorsi sedikit pun ini terwujud,jika:
a.   Semua peserta mempunyai peluang yang sama untuk memulai suatu diskusi dan dalam diskusi itu mempunyai peluang yang sama untuk mengemukakan argument-argumen dann mengkritik argument-argumen peserta lain.
b. Diantara peserta-peserta tidak ada perbedaan kekuasaan yang dapat menghindari bahwa argument-argumen yang mungkin relevan sungguh-sungguh diajukan juga, dan akhirnya :
c.    Semua peserta mengungkapkan pemikirannya dengan ikhlas, sehingga tidak mungkin terjadi yang satu memanipulasi yang lain tanpa disadarinya.

c.       Teori evolusi social

Unsur terakhir yang pantas disebut dari perkembangan pemikiran Habermas selama periode kedua adalah pembentukan suatu kerangka teoritis tentang evolusi masyarakat. Inti teori evolusi social ini adalah perbedaan dua macam proses belajar: di satu pihak proses-prses belajar teknis yang membawakan penguasaan alam lebih besar dan peningkatan produktivitas kerja dan di lain proses-proses belajar komunikatif yang menghasilkan perbaikan kualitas komunikatif  dari relasirelasi di antara manusia. Menurut Habermas kedua macam proses belajr ini ditandai oleh logika tersendiri, artinya kemajuan dalam penguasaan alam tidak secra otomatis  membawakan kemajuan di bidang relasi-relasi komunikatif, dan sebaliknya.[9]

3.      Tahap ketiga: sejak 1981

Dengan memanfaatkan batu-batu bangunan yang disiapkan dalam periode kedua, dalam buku Teori praksisi kominikatif (1981) Habermas mampu membangun suatu teori komprehensif tentang masyarakat modern. Dalam karya monumental ini terutama dua tema memainkan peranan sentral: dunia-kehidupan dan sistem. Dengan pengertian dunia-kehidupan ini Habermas merumuskan salah satu perubahan paling penting terhadap analisisnya dai praksis komunikatif pada tahun 1970-an.
Dunia-kehidupan meliputi semua pengandaian dan anggapan yang diterima begitu saja, tanpa dipersoalkan atau diragukan. Dunia-kehidupan seolah-olah tersimpan dalam kebudayaan kita dan menjadi konteks di mana perbuatan-perbuatan komunikatif berlangsung, bahkan sering kali tanpa menyadarinya. Dengan kata lain praksisi komunikatif tidak pernah berlangsung dalan vakum, tetapi menimba dari sumber daya yang sudah tersedia dan dimanfaatkan sebagai sarana komunikatif untuk mencapai persetujuan: kebudayaan,intuisi-intuisi, kepribadian-kepribadian. Semuanya itu membentuk dunia-kehidupan yang melatar belakangi dan menopang praksis komunikatif. Dari sisi lain, dunia kehidupan itu tersendiri bertahan karena praksis komunikatif.[10]
Pada periode ini Habermas tetap memprtahankan teori praksis komunikatif.
a. Praksis komunikatif menimba dari sumber yang telah ada (Lebenswelt – kebudayaan, Institusi, kepribadiaan) sebagai sarana komunikatif untuk mencapai tujuan.
b. Komunikasi social yang bersumber pada dunia kehidupan tidak cukup untuk mempertahakna masyarakat karena kebutuhan hidup (sandang, pangan, papan)
c. Pertahanan material masyarakat terjadi melalui pekerjaan.
a) Pada masyarakat pra-modern pekerjaan berlangsung dalam kehidupan.
b)      Pertahanan komunikatif dan material dalam masyarakat modern.
c)      Pertahanan komunkitaif dan pertahanan material terpisah.
d)  Pertahanan material ridak terjadi dalam instsnsi yang distabilkan melalui jalan komunikatif, tetapi telah masukdalam wilayah system.
e)   Sistem terdiri atas: sub system ekonomi (uang) dan sub system politik (kuasa).
f)       Dunia kehidupan ‘dijajah’ oleh sub system ekonomi dan politik.[11]


C.     PENUTUP

Jurgen Habermas merupakan tokoh yang paling banyak berkarya dan paling berpengaruh dalam generasi kedua Mazhab Frankurt. Mazhab Frankfurt merupakan aliran filsafat social, dirintis oleh Horkheimer (1895- ) dan Th. W. Adowno (1903-1969). Berusaha menggabungkan ekonomi social Marx dengan psikoanalisa Freud dalam mengkrirtik teori masyarakat kapitalis. Melawan positivism empiris dalam penelitian ilmu maupun teori-teori metafisis tradisional yang hanya membenarkan  system social yang ada. Teori dan praxis merupakan suatu dwitunggal. Eksponen : Marcus dan Habermas yang mempengaruhi revolusioner di tengah-tengah mahasiswa di Eropa dan AS tahun 60-an.






[1] K. Bertens, Fisafat Barat Kontenporer Inggris dan Jerman, ( Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 236-238.
[2] Adam Kuper dan Jessica Kuper, Ensiklopedi ilmu-ilmu social, penerjemah, Haris Munandar, Ed. 1. Cet. 1, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada : 2002),  h. 423
[3] Dick Hartoko, Kamus Popule Filsafat, (Jakarta : Rajawali, 1986), h.29.
[4] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1996), h. 608.
[5] K. Bertens, op. cit, h. 240-242.
[6] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Ed. 6. Cet. 5, ( Jakarta : Kencana, 2008), h. 579.
[7] K. Bertens, op. cit, h. 243.
[8] K. Bertens, Ibid, h. 244-255.
[9] K. Bertens, Ibid, h. 249.
[10] K. Bertens, Ibid, h. 250.
[11] Misnal Munir, Aliran-aliran Utama Filsafat Barat Kontemporer, (Yogyakarta : 2008, LIMA), h. 81-82.



DAFTAR KEPUSTAKAAN


Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. 1996.

Bertens, K. Fisafat Barat Kontenporer Inggris dan Jerman. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. 2002.

Hartoko, Dick. Kamus Populer Filsafat. Jakarta : Rajawali. 1986.

Kuper, Adam. Kuper, Jessica. Ensiklopedi ilmu-ilmu sosial. Penerjemah, Haris Munandar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2002. 

Munir, Misnal. Aliran-aliran Utama Filsafat Barat Kontemporer. Yogyakarta : LIMA. 2008.

Ritzer , George. Goodman, Douglas J. Teori Sosiologi Modern. Ed. 6. Cet. 5. Jakarta : Kencana. 2008.
.