INDAHNYA BERBAGI: Makalah Filsafat Adat Minangkabau (FAM)

Amazing

Sunday, 30 November 2014

Makalah Filsafat Adat Minangkabau (FAM)


POLA PIKIR MASYARAKAT MINANGKABAU

      A. PENDAHULUAN
Sebelum kedatangan agama Islam , orang Minangkabau mengatur kehidupan mereka dengan menggunakan akal, fikiran dan perasaan untuk berguru kepada alam. Berguru kepada alam artinya ialah mengamati, memikirkan dan mengambil pelajaran dari keteraturan alam.
Unsur-unsur alam yang berbeda kadar dan fungsinya mempunyai peranan yang seimbang dalam menjaga keharmonisan. Dengan adanya keseimbangan unsur-unsur itu akan saling berhubungan antara satu sama lainnya, tetapi ridak saling mengikat. Unsur-unsur alam saling tidak bertentangan tetapi tidak saling melenyapkan, dan unsur-unsur alam juga berkelompok tetapi tidak meleburkan dan menafikan keberadaan masing-masing unsur, sebaliknya unsur-nsur itu sesuai dengan kadar dan funngsinya berperan dalam mewujudkan keharmonisan hidup berkelompok. Untuk lebih jelasnya bagaimana pola pikir masyarakat Minangkabau penulis akan membahasnya dalam makalah kali ini.

      B. PEMBAHASAN
1.      Landasan Berfikir
Pada dasarnya semua ketentuan adat Minangkabau yang terhimpun dalam pepatah-petitih adalah rasional atau masuk akal, karena itu hal-hal yang irrasional seperti ilmu klinik, mistik, takhayul kurang berkembang di Minangkabau.
Dari pada membicarakan tuyul, kuntilanak, babi ngepet, gunung kawi, dan semacam itu orang minang lebih suka jual-kamper, bersorak-sorak di kaki lima dan perbuatan nyata yang lain dan bahkan berkelana dan  merantau untuk merubah nasib diri.
Landasan berfikir orang Minang tercakup dalam Pepatah Adat yang berbunyi sebagai berikut :
Rumah basandi batu
Adat basandi Alue Patuik
Mamakai Anggo jo Tanggo
Sarato raso jo Pareso
Artinya:
Rumah bersendi batu
Adat bersendi jalan yang benar dan pantas
Memakai aturan yang wajib diturut
Serta budii pekerti dan kecermatan[1]

Kalau kita perhatikan sejarah kehidupan orang Minang, mereka sering mengadakan perlawanan terhadap kondisi yang tidak menyenangkan. Kebiasaan merantau misalnya, baik disebabkan oleh kesulitan hidup atau alasan ekonomi ataupun alasan mencari ilmu, bahkan meninggalkan nagari karena merasa tidak aman karena prakara politik sebenarnya merupakan perlawanan terhadap kendala yang dihadapi orang Minang. Mereka bergulat untuk dapat keluar dari suatu kondisi yang tidak menyenangkan.
Seterusnya juga kita lihat bagaimana gigihnya orang Minang menentang penjajahan dan penindasan seperti pembangkangan terhadap  Tanama Paksa, Perang Paderi, PRRI dan sebagainya. Bahkan pelopor kemerdekaan nasional kebanykan putera Minang.
Dengan demikian terdapat 4 landasan pokok berfikir orang Minang menurut adat yaitu :
1.      Logika atau alue patuik
2.      Tertib hokum atau anggo tango
3.      Ijtihad atau raso pareso
4.      Dialektika atau Musyawarah mufakat (sinthesa)
Keempat landasan berfikir ini membentuk pola pikir orang Minang pada umumnya.[2]


2.      Alue Patuik
Alue artinya alur atau jalur jalann yang benar.
Patuik artinya pantas – sesuai atau masuk akal.
Alua patuik artinya orang Minang harus dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya.
Tujuan utama dri prinsip “alue patuik” ini adalah untuk menciptakan keadilan dalam masyarakat dan sekaligus menghindari sangketa antara anggota masyarakat. Dengan cara demikianakan tercpai kehidupan yang rukun, aman dan damai. Sebaliknya bila prinsip “alue dan patuik" ini tidak diamalkan didalam kehidupan sehari-hari, maka dapat dipastikan segera datangnya malapetaka dalam masyarakat dalam bentuk percekcokan, kerusuhan dan huruhara.
Pepatah adat menyebutkan sebagai berikut :
Urang Makah mambao Taraju
Urang Baghdad mambao Talua
Talua dimakan bulan puaso
Rumah Gadang basandi batu
Adat basan Alue
Alua itu kaganti rajo
Pepatah ini menyatakan bahwa salah satu sendi atau landasan pokok dari Adat Minang adalah prinsip “alue dan patuik” itu. Prinsip alue dan patuik haruslah kita jadikan panutan (raja) dalam kehidupan sehari-hari, kalau kita ingin suatu masyarakat yang rukun, aman dan damai.
Selanjutnya adat juga menentukan :
Manarah manurik alue
Nan baukue nan di karek
Nan babarih nan dipahek

Pepatah ini menuntut kita untuk selalu berbuat sesuai dengan aturan-aturan yang sudah disepakati, atau melakukan sesuatu sesuai yang telah direncanakan sebelumnya. Dengan istilah manajemen prinsip ini kiranya dapat diterjemahkan bahwa segala sesuatu yang akan dilakukan haruslah mempunyai suatu rencana yang sudah matang. Pelaksanaannya harus sesuai dengan rencana yang sudah ada itu. Baukue dan babarih kiranya dapat diterjemahkan dengan istilah Rencana atau Planning.[3]
Berpijak dari falsafah alam ini masyarakat Minangkabau dapat mengambil pelajaran bahwa setiap individu dalam masyarakat sama pentingnya walaupun kemampuan dan peranan mereka berbeda-beda. Seperti kata pepatah :
“Yang buto mahambuih lasuang, yang pakak malapeh badie, yang lumpuah panghuni rumah, yang kuek mambawo baban, yang kayo tampaek batenggang, yang andie disuruah-suruah, yang cadiak lawan barundiang”[4]

3.      Anggo-Tanggo
Anggo artinyaanggaran seperti Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Anggo tango artinya peraturan atau segala yang ditentukan dan harus diturut. Limbago nan sapuluah juga disebut dengan Anggo tanggo. Jadi Anggo tanggo artinya mengerjakan sesuatu harus sesuai dengan aturan pokok dan aturan rumah tangga adat.
Tujuan yang ingin dicapai dengan prinsip Anggo tanggo ini adalah untuk menciptakan disiplin dan ketertiban dalam lingkungan kekerabatan, di lingkungan masyarakat dann dalam mengatur nagari.
Anggo-tanggo ini dihimpun dalam apa yang menurut adat disebut “Limbago nan sapuluah”, yang menjadi dasar dari Hukum Adat Minangkabau.
Limbago nan sapuluah itu terdiri dari “

Cupak nan Duo           :

1. Cupak Usali (asli)  
                                                                                                    
2. Cupak Buatan                                               

Undang nan Ampek :

1. Undang Undang Luhak Rantau  
                                                                            
2. Undang Undang Pembentuakan Nagari   
                                                                   
3. Undang Undang Dalam Nagari          
                                                              
4. Undang Undang nan 20 (Pidana Adat)     
                                          
Kato nan Ampek         :

1. Kato Pusako      
                                                                                                     
2. Kato dulu   
                                                                                                             
3. Kato Buatan  (Kato Mufakat)   
                                                                                
4. Kato Kamudian (Kato Bacari)[5]

Cupak artinya takaran atau timbangan atau Hukum. Cupak dalam dalam Adat Minangkabau diartikan sebagai alat ukur nilai-nilai keperluan materil ekonomis dan alat ukur nilai-nilai kebenaran dan moral kehidupan. Terhadap Cupak Usali dan Cupak Buatan disebut juga dengan Cupak Nan Duo.  
Cupak Usali artinya Hukum Asli. Cupak usali ialah nilai-nilai benar, baik dan adil yang didasarkan kepada Adat yang sabana adat, yaitu agama dan falsafah alam takambang jadi guru serta Adat yang diadatkan yang telah diterima dari nenek moyang.
Cupak Buatan artinya Hukum Perelengkapan. Cupak Buatan ialah nilai-nilai benar dan baik berdasarkan hasil musyawarah dan kesepakatan para pemimpin yang berlaku menurut tingkat kesepakatan dan lingkungan yang ditentukan oleh pembuatnya.[6]
Dari Undang Undang nan Ampek dan Kato nan Ampek, dapat dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu UU Pokok (Cupak Usali) dan UU Perlengkapan (Cupak Buatan) menjadi sebagai berikut : 
UU POKOK (CUPAK USALI)  
                                                                                     
1.Luhak Rantau      
                                                                                                              
2.UUPembentukan Nagari
                                                                                                     
3. Kato Pusako       
                                                                                                          
4. Kato Daulu                      
                                                                               
UU PELENGKAP (CUPAK BUATAN)   
                                                                              
1. UU Dalam Nagari        
                                                                                                
2. UU Nan 20      
                                                                                                                   
3. Kato Buatan (Kato mufakat) 
                                                                                           
4. Kato Kamudian (Kato Bacari)

 1.      Undang-undang luhak dan rantau
Undang-undang luhak dan rantau mengatur hal-hal yang berkaitan dengan luhak dan rantau, seperti tugas penghulu dan raja di daerah rantau, undang-undang luhak dan rantau ini dikatakan dalam pantun adat yang mengatakan :
Mancampak sambia kahulu
Kanailah pantau di kualo
Dilatak dalam cupak
Dijarang jo sipadeh
Luhak dibari pangulu
Rantau dibari barajo
Tagak indak tasondak
Malenggangg indak tapampeh

Pengertiannya didaerah luhak yang mengaturnya adalah penghulu, sedangkan di daerah rantau yang akan ganti penghulu disebut rajo. Kedua pemimpin ini yaitu penghulu dan raja mempunyai wewenang penuh di daerah masing-masing. [7]

2.      Undang-undang pembentukan nagari
Undang-undang nagari mengatur segala sesuatu mengenai nagari sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum adat. Menurut Undang-undang mengenai nagari dikemukakan oleh Taliban adat sebagai berikur :
Anak gadih mangarek kuku
Dikarek jo pisau sirauik
Pangarek batuang tuo
Batuang tuo elok ka lantai
Nagari baampek suku
Dalam suku babuah paruik
Kampuang ban nan tuo
Rumah batungganai.

Pada mulanya dengan pengertian sebuah nagari mempunyai sekurang-kurangnya terdiri empat suku, setiap suku terdiri pula dari perut-perut atau kaum. Dalam sebuah kampung ada yang di tuakan, setiap rumah gadang ada mempunyai tungganai (mamak yang dituakan).[8]

3.      Kato Pusako
Kato pusako (kata pusaka) itu diwariskan dengan pengertian segala ketentuan-ketentuan yang telah dituangkan dalam bentuk pepatah petitih dan lain-lain merupakan peninggalan-peninggalan nenek moyang orang Minangkabau pada masa dahulu terutama dari tokoh-tokoh adatnya, yaitu Datuak Katumangguangan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Yang termasuk kata pusakadapat dikemukakan sebagai berikut :    
                                                                          
 Nan babarih nan bapahek                                                                                          

Nan baukua nan bajangko 
                                                                                    
Mamahek manuju barih   
                                                                                      
Tantang bana lubang katabuak   
                                                                        
 Manabang manuju pangka   
                                                                                 
Malantiang manuju tangkai      
                                                                                   
Tantang buah ka lareh[9]

4.Katodahulu batapati                                                                                                         
Kata dahulu ditepati mempunyai arti bahwa segala ketentuan yang telah disepakati, baik keputusan dalam memecahkan sesuatu masalah ataupun norma-norma yang telahdisepakati untukkepentingan hidup bersama tidak boleh menyimpang dari hasil kesepakatan tadi. Ketentua adat mengatakan :
Pitaruah indak dihunikan
Pasan indak dituruti
Contoh dari kata dahulu ditepati seperti janji yang telah dibuat sebelumnya dan janji ini hendaknya ditepati oleh kedua belah pihak dan dalam adat dikatakan : Janji harus ditepati, ikrar harus dimuliakan.[10]

Selanjutnya akan di uraikan secara ringkas mengenai “Cupak Buatan” atau Hukum Pelengkap sebagai berikut :
1.      Undang-undang dalam nagari
Undang-undang dalam nagari atau lazim disebut dengan Undang Undang Isi Nagari adalah peraturan tentang hubungan antara sesame anggota masyarakat baik menyangkut tindak perdata, tindak pidana, atau tindak kerjasama.
Pengaturan dalam bidang perdata misalnya :
Adat pinjam melunasi
Utang babaie - piutang ditarimo
Salah ditimbang - kusuik disalasaikan

Urang Kubang mambao aie
Urang Padang mambao bareh
Nan bautang nan mambaie
Nan mancancang nan mamapeh

Dalam mendorong kerjasama dalam masyarakat, pepatah Minang mengajarkan :
Barek samo dipikue
Ringan samo dijinjiang
Ado samo dimakan
Indak samo dicari
Ka bukik samo mandaki
Kalurah samo manurun
Talantang samo minum aie
Talungkuik samo minum tanah
Kok jauah kana mangana
Dakek jalang manjalang[11]

2.      Undang-undang nan 20
Undang-undang nan 20 menguraikan bentuk-bentuk kejahatan. Cara pembuktian dan penentuan tuduhan secra adat. Undang-undang nan 20 terdiri dari :
8 buah Undang-undang yang menyangkut Bentuk kejahatan.
6 buah Undang-undang yang menyangkut Pembuktian Kesalahan
6 buah Undang-undang yang menyangkut Pendakwaan atau tuduhan.

3.      Kata buatan (Kato Mufakat)
Yang dimaksud “kata buatan” ialah ikrar yang diterapkan berdasarkan persetujuan semua pihak dalam suatu permusyawarahan yang dilakukan menurut “alue dan patuik” sepanjang adat.
Bulek aie dek pambulue
Bulek kato dek mufakat
Tuah sakato nan basamo

4.      Kata kemudian (Kato Bacari)
Yang dimaksud “kata kemudian” atau lazim disebut dengan “ Kato kamudian kato bacari” ialah suatu ikrar yang terpaksadiperbaharui karena tidak terlaksanakannya ikrar terdahulu.
Pepatah Minang menyebut :
Janji ditapati
Ikrar dimuliakan
Jadi setiap janji harus detepati, namun kadang-kadang “manusia merencanakan Tuhan yang menentukan”. Adakalanya suatu ikrar yang diucapkan tidak dapat terpenuhi, sehingga perlu diadakan perubahan.
Perubahan yang semacam ini dianggap lazim pula dalam adat, seperti pepatah berikut :
Alang ndak sakali mainggok
Pikiran ndak sakali tumbuah[12]

4.      Raso jo Pareso
Raso artinya rasa
Pareso artinya periksa atau teliti
Raso jo pareso artinya membiasakan mempertajam rasa kemanusiaan atau hati nurani yang luhur dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menghadapi setiap masalah membiasakan diri melakukan penelitian yang cermat untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki dan tidak teergesa-gesa dalam bertindak.
Jadi yang dimaksud dengan raso dalam adat adalah “budi baik” seperti kata pantun pepatah sebagai berikut :
Nan kuriak iolah kundi
Nan merah iolah sgo
Nan baiak iolah budi
Nan indah iolah baso (basa-basi)

Perbedaan antara “raso” dengan “pareso” disebut dalam pepatah sebagai berikut
Raso tumbuah di dado
Pareso timbua di kapalo

“Alua jo Patuik – Anggo jo Tanggo – Raso jo Pareso” dalam adat sering disebut dengan istilah “Tungku nan tigo sajarangan”.[13]

      C. PENUTUP
Pada dasarnya semua ketentuan adat Minangkabau yang terhimpun dalam pepatah-petitih adalah rasional atau masuk akal, karena itu hal-hal yang irrasional seperti ilmu klinik, mistik, takhayul kurang berkembang di Minangkabau.



DAFTAR KEPUSTAKAAN
                        
Amir. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Jakarta : PT Mutiara Sumber Widiya. 1997.
Ibrahim Dt. Sanggoeno Diradjo. Tambo Alam Minangkabau : Tatanan Adat Warisan Nenek Moyang Orang Minang. Bukittinggi : Kristal Multimedia. 2009.
Kamaluddin, Safrudin Halimy. Adat Minangkabau Dalam Perspektif Hukum Islam. Padang : Hayfa Press. 2005.






[1] Amir, Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, ( Jakarta : PT Mutiara Sumber Widiya, 1997), h. 76.
[2] Ibid, h. 76-77.
[3] Ibid, h. 77.
[4] Safrudin Halimy Kamaluddin, Adat Minangkabau Dalam Perspektif Hukum Islam, (Padang : Hayfa Press, 2005), h. 15
[5] Amir, Op. Cit, h. 78.
[6] Ibrahim Dt. Sanggoeno Diradjo, Tambo Alam Minangkabau : Tatanan Adat Warisan Nenek Moyang Orang Minang, ( Bukittinggi : Kristal Multimedia, 2009), h. 144.
[7] Ibrahim Dt. Sanggoeno Diradjo, Ibid, h. 114-115
[8] Ibrahim Dt. Sanggoeno Diradjo, Ibid, h. 119.
[9] Ibrahim Dt. Sanggoeno Diradjo, Ibid, h. 145.
[10] Ibrahim Dt. Sanggoeno Diradjo, Ibid, h. 147.
[11] Amir, Op. Cit, h. 82.
[12]Amir,  Ibid, h. 83-84
[13] Amir, Ibid, h. 84.