INDAHNYA BERBAGI: Tugas Orientalis

Amazing

Sunday, 7 December 2014

Tugas Orientalis



H.A.R Gibb
A. PENDAHULUAN
Aliran-aliran modern dalam Islam – setidak-tidaknya dalam bentuk embrionya – boleh dikatakan mulai muncul pada masa hayat Ibnu Taimiyah di abad ke- 13 dan ke- 14. Kata itu beliaulah yang pertama kali mengemukakan pandangan-pandangan keagamaaan yang dalam banyak hal, berbeda hal dengan para ulama terdahulu. Namun pemikran-pemikiran modern Ibnu Taimiyah ini baru teraktualisasikan dalam bentuk gerakkan modern pada awal abad ke-18 di Arab Saudi, melaluii gerakkan wahabi yang ditokohioleh Muhammad bin Abdul Wahhab
Namun buku-buku yang mengulas gejala tersebut baru m uncul dua abad berikutnya, tepatnya sejak awal abad ke 20 yang diawali dengan terbitnya buku The New World Of Islam karangan Lothrop pada tahun 1921. Selama hampir 4 dasawarsa semenjak terbitnya buku tersebut, tercatat hanya ada sepuluh buku yang berbicara khusus mengenai aliran dan gerakkan modern dalam Islam. Dan buku Modern Trends in Islam karangan H.A.R. Gibb adalah buku ke 9 diantara 10 buku tersebut.
Dalam hal ini penulis akan melihat bagaimana isi buku karangan dari H.A.R Gibb (The New World Of Islam) apakah buku tersebut sesuai dengan ajaran Islam atau bertentangan dengan ajaran Islam, untuk lebih jelasnya akan dibahas dalam makalah kali ini.
B. PEMBAHASAN
            1. Riwayat Hidup, riwayat akademis serta karya-karya H.A.R Gibb
Gibb adalah orientalis Inggris lahir di Iskandariah, Mesir pada 2 Januari 1895 dan meninggal pada 22 Oktober 1971 di Oxford. Nama lengkapnya Hamilton Alexander Rosken Gibb. Gibb lahir dari pasangan Alexander Crawford Gibb dan Jane Ann Gardner. Ayahnya, Alexander Grawford Gibb adalah putra John Gibb dari Gladstone, Renfrenshire Scotland yang pada waktu itu menjadi manager pertanian untuk Aboukir Land Reclamation Company. Sesudah ayahnya meninggal tahun 1897, ibunya Jane Ann Gardner yang berasal dari Girl's School.
 Perjalanan akademisnya dimulai di Sekolah Negeri Edinburg, Skotlandia. Kemudian meneruskan ke Universitas Edinburg dengan menggeluti bahasa-bahasa semit, seperti Arab, Ibriah, dan Aram. Dari tahun 1913 hingga 1918 ia menjalani wajib militer dan dikirim ke medan tempur di Perancis dan Italia. Setelah menjalani wajib militer, Gibb meneruskan studinya ke London di Sekolah Bahasa-Bahasa Timur, sehingga pada tahun 1921 ia sudah dipercayai mengajar bahasa Arab. Pada tahun 1922 ia memperoleh gelar master dari Universitas London. Karena kemampuan dalam bidang bahasa Arab, Gibb menggantikan posisi Thomas Arnold setelah meninggal dunia sebagai penanggung jawab pengajaran bahasa Arab di Universitas London sampai tahun 1937. Gibb kemudian menjadi guru besar bahasa Arab di Universitas Oxford. Pada tahun 1957 ia ditugas menjadi direktur Pusat Kajian Timur Tengah di Universitas yang sama. Gibb sangat masyhur karena karya-karyanya dinilai bermutu tinggi. Tiga bidang yang menjadi pusat kajian Gibb adalah sastra Arab, sejarah Islam, dan pemikiran politik keagamaan dalam Islam. Namun pada tahun 1964 ia terjangkit penyakit stroke yang membuat kesehatannya tidak stabil, yang membuat tutup usianya ditahun 1971.[1]
Karya-karya Gibb diantaranya adalah :
1.      Karya pertama Gibb adalah The Conquests in central Asia yang menguraikan tentang korelasi antara berbagai kelompok yang turut bekerja sama.
2.      Pada tahun 1926, ia merilis buku yang berjudul al Adab al Arabi untuk pembaca berbahasa Inggris.
3.      Tahun 1928 ia menerbitkan rangkaian tentang sastra Arab secara bersambung.
4.       Pada tahun 1932 ia menerjemahkan Sejarah Damaskus karya Ibn al Qalansi ke dalam bahasa Inggris dan pada tahun berikutnya ia menerbitkan makalah tentang “Kekhalifahan Islam menurut Pemikiran Ibn Khaldun”.
5.      Pada tahun 1933 ia menerbitkan makalah tentang “kekhalifahan islam menurut pemikiran politik ibn khaldun”
6.       Pada tahun 1937 ia menulis karangan tentang “Pandangan al Mawardi tentang Khilafah” di majalah Islamic Culture.
 Sedangkan karyanya yang paling monumental adalah Masyarakat Islam dan Barat : Masyarakat Islam Abad Kedelapan Belas.
Selain itu banyak juga karya-karya Gibb yang berbentuk makalah sederhana di bidang sejarah Islam, seperti “Tafsir Sejarah Islam” (1953), “Urgensi Perkumpulan bagi Nasionalis” (1955), “Sistem Pajak yang dikeluarkan Umar II” (1955), dan “Literatur-literatur Biografis dalam Islam” (1962).
Sedangkan dalam bidang agama Islam ia memiliki dua buah karya, yaitu Mohammedanism (1949) dan Modern Trend in Islam (1947).[2]

            2. Agama kelompok modernis
Terdapat konflik yang sangat tajam antara gagasan-gagasan abad pertengahan dan gagasan modern tentang hakikat pengetahuan. Pandangan Islam lama mengenai ilmu pengetahuan tidak menjangkau hal-hal yang belum diketahui melainkan merupakan proses pengumpulan hal-hal yang sudah diketahui secara mekanik. Hal-hal yang sudah diketahui itu tidak dianggap berubah dan berkembang melainkan tetap dan abadi.
Hal ini mengundang tiga macam konsekuensi penting, yaitu :
1.      Ilmu pengetahuan tidak merupakan unsur dinamik dalam pemikiran tetapi merupakan kumpulan unsur yang beku dan diam.
2.      Tidak ada sesuatupun dalam pola ilmu pengetahuan yang sudah diterima bisa disingkirkan sebagai sesuatu yang using perlu diganti atau ditolak dan sebaliknya tidak ada sesuatupunyang bisa dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang benar bila ia tidak sejalan dengan apa yang secara umum telah diterima itu.
3.      Proses perolehan ilmu pengetahuan itu tidak melalui analisis, induksi dan eksperimen melainkan melalui pengumpulan apa saja yang sudah ada.
Kelompok modernis dan pembaru telah menunjukkan bahwa Islam seharusnya tidak menjadi system yang tetap beku, yang dianggap sebagai penghalang saja bagi perkembangan pemikiran, dan bahwa pembatasan-pembatasan teologik yang lama terhadap batas-batas ilmu pengetahuan dapat diabaikan saja. [3]
Kita harus ingat bahwa dalam hal ini kita berbicara tentang apologetika, dan apologetika pada dasarnya bersifat memihak. Pekerjaan apapun yang dikerjakann oleh apologis itu dia akan membela dan membuktikan kebenaran yang sudah diyakininya sebagai sesuatu yang sudah benar. Karena itu apologis muslim berangkat dari keyakinan bahwa Qur’an merupakan firman Allah yang secara harfiah dan bahwa agama Kristen adalah keliru dan palsu.
Maka yang menarik perhatian kita dalam apologetika modern ini bukanlah apologetikanya itu melainkan cara-cara penyampaian argument yang dipergunakannya. Gibb mengemukakan bahwa apologetika ini terutama ditujukan kepada orang-orang Muslim lain agar mereka memperkokoh keimanannya kepada Islam, dan tulisan yang ditujukan untuk mencapai tujuan inilah yang disebut dengan istilah “controversial.” Namun sebenarny Gibb hanya ingin membicarakan  sedikit saja mengenai tulisan-tulisan itu sama saja mutunya dengan tulisan-tulisan apologetic muslim, hanya dipertajam dilebih-lebihkan dan sampai batas tertentu, diperkasa juga dan tulisan-tulisan itupun tidak memberikan tambahan apa-apa kepada pengetahuan kita mengenai modernism Islam dan para kontroversialis Muslim itu pun–sebagaimana para kontroversialis lainnyakadang-kadang sangat dangkal pengetahuannya mengenai agama Kristen.[4]
Pertanyaannya adalah, kepada kelompok masyarakat macam manakah apologetika kelompok modernis itu ditujukan?
Pertama tentu saja pada pembaca awam, yaitu kepada kelompok minoritas Muslim yang telah menyelesaikan pendidikan menengah pertama atau menengah atas. Kelompok Muslim yang buta huruf, atau orang desa, jelas tidak dikhawatirkan akan kehilangan keimanan dan bahkan seandainya kekhawatiran itu adapun, kelompok modernis yang terdidik dan dibesarkan dikota-kota tidak dapat berbicara untuk memenuhi apa yang dibutuhkannya itu.
Namun di luar itu, apologetika kelompokk modernis ditujukan kepada generasi muda di mana-mana para mahasiswa, berbagai kelompok dikalangan menengah dan juga kepada para pedagang dan pekerja. Inilah kelompok-kelompok Muslim yang keimanannya dan kesetiaannya kepada Islam paling mudah dihancurkan, baik berbagai pengaruh pendidikan dari Barat, oleh mekanisme kehidupan modern, maupun oleh berbagai macam propaganda – kelompok misionaris, kelompokk rasionalais atau kelompok komunis. Kekhawatiran itu memang sama sekali tidak dilebih-lebihkan, dan seandainya tidak karena jasa kelompok apologetic ini, pasti jimlah orang ateis, orang murtad, dan orang Muslim yang tidak aktif menjalankan agamanya, akan jauh lebih besar daripada yang ada sekarang.
Modernisme, terutama merupakan salah satu fungsi liberalism di Barat. Kaarena itu, hanya diharapkan bahwa kecendrungan umum kalangan modernis itu adalah menafsirkan Islam sejalan dengan gagasan-gagasan dan nilai-nilai humanitarian liberal.[5]
Jadi dalam bidang keagamaan, kelompok apologetika baru itu mengesampingkan masalah-masalah yang bersifat fundamental dan memusatkan diri, terutama pada dua persoalan pokok : kesempurnaan al-Qur’an dan pribadi Muhammad. Keduanya merupakan tema-tema kuno dan yang terkenal dalam Islam, dank arena itu para penulis modern pun berusaha menampilkan banyak tulisan yang berisikan ajakan untuk kembali kemasa-masa pertama Islam. Yang baru adalah pertama menekankan secara khusus pada kedua persoalan pokok itu, dan kedua petunjuk-petunjuk baru agar pendapat-pendapat yang lama dikembangkan dan disepurnakan.[6]


                       
                        Kritikan
Sebagaimana Gibb menyampaikan bahwa salah satu tujuan apologetika kelompok modernis  itu ditujukan kepada mahasiswa, karena dia menganggap bahwa para mahasiswa atau kelompok di kalangan menengah keimanannya dan kesetiaannya kepada Islam paling mudah dihancurkan, baik oleh pengaruh dari pendidikan Barat, oleh mekanisme kehidupan modern maupun oleh berbagai macam propaganda – kelompok misionaris.
Sebagaimana kami sebagai mahasiswa tidak setuju atas pendapat Gibb yang menyatakan bahwa mahasiswa keimanan dan kesetiaannya pada Islam paling mudah dihancurkan. Sebagai mahasiswa sudah tentunya sedikit banyaknya bagaimana ajaran-ajaran atau perbandingan agama yang ada. Dan sebagai mahasiswa sudah tentu memiliki pola pikir yang lurus dan tidak semunya yang bisa terpengaruh ataupun terpuruk dengan jalan kesesatan.

                       



           





[3] H.A.R. Gibb, penerjemah, Mahcnun Husain, Aliranaliran Modern Dalam Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1995), h. 110.
[4] H.A.R. Gibb, Ibid, h. 114-115.
[5] H.A.R. Gibb, Ibid, h. 116.
[6] H.A.R. Gibb, Ibid, h. 120.