INDAHNYA BERBAGI: Filsafat Nilai

Amazing

Friday, 12 December 2014

Filsafat Nilai


NILAI KEBAIKAN DAN NILAI KEBENARAN

A. PENDAHULUAN
Permasalahan filsafat secara umum tidak terlepas dari tiga hal, yaitu ontologi yang selalu berbicara tentang apakah sesuatu itu? (hakikat sesuatu). Ini ad maka inilah problema alah langkah pertama untuk mendapatkan pengetahuan. Ketika kita melihat sesuatu dan ingin untuk mengetahui apa sebenarnya sesuatu itu, dalam usaha pencarian itu tenttu ada cara atau yang harus kita gunakan untuk mengetahuinya, maka inilah problema kedua dari filsafat yang disebut dengan epistemologi. Setelah itu, setelah kita tahu cara mendapatkan pengetahuan itu tentu ada suatu hal yang harus dipikirkan, yaitu apa manfaat atau nilai guna dari pengetahuan tentang sesuatu itu yang merupakan permasalahan ketiga dalam berfikir filsafat yang dikenal dengan axiologo karena untuk apa kita kita mencari sesuatu yang tidak ada manfaatnya. 
Makna dari hidup adalah nilai, sebagai hakikat harga diri dan keberlangsungan duniawi yang sejati. Makna nilai secara filosofis adalah semua kehendak Tuhan, yang mana sedikit dari kehendaknya telah dicurahkan kepada manusia. Karena ini, manusia dengan sedikit kesempurnaan yang dikasih oleh Tuhan selalu bertanya tentang Tuhan menciptakannya. Hal inilah yang selalu dibahas oleh manusia dari dahulu sampai sekarang. Yang selalu melahirkan pengetahuan baru yang merujuk pada satu tujuan akhir, yakni nilai guna atau manfaat dari sebuah pengetahuan.[1] 
Banyak sekarang orang yang melakukan sesuatu tanpa memikirkan apa nilai atau manfaat dari yang dia lakukan. Untuk itu kita perlu mengetahui apa itu nilai. Agar kita tidak terjerumus pada hal yang sia-sia. Filsafat nilai, yang membicarakan : hakikat nilai, dimana letak nilai, apakah pada bendanya, atau pada perbuatannya, atau pada manusia yang menilainya, mengapa terjadi perbedaan nilai antara seseorang dengan orang lain, siapa yang menentukan nilai, mengapa perbedaan ruang dan waktu membawa perbedaaan penilaian. 

B. PEMBAHASAN
1.      Pengertian nilai
     Istiah nilai berasal dari bahasa Inggris adalah “value”. Aslinya berasal dari bahasa latin velere atau  atau bahasa Prancis kuno valoir. Menurut Rahmat Mulyana makna nilai secara denotatif adalah harga, dan ketika makna itu dihubungkan dengan konsep lain, maknanya menimbulkan berbagai macam interpretasi, misalnya nilai atau harga dalam perspektif ilmu ekonomi, ilmu sosial, ilmu budaya, ilmu jiwa dan sebagainya. Maka makna nilai disini tergantung pada perspektifkan yang dimaksud.[2]
  
Menurut Louis O. Kattsoff membedakan nilai kepada dua macam, yaitu :          
a. Nilai intrinsik, adalah nilai dari segala sesuatu yang sejak mula sudah bernilai, misalnya pisau mengandung kualitas pengiris di dalamnya.
b.  Nilai instrumental, adalah nilai sesuatu karena dapat dipakai sebagai sarana untuk mencpai sesuatu, misalnya pisau dikatakan bernilai instrumentasi bila dapat digunakan si subjek untuk mengiris.

Menurut Notonegoro nilai dapat dibedakan ke dalam tiga macam :                         
a. Nilai material, yaitu segala yang berguna bagi unsur manusia.                              
b. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia.                      
c. Nilai kerohanian, ialah segala sesuatu ynag berguna bagi rohani manusia.

Berbicara tentang nilai kerohanian, maka nilai kerohaniann ini juga dapat dibedakan menjadi empat macam :
1.  Nilai kebenaran, yaitu kenyataan yang bersumber pada akal manusia.
2.  Nilai keindahan, yaitu keindahan yang berumber pada unsur rasa manusia.
3. Nilai kebaikan atau nilai moral, yaitu nilai yang bersumber pada naluri kehendak dan kemauan manusia.
4. Nilai religius, inilah nilai ketuhanan, kerohanian yang tinggi dan mutlak.[3]

2.      Nilai Kebaikan
   Menurut pengetian yang absolut, nilai kebaikan adalah nilai yang tampak pada tindakan mewujudkan nilai yang tertinggi. Sedangkan menurut pengertian yang relatif, kebaikan moral adalah tindakan mewujudkan nilai yang sesuai dengan isi nilai yang dimaksud, yaitu setuju dengan nilai yang dinilai lebih tinggi dan tidak setuju dengan nilai yang berada ditingkatan yang lebih rendah. Nilai baik adalah nilai yang melekat pada tindakan mewujudkan nilai positif, sebagai yang berlawanan dengan nilai negatif.[4]

     Nilai kebaikan adalah suatu cabang dari nilai, yang berbicara tentang bagaimana sesuatu itu bisa dikatakan baik atau buruk. Nilai kebaikan berhubungan dengan perbuatan, tingkah laku dan tindak tanduk manusia dalam kehidupan. Banyak diantara manusia menganggapnya sesuatu apabila ada manfaat untuk dia, dan ada juga yang mengatakan sesuatu baik apabila memberikan kenikmatan dan lain-lain. 

       Mengenai baik atau buruknya sesuatu ada beberapa teori yang menetukannya, yaitu :
1. Naturalisme, yang menyatakana bahwa ukuran baik buruk ialah sesuai atau tidaknya perbuatan manusia. Maka yang baik adalah perbuatan yang sesuai dengan fitrah manusia dan yang berlawanan dengan fitrah itulah yang buruk.
2. Hedonisme,yang menyatakan ukuran baik dan buruk itu adalah sejauh mana perbuatan mendatangkan kenikmatan bagi manusia. Maka yang baik adalah yang lezat dan yang tidak mendatangkan kelezatan atau kenikmatan itulah buruk.
3. Utilitarialisme, yang menyatakan bahwa ukuran baik buruk sesuatu adalah seberapa suatu perbuatan itu memberi manfaat bagi manusia. Maka yang baik adalah yang ada manfaat dan sebaliknya.
4. Vitalisme, yang menyatakan ukuran baik buruk ditentukan oleh sejauh mana sesuatu perbuatan tersebut mendorong manusia untuk lebih maju. Maka yang baik adalah yang mendorong manusia untuk maju dan sebaliknya.
5. Idealisme, yang menyatakan ukuran baik buruk ditentukan oleh sesuai atau tidaknya suatu perbuatan dengan konsep ideal pikirann manusia. Maka yang baik adalah yang sesuai dengan ide pikiran manusia dan sebaliknya.
6. Teologis, yang menyatakan bahwa baik dan buruknya sesuatu perbuatan ditentukann oleh sesuai atau tidaknya sesuatu perbuatan dengan ketentuan agama. Maka yang baik adalah yang sesuai dengan ajaran agama dan sebaliknya.[5]
           
     Dari beberapa teori diatas dapat kita simpulakan bahwa baika atu buruknya sesuatu perbuatan dilihat dari bagaimana sudut pandang manusia yang melihatnya. Maka jangan heran ketika ada manusia berselisih karena perbedaan persepsitentang sesuatu, baik bagi seseorang belum tentu baik bagi orang lain begitu sebaliknya. 

3.      Nilai Kebenaran
     Kebenran secara ontologi adalah sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan.[6] Maka nilai kebenaran adalah nilai dasar yang sudah ada pada segala sesuatu yang ada. Benar atau tidaknya sesuatu tergantung sudut pandang manusia tentang sesuatu itu. Maka apa yang dianggap benar oleh seseorang belum tentu benar bagi orang lain. Walaupun pada dasarnya kebenaran itu satu. 

Ada beberapa hal yang harus diketahui tentang kebenaran, yaitu :
a.       Sumber Kebenaran
     Sumber kebenaran adalah dimana atau sudut pandang apa manusia bisa mengatakan sesuatu itu benar. Dan pada realitas kehidupan akan menemukan bahwa dia tidak akan terlepas dari akal dan agama sebagai panduan dalam bertindak. Maka secara umum ada empat sumber kebenaran, antara laian : 
1. Pengalaman, yaitu pengalaman indrawi, misalkan gula manis itu dapat di buktikan kebenarannya dengan indra perasa yaitu lidah.
2. Akal atau rasio, akal yang menentukan benara atau tidak sesuatu. Maka yang benar menurut akal itulah kebenaran.
3. Wahyu, yaitu firman Tuhan yang telah disampaikan kepada manusia melalui para Nabi-nabi-Nya.
4. Intuisi, ilaha kebenaran yang didapat secara tiba-tiba tanpa menggunakan akal atau rasio untuk mendapatkannya.[7]

b.      Jenis Kebenaran
      Secara uumum ada beberapa jenis kebenaran, antara lain :
1. Kebenaran religious adalah kebenaran yang memenuhi kriteria atau dibangun berdasarkan kaidah-kaidah agama atau keyakinan tertentu.
2.  Kebenaran filosofis adalah kebenaran hasil perenungan dan pemikiran kontemplatif terhadap hakikat sesuatu.
3.  Kebenaran estesis, adalahh kebenaran yang berdasarkan penilaian indah atau buruk, serta cita rasa estesis.
4. Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang ditandai oleh terpenuhnya syarat-syarat ilmiah, terutama menyangkut teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti.[8]

c. Kriteria kebenaran epistemologis
    Dalam permasalahan kriteria kebenaran epistemologis, kita akan kembali bicara tentang jenis-jenis kebenaran. Jenis-jenis kebenaran itu sebagai berikut :   
1. Kebenaran absolute, yaitu kebenaran mutlak. Kebenaran ini bercirikan kebenaran yang benar dengan sendirinya, tdak berubah-rubah dan tidak butuh pengakuan dari siapapun agar dikatakan benar.
2. Kebenaran relative, yaitu kebenaran yang berubah-ubah. Kebenaran relative tidak akan pernah satu karena itu berasal dari kelogisan akal manusia. Berbeda manusia maka berbeda pula pemikirannya.
3. Kebenaran spekulatif, yaitu kebenaran yang bersifat kebetulan dengan landasan rasional dan logis.
4. Kebenaran korespondensi, yaitu kebenaran yang bertumpu pada realitas objektif. Ciri kebenaran ini adalah sesuai pernyataan dan knyataan, antara teori dan praktik.
5. Kebenaran pragmatis, yaitu kebenaran yang diukur seberapa manfaat sesuatu bagi kehidupan manusia. Maka yang benar adalah yang ada manfaat bagi manusia itu sendiri.
6. Kebenaran normatif, yaitu kebenaran yang berdasarkan kepada sistem social yang telah baku.
7. Kebenaran religious, yaitu kebenaran yang berlandaskan pada nilai-nilai dan ajaran agama.
8. Kebenaran filosofis, ialah kebanaran hasil perenungan dan pemikiran refleksi ahli filsafat yang disebut hakikat, meskipun bersifat subjektif. Namun mendalam karena melalui penghayatan eksistensial bukan hanya pengalaman dan pemikiran intelektual semata.
9. Kebenaran estetis, adalah kebenaran yang didasarkn pada pandangan tentang keindahan dan keburukan.
10. Kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang ditandai oleh terpenuhnya syarat ilmiah, menyangkut relevansi antara teori dan kenyataan hasil penelitian di lapangan.
11. Kebenaran teologis, yaitu kebnaran yang didasarkan apada firman-firman Tuhan, sebagai pesan-pesan Tuhan yang filosofis.
12. Kebenaran Idealogis, yaitu kebenaran yang tidak menyimpang dari cita-cita kehidupan bangsa.
13. Kebenaran konstitusional, yaitu kebenaran berlandaskan undang-undang. Maka yang benar adalah yang sesuai dengan undang-undang dan sebaliknya.
14.  Kebenaran logis, yaitu kebenaran karena lurusnya berfikir.[9]

     Untuk  mengetahui kebenaran tentu kita perlu langkah-langkah atau cara untuk mengetahuinya karena walaupun terkadang memang kebenaran itu berbeda bagi masing-masing individu karena punya sudut pandang berbeda. Namun ada waktu di mana manusia perlu menyesuaikan persepsi tentang kebenaran yang akan menghasilkan sebuah, dimana seseorang bias mengakui kebenaran orang lain. Maka dalam hal ini kita perlu tahuu teori bagaimana sesuatu itu bias dikatakan benar, sehingga manusia satu sama lain bias saling memahami kebenaran satu sama lain dan tidak mengklaim bahwa saya atau kita yang benar. 

Teori-teori kebenaran itu ada tiga, yaitu :
1. Teori koresponden
Menurut paham ini, kebenran terjadi jika ada kesesuaian antara bentuk-bentuk simbolik bahasa, seperti kata, kalimat gagasan, atau pikiran dengan keadaan nyatanya, yakni objek yang berada di luar kita.
2. Teori koheren
Menurut paham ini, kebenaran dilihat dari relevansi pernyataan yang ada dengan pernytaan yang sebelumnya.
3. Ppragmatik
Teori pragmatis berasal dari kata Yunani yaitu pragma, yang berarti tindakan. Kebenaran menurut teori ini, bukanlah suatu keadaan melainkan tindakan. Kebenaran bukan bersifat statis antara pikiran dan dunia luar, melainkan keterkaitannya dengan konsekuensi terhadap tindakan.[10]

C.  PENUTUP
       Banyak defenisi tentang nilai. Namun akan lebih mudah bagi kita untuk memaknai nilai sebagai hakikat yang melekat pada segala sesuatu yang ada atau dengan kata lain sifat dari segala sesuatu itu. Maka nanti akan kita jumpai ada nilai yang memang sudah ada pada sesuatu yang kita kenal dengan teori nilai objektif dan adapula nilai yang diberikan si pemberi nilai yaitu manusia yang kita kenal dengan teori nilai subjektif.



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abidin, Zainal. Pengantar Filsafat Barat. Bandung : Raja Grafindo Persada. 2011.
Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 2011.
Nasution, Hasan Bakti. Filsafat Umum. Jakarta : Gaya Media Pratama. 2001.
Saebani, Beni Ahmad. Filsafat Ilmu. Bandung : Pustaka Setia. 2009.
Wahana, Paulus. Nilai : Etika Aksiologis Max Scheler. Yogyakarta : Kansius. 2014.
http://bisikankalbu.files.wordpress.com/2008/11/3-pancasila-sebagai-falsafah-hidup-bangsa-Indonesia.pdf









[1] Beni Ahmad Saebani, Filsafat Ilmu, (Bandung : Pustaka Setia, 2009), h. 190.
[2] Ibid, h. 191.
[3] http ://bisikankalbu.files.wordpress.com/2008/11/3-pancasila-sebagai-falsafah-hidup-bangsa-Indonesia.pdf (20 Oktober 2014, 11.00 wib).
[4] Paulus Wahana, Nilai : Etika Aksiologis Max Scheler, ( Yogyakarta : Kansius, 2014) h. 56.
[5] Hasan Bakti Nasution, Filsafat Umum (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2001), h. 25-26.
[6] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2011), h. 111.
[7] Amsal Bakhtiar, Ibid, h. 98-110
[8] Amsal Bakhtiar, Ibid, h. 83-135.
[9] Amsal Bakhtiar, Ibid, h. 137-138.
[10] Zainal Abidin, Pengantar Filsafat Barat, (Bandung : Raja Grafindo Persada, 2011), h. 53-54.