INDAHNYA BERBAGI: Pemikiran Joseph Scahct Terhadap Hadis

Amazing

Thursday, 25 December 2014

Pemikiran Joseph Scahct Terhadap Hadis

       A.Biografi dan Karya Joseph Shacht
Joseph Shacht adalah tokoh orientalis yang lahir di Silisie Jerman pada tanggal 15 maret 1902, meraih gelar doktor dari universitas Berslauw pada tahun 1923, ketika berumur 21 tahun.
Ia diangkat menjadi dosen di Universitas Fribourg pada tahun 1925 dan dikukuhkan menjadi guru besar pada tahun 1929. Tokoh orientalis ini bahkan pernah mengajar bahasa Arab dan bahasa Suryani di Universitas Fuad Awal (sekarang Universitas Kairo) di Mesir dan diangkat sebagai guru besar.
Joseph Shacht pindah ke Inggris dari Mesir pada perang dunia ke II dan bekerja di radio BBC, menariknya sekalipun Joseph shacht ini berasal dari Jerman, dia memihak pada Inggris bahkan iapun menikah dengan perempuan Inggris. Dengan ketekunan dan kesabarannya dan tidak pandang unmur, sekalipun ia adalah seorang Profesor Doktor yang muda dan berbakat, ia diangkat menjadi Profesor pada Umr 27 ia melanjutkan studinya kembali pada program magister dan Doktor di pasca sarjana universitas Oxfotd pada tahun 1948-1952.
Iapun meninggalkan Inggris pindah ke Belanda pada tahun 1954 dan mengajar di Universitas Laiden serta diangkat sebagai guru besar di Universitas tersebut. Joseph Shacht juga pindah ke New York dan mengajar di Universitas Columbia dan juga menjadi guru besar sampai ia meninggal pada tahun 1969.[1]
Meskipun ia seorang pakar Sarjana Hukum Islam, namun karya-karyanya tidak terbatas pada bidang tersebut. Secara umum ada beberapa disiplin ilmu yang ia tulis. Antara lain, Kajian Tentang Manuskrip Arab, Edit-Kritikal atas Manuskrip-manuskrip Fiqh Islam, Kajian Tentang Ilmu Kalam, Kajian Tentang Fiqh Islam, Kajian tentang Sejarah Sains dan Filsafat dan lain-lain.
Adapun karya ilmiah yang paling monumental adalah The Origins of Muhammad Jurisprudence, An Introduvtion to Islamic Law, Islamic Law, Pre Islamic Background and Early Development of Jurisprudence dan karya terakhirnya adalah Theology and Law in Islam.[2]
           
      B.Kritikan Joseph Shacht terhadap Hadis
            Tawaran Schacht dalam mengkritisi otentisitas hadis ini sangat menarik apabila kita kaji yakni teori “projecting back”. Teori projecting back adalah proyeksi ke belakang, dimana menisbatkan argumentasi ulama-ulama abad kedua dan ketiga hijriyah kepada ulama-ulama yang terdahulu atau ulama abad sebelum kedua hijriyah, orang Iraq menisbatkan pendapat mereka kepada Ibrahim an-Nakha’I misalnya (wafat 95 H). teori ini lebih memprioritaskan kritikannya pada sanad hadis daripada matannya. Ia berpendapat bahwa hadis Nabi itu adalah produk ulama pada abad akhir hijriyah, rentetan perawi yang terdapat pada sanad hadis itu hanyalah rekayasa ulama akhir hijriyah, apalagi hadis-hadis tentang hukum, rasionalisasi menurut Schacht bahwa apabila hadis hukum itu sudah ada pada zaman Nabi, maka hadis-hadis tersebut pasti digunakan dalam diskusi-diskusi atau dijadikan hujjah. Sedangkan faktanya pada abad tersebut tidak terjadi seperti demikian “The best way to proving that a tradition did not exist at a certain time, is to show that it was not used as a legal argument in a discussion which would have made reference to it, if it had existing ”.
            Jadi tawaran Schacht ini menyimpulkan bahwa rentetan perawi  ini sengaja direkayasa dan sengaja diambil tokoh-tokoh yang terkenal di setiap zamannya.
Masih menurut Schacht, ia mengklaim bahwa kitab kutub as-sittah yang notabene adalah kitab referensi utama hadis umat Islam tidak dapat dijamin keasliannya “even the classical corpus contain a great many tradition wich cannot possibly be authentic”. Dan menurutnya juga bahwa sistem mulai diadakannya sanad atau istilah sanad ini baru muncul pada abad kedua hijriyah “the reguler practice of using isnad is older than the beginning of the second century”.[3]
            Dalam rangka membuktikan dasar-dasar pemikirannya tentang kepalsuan hadis Nabi SAW, Josepht Schahct menyusun beberapa teori berikut ini :

1.      Teori Projecting Back
Maksudnya adalah untuk melihat keaslian hadis bisa direkonstruksikan lewat penelusuran sejarah hubungan antara hukum islam dengan apa yang disebut hadis Nabi. Menurutnya hukum islam belum eksis pada masa al Sya’bi (110 H). Oleh karena itu jika ada hadis-hadis yang berkaitan dengan hukum islam, maka itu adalah bikinan orang-orang sesudah al Sya’bi. Hukum islam baru eksis ketika ada kebijakan khalifah Ummayah mengangkat para hakim.

2.      Teori E Silentio
Sebuah teori yang disusun berdasarkan asumsi bahwa bila seseroang sarjana (ulama/perawi) pada waktu tertentu tidak cermat terhadap adanya sebuah hadis dan gagal menyebutkannya, jika satu hadis oleh sarjana (ulama/perawi) yang datang kemudian yang mana para sarjana sebelumnya tidak menggunakan hadis tersebut, maka berarti hadis tersebut tidak pernah ada. Jika satu hadis ditemukan pertama kali tanpa sanad yang komplit dan kemudian ditulis dengan isnad yang komplit, maka isnad itu juga dipalsukan. Dengan kata lain untuk membuktikan hadis itu eksis, tidak cukup dengan menunjukkan bahwa hadis tersebut tidak pernah dipergunakan sebagai dalil dalam diskusi para fuqaha. Sebab seandainya hadis itu pernah ada pasti hal itu akan dijadikan sebagai refrensi.

3.      Teori Common Link
Common link adalah istilah yang dipakai untuk seorang periwayat hadits yang mendengar suatu hadits dari (jarang lebih dari) seorang yang berwenang, lalu mengajarkannya kepada sejumlah murid yang pada gilirannya kebanyakan dari mereka mengajarkannya (lagi) kepada dua atau lebih dari muridnya. Dengan kata lain, common link adalah periwayat tertua yang disebut dalam berkas isnad yang meneruskan hadits kepada lebih dari satu murid. Dengan demikian, ketika berkas isnad hadits itu mulai menyebar untuk pertama kalinya, di sanalah ditemukan common link-nya. Yakni sebuah teori yang beranggapan bahwa dalam sebuah susunan sanad kadang terdapat tambahan tokoh-tokoh tertentu untuk mendukung keabsahan sebuah riwayat. Semua sanad yang terdiri dari hubungan keluarga (antara bapak dan anaknya) adalah palsu. Isnad keluarga tidak menjamin keaslian bahkan dipakai sebagai alat untuk membuat sebuah hadis kelihatan tanpa cacat. Sehingga isnad atas dasar famili adalah isnad buatan yang digunakan untuk jalur penghubung antara satu kelompok perawi dengan perawi lainnya.[4]

     C. Bantahan Terhadap Joseph Shacht
Berikutnya adalah bantahan terhadap kritik Joseph Schahcht sebagaimana yang dia gagas dalam teori Projecting Back-nya. Menurut Azami kekeliruan Schacht adalah bahwa dia keliru ketika menjadikan kitab-kitab sirah Nabi dan kitab-kitab fiqh sebagai dasar postulat/asumsi penyusunan teorinya itu. Kitab Muwattha’ Imam Malik dan al Syaibaniy serta risalahnya Imam as Syafi’i tidak bisa dijadikan sebagai alat analisis eksistensi atau embrio kelahiran hadis Nabi. Sebab kitab-kitab tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu untuk meneliti hadis Nabi sebaiknya menggunakan dan berpedoman pada kitab-kitab hadis. Azami dalam rangka meruntuhkan teorinya Schacht telah melakukan penelitian terhadap beberapa naskah hadits dengan sanad abu hurairah, abu shalih, suhail, jauh lebih ke belakang lagi dari pada Schacht yang ternyata dari hasil kajiannya menyatakan sangat mustahil hadis bisa dipalsukan begitu saja.
Temuan Anshari justru membuktikan kebalikan dari teori Argumenta e Silentio. Setelah melakukan verifikasi berdasarkan empat koleksi hadis : al-Muwatha’ karya Imam Malik dan asy-Syaibani dan al-Atsar karya abu Yusuf dan asy-Syatibi, ia menemukan bahwa ternyata ada sejumlah hadis dalam koleksi-koleksi awal yang tidak ditemukan dalam koleksi-koleksi hadis belakangan. Misalnya, sejumlah hadis yang terdapat dalam al-Muwatha’ karya Imam Malik tidak ada dalam asy-Syaibani, meskipun al-Muwatha’ karya asy-Syaibani adalah koleksi yang lebih muda. Demikian juga sejumlah hadis yang terdapat di al-Atsar Abu Yusuf tidak dijumpai dalam al-Atsar asy-Syaibani, walaupun al-Atsar asy-Syaibani ini lebih muda daripada al-Atsar Abu Yusuf. Di samping itu Azami membuktikan bahwa tidak adanya sebuah hadis pada masa kemudian, padahal pada masa-masa awal hadis itu dicatat oleh perawi, disebabkan pengarangnya menghapus/menasakh hadis tersebut, sehingga ia tidak menulisnya dalam karya-karya terbaru. Ketidak konsistenan Schacht terbukti ketika dia mengkritik hadis-hadis hukum adalah palsu, ternyata ia mendasarkan teorinya itu pada hadis-hadis ritual (ibadah) saja yang jika diteliti lebih dalam lagi ternyata tidak bersambung ke Nabi.
Kemudian untuk membantah teori yang dikemukakan oleh para orientalis yang lain, khususnya Schacht, yang meneliti dari aspek sejarah, maka M.M. Azami membantah teori Schacht ini juga melalui penelitian sejarah, khususnya sejarah Hadis. Azami melakukan penelitian khusus tentang Hadis-Hadis Nabi yang terdapat dalam naskah-naskah klasik. Di antaranya adalah naskah milik Suhail bin Abi Shaleh (w.138 H). Abu Shaleh (ayah Suhail) adalah murid Abu Hurairah shahabat Nabi saw. Naskah suhail ini berisi 49 Hadis. Sementara Azami meneliti perawi Hadis itu sampai kepada generasi Suhail, yaitu jenjang ketiga (al-thabaqah altsalitsah). Termasuk jumlah dan domisili mereka. Azami membuktikan bahwa pada jenjang ketiga, jumlah perawi berkisar 20 sampai 30 orang, sementara domisili mereka terpencar-pencar dan berjauhan, antara India sampai Maroko, antara Turki sampai Yaman. Sementara teks hadis yang mereka riwayatkan redaksinya sama. Dengan demikian apa yang dikembangkan oleh Schacht dengan teorinya Projecting Back, yang mengemukakan bahwa sanad Hadis itu baru terbentuk belakangan dan merupakan pelegitimasian pendapat para qadhi dalam menetapkan suatu hukum, adalah masih dipertanyakan keabsahannya, hal ini dibantah oleh Azami dengan penelitiannya bahwa sanad Hadis itu memang muttashil sampai kepada Rasulullah SAW. melalui jalur-jalur yang telah disebutkan di atas. Dan membuktikan juga bahwa Hadis-hadis yang berkembang sekarang bukanlah buatan para generasi terdahulu, tetapi merupakan perbuatan atau ucapan yang datang dari Rasul SAW sebagai seorang Nabi dan panutan umat Islam.
Menurut Profesor Muhammad Musthafā al-A‛zamī, kekeliruan dan kesesatan Schacht dalam karyanya The Origins of Muhammadan Jurisprudence (Oxford, 1950) itu disebabkan oleh lima perkara :
1.      Sikapnya yang tidak konsisten dalam berteori dan menggunakan sumber rujukan.
2.      Bertolak dari asumsi-asumsi yang keliru dan metodologi yang tidak ilmiah.
3.      Salah dalam menangkap dan memahami sejumlah fakta.
4.      Ketidaktahuannya akan kondisi politik dan geografis yang dikaji.
5.      Salah faham mengenai istilah-istilah yang dipakai oleh para ulama Islam.
Karena dipandu oleh niat buruk ini, maka kajiannya pun diwarnai oleh sikap pura-pura tidak tahu (wilful ignorance) dengan sengaja mengabaikan data yang tidak mendukung asumsi-asumsinya dan memanipulasi bukti-bukti yang ada demi membenarkan teori-teorinya (abuse of evidence). Hasilnya, kesimpulan-kesimpulan yang diambilnya tidak cukup valid, karena “main pukul rata” secara gegabah (hasty generalizations) dan menduga-duga (conjectures) belaka.[5]

      D. Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat disimplkan bahwa teori Projecting Back yang dikembangkan oleh Joseph Scach sebagain besar sudah terbantahankan, namun ada beberapa hal yang harus diteliti ulang mengenai beberapa permasalahan.