INDAHNYA BERBAGI: MAKALAH FILSAFAT ISLAM II

Amazing

Tuesday, 7 October 2014

MAKALAH FILSAFAT ISLAM II



IBNU KHALDUN : FILSAFAT SEJARAN DAN SOSIAL



   A.   PENDAHULUAN
Abdurrahman Ibn Khaldun (1332 M-1406 M), lahir di Tunisia, adalah sosok pemikir muslim legendaris. Khaldun membuat karya tentang pola sejarah dalam bukunya yang terkenal: Muqaddimah, yang dilengkapi dengan kitab Al-I’bar yang berisi hasil penelitian mengenai sejarah bangsa Barbar di Afrika Utara. Dalam Muqaddimah itulah Ibnu Khaldun membahas tentang filsafat sejarah dan soal-soal prinsip mengenai timbul dan runtuhnya negara dan bangsa-bangsa.
Arnold Toynbee, sejarawan asal Inggris, menilai kemampuan pemikiran dan karya-karya Ibnu Khaldun dapat disejajarkan dengan Thusydides dan Machiavelli. Bahkan, kini semakin banyak ilmuwan dunia yang memandang Ibnu Khaldun sebagai peletak dasar-dasar falsafah sejarah dan sosiologi. Tentang ihwal keruntuhan sebuah negara, simak sepenggal isi Muqaddimah:
“Ia berlaku disebabkan beberapa faktor utama seperti berlakunya kedzaliman, penindasan dan kehilangan akhlak di kalangan pemerintah serta kesatuan yang baik antara komuniti masyarakat ke arah mengislahkan kerusakan serta kerja menegakkan makruf dan mencegah kemungkaran yang berlaku.”
Ibnu Khaldun juga kesohor sebagai seorang sejarawan handal. Banyak diantara pemikirannya yang menjangkit soal sejarah. Tujuan umum penulisan sejarah bagi Ibnu Khaldun adalah agar generasi berikutnya dapat mengetahui dan menyikapi keadaan masa lalu, serta dapat mengambil ibrah dalam upaya membangun masa depan (masa depan tegak di atas masa lalu). Sejarahlah yang menjadi jembatan pertemuan masa lalu dan masa yang akan datang. Ibnu Khaldun sangat menonjol di antara sejarawan lainnya, karena memperlakukan sejarah sebagai ilmu, tidak hanya sebagai dongeng. Dia menulis sejarah dengan metode baru untuk menerangkan, memberi alasan, dan mengembangkannya sebagai sebuah filsafat sosial.

     B. PEMBAHASAN
1.      Riwayat Hidup dan Karya Ibnu Khaldun
‘Abd al-Rahman Abu Zaid Ibn Muhamm Ibn Khaldun (Lebiih dikenal dengan Ibnu Khaldun) lahir di Thunisia pada tanggal 1 Ramadahan 732 H / 27 Mei 1332 M dan meninggal di Chairo tanggal 25 Ramadhan 808 H/ 19 Maret 1406 M. Ia lebih dikenal sebagai pakar kenegaraan, sejarawan, dan ahli hukum dari mazhab Maliki. Asaal usul nenek moyangnya berasal dari Hadramaut yang kemudian melakukan imigrasi ke Seville (Spanyol) pada abad ke-8, bersamaan dengan gelombang penaklukan Islam di Semenanjung Andalusia. Keluarganya merupakan tokoh politik yang sangat berpengarauh.
Ibn Khaldun pertama sekali menerima pendidikan langsung dari ayahnya. Sejak kecil ia telah mempelajari tajwid, menghafal al-Qur’an, dan fasih dalam qira’at al-sab’ah. Disamping belajar dengan ayahnya, ia juga mempelajari tafsir, hadis, fiqih (Maliki), gramatika, Bahasa Arab, ilmu mantiq, dan filsafat dengan sejumlah ulama  Andalusia dan Thunisia. Disamping itu, Ibn Khaldun juga tertarik mempelajari dan menggeluti ilmu politik, sejarah, ekonomi, geografi, dan lain sebagainya. Ketika usianya melewati 17 tahun, ia kemudian belajar sendiri (otodidak), meneruskan apa yang telah diperolehnya pada masa pendidikan formal sebelumnya. Di samping memegang beberapa jabatan penting kenegaraan, seperti qadhi, diplomat, dan gurupada berbagai kesempatan.[1]
Ketenaran Ibnu Khaldun sebagai ilmuan dapat dilihat dari karya momumentalnya, al-Muqaddimah. Kitab ini sesungguhnya merupakan pengantar bagi karya universalnya yang berjudul Kitab al-‘Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi ayyami al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa man ‘Asarahun min Dzami as-Sulthan al-Akbar. Seluruh bangunan ilmunya dalam kitab al-Muqaddimah memaparkan ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah. Sementara cakupan kitab al-‘Ibar merupakan bukti empiris-historis dari teori yang dikembangkannya. Orisinalitas  dan kedalaman pemikirannya, telah berhasil meletakkan karyanya al-Muqaddimah sebagai sebuah karya besar yang unik dan melampaui zamannya.[2]
Ibnu Khaldun sudah memulai karirnya dalam bidang tulis menulis semenjak masa    mudanya, tatkala ia masih menuntut ilmu pengetahuan, dan kemudian dilanjutkan ketika ia aktif dalam dunia politik dan pemerintah. Adapun hasil karya-karyanya yang terkenal diantaranya adalah :   
1.  Kitab Muqaddimah, yang merupakan buku pertama dari kitab AL-‘Ibar, yang terdiri dari bagian Muqaddimah (Pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari seluruh persoalan dan buku tersebut pulalah yang mengangkat nama Ibnu Khaldun harum. Adapun tema Muqaddimah ini adalah gejala-gejala sosial dan sejarah. 
2.  Kitab Al-‘Ibar, wa Diwan Al-Mubtada’ wa Al-Khabar, fi Ayyam Al-‘Arab wa Al-‘Ajam wa Al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi As-Sulthani Al-‘Albar (Kitab Perjalanann dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan dan Zaman Akhir yang mencakup Peristiwa Politik Mengenai Orang-orang Arab, Non-Arab, dan Barbar, serta Raja-raja Besar yang Semasa dengan mereka) yang kemudian dikenal dengan kitab ‘Ibar.
3.    Kitab At-Ta’rif  bi Ibnu Khaldun wa Rihlatuhu Syarqan wa Gharban atau disebut secara ringkas dengan istilah At-Ta’rif, dan oleh orang-orang Barat disebut otobiografi, merupakan bagian terakhir dari kitab Al-‘Ibar yang berisi tentang beberapa bab mengenai kehidupan Ibnu Khaldun.[3]

2.      Filsafat Sejarah
a.       Pengertian Sejarah
Menurut Ibn Khaldun, sejarah adalah salah satu displin ilmu yang di pelajari secara luas oleh bangsa-bangsa dan generasi-generasi. Untuk kebutuhan itu dipersiapkan kesadaran-kesadaran dan dilakukan perjalanan-perjalanan. Rakyat awam mempunyai semangat tinggi untuk mengetahuinya. Para Raja dan pemuka rakyat berlomba-lomba memahaminya.
Antara orang-orang terpelajar dan orang-orang bodoh terdapat kadar yang sama di dalam memahaminya. Sebab, pada permukaannya sejarah tidak lebih dari sekedar  keterangan tentang peristiwa-peristiwa politik, negara-negara dan kejadian-kejadian masa lampau. Ia tampil dengan berbagai bentuk ungkapan dan perumpamaan.
Dalam perjamuan-perjamuan besar, peristiwa-peristiwa itu dituturkan sebagai sajian. Peristiwa-peristiwa itu juga mengajak memahami ihwal makhluk, bagaimana situasi dan kondisi membentuk perubahan, bagaimana negara-negara memperluas wilayahnya, dan bagaimana mereka memakmurkan bumi sehingga gterdorong mengadakan perjalanan jauh, hingga di telan waktu, lenyap di panggung bumi.
Dalam hakikat sejarah, terkandung pengertian observasi dan usaha mencarikebenaran (tahqiq), keterangan yang mendalam tentang sebab dan asal benda wujudi, serta pengertian dan pengetahuan tentang substansi, esensi, dan sebab-sebab terjadinya peristiwa. Dengan demikian, sejarah benar-bnar terhunjam berakar dalam filsafat, dan patut dianggap sebagai sebagai salah satu cabang filsafat.[4]

b.      Manfaat besar historigrafi
Sejarah merupakan disiplin ilmu yang memiliki metode (mazhab) mantap, aspek penggunaan yang sangat banyak, dan memiliki sasaran yang mulia. Ibn Khaldun mengatakan bahwa sejarah membuat kita paham akan hal-ihwal bangsa-bangsa terdahulu, yang merefleksi diri dalam prilaku kebangsaan mereka. Sejarah membuat kita mengetahui biografi para nabi, serta negara dan kebijaksanaan para raja. Sehingga menjadi sempurnalah faedah mengikuti jejak historis bagi, orang yang ingin mempraktekkannya dalam soal agama dan dunia.

c.       Ulasan sepintas kesalahan yang dilakukan para sejarahwan
Penulisan sejarah membutuhkan sumber yang beragam dan pengetahuan yang bermacam-macam. Ia juga membutuhkan perhitungan yang tepat dan ketekunan. Kedua sifat ini membawa sejarahwan pada kebenaran dan menyelamatkannya dari berbagai tergelinciran dan kesalahan. Sebab apabila catatan sejarah mereka Cuma di dasarkan pada pengetahuan yang jelas tentang prinsip-prinsip yang ditarik dari kebiasaan, tentang fakta-fakta politik yang fundamental, tentang watak peradaban dan tentang segala hal-ihwal yang terjadi di dalam kehidupan social manusia serta selanjutnya, apabila sejarah tidak diperbandingkan antara materinya yang ghaib dengan materinya yang nyata, antara yang baru dengan yang kuna, pasti akan ditemukan batu penghalang, ketergelinciran dan kekhilafahan di dalam berita sejarah tersebut.[5]
Menurut Ibnu Khaldun banyak sejarahwan, ahli tafsir dan ulama penukil terkenal melakukan kesalahan dalam mengemukakan hikayat-hikayat dan peristiwa-peristiwa sejarah. Hal ini terjadi karena mereka hanya begitu saja menukilkan hikayat dan berita sejarah itu, tanpa memeriksa  benar-salahnya. Mereka tidak mengeceknya dengan prinsip yang berlaku pada situasi historis, tidak memperbandingkannya dengan materi-materinya yang serupa. Mereka juga tidak menyelidikinya dengan ukuran filsafat, dengan bantuan pengetahuan tentang watakk alam semest, perenungan dan dengan pengetahuan yang mendalam tentang peristiwa-peristiwa sejarah. Oleh karena itu, mereka menyimpang dari kebenaran dan menemukan dirinya tersebutb ditengah padang praduga dan kesalahan.
Hal ini khususnya terjadi di waktu menghitung jumlah harta dan tentara, apabila dikemukakan di dalam hikayat-hikayat. Wktu penghitungan itu merupakan kesempatan terbaikbagi masuknya informasi palsu, dan merupakan wadah bagi yang terjadinya keterangan yang bukan-bukan. Semua itu harus dikontrol dan di cek kembali dengan bantuan pengetahuan tentang fakta-fakta fundamental.
Misalnya, al-Mas’udi dan beberapa sejarahwan mereportasekan bahwa Nabi Musa as telah menghitung tentara Israel di padang pasir Tiih setelah ia membolehkan orang yang pantas membawa senjata, khususnya mereka yang berumur 20 tahun ke atas. Jumlah mereka terhitung 600 orang atau lebih. Dalam hal ini dia lupa mempertimbangkan, apakah luas Mesir dan Siria cukup memuat tentara sebanyak itu. Masing-masing kerajaan mempunyai jumlah milisi yang setara dengan wilayah yang dapat dipertahankan dan disokongnya, tak lebih dari itu. Fakta ini terbukti oleh kebiasaan yang berlaku dan keadaan yang sudah dikenal.
Dengan jumlah tentara sebanyak itu tak mungkin terjadi penyeburan atau peperangan. Karena luas medan terlalu sempit. Jika berada ditengah medan pertempuran, dan barisan mereka memanjang dua, jumlahnya akan tiga atau lebih dari tiga kali batas lapangan pandangan. Dengan situasi demikian bagaimana mungkin kedua barisan itu dapat bertempur?[6]

d.      Faktor kebohongan terhadap sejarah
Keterangan sejarah menurut wataknya bisa dirembesi kebohongan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini :
1.     Semangat terlibat kepada pendapat-pendapat dan mazhab-mazhab. Apabila pikiran dalam keadaan netral dan normalnya menerima informasi, diselidikinya dan ditimbang-timbangnya informasi itu, sehingga ia dapat menjelaskan kebenaran yang terdapat di dalamnya. Namun, apabila pikiran dihinggapi semangat terlibat terhadap suatu pendapat atau kepercayaan maka dengan serta-merta pikiran akan menerima setiap informasi yang menguntungkan pendapat atau kepercayaan. Oleh karena itu, semangat terlibat merupakann penutup terhadap pikiran, mencegahnya untuk mengadakan kritis dan analisa, dan membuat pertimbanganna condong kepada kebohongan. Akibatnya, kebohongan itu diterima dan dinukilkan
2.   Terlalu percaya pada orang-orang yang menukilkan. Pemeriksaan terhadap subjek ini tergantung kepada ta’dil dan tarjih.
3.  Tidak sanggup memahami maksud yang sebenarnya. Maka benyak sekali para penukil tidak mengetahui maksud sebenarnya dari observasinya, atau segala sesuatu yang ia pelajari hanya menurut pikiran dan pendengarannya saja.
4.     Asusmsi yang tak beralasan terhadap kebenaran suatu hal. Ini sering sekali terjadi. Pada umumnya asumsi iu muncul dalam bentuk terlalu kepercayaan kepada kebenaran para penkil.
5. Ketidaktahuan bagaimana kondisi-kondisi sesuai dengan realitas, disebabkan kondisi-kondisi itu dimasuki ambisi-ambisi dan distori-distori artifisial.
6. Adanya fakta bahwa kebanyakan manusia cenderung untuk mengambil hati orang-orang yang berprediket besar dan orang –orang yang berkedudukan tinggi dengan jalan memuji-muji, menyiarkan kemasyhuran, membujuk-bujuk, menganggap baik segala perbuatan dan memberi tafsiran yang selalu menguntungkan terhadap semua tindakan mereka. Hasilny, informasi yangh dipublikasikan dengan cara demikian menjadi tidak jujur dan menyimpang dari  yang sebenarnya.
7.  Ketidak tahuan tentang watak berbagai kondisi yang muncul dalam peradaban. Setiap peristiwa (fenomena) baik yang berhubungan dengan esensi maupun yang dihasilkan oleh perbuatan, pasti mempunyai watak khas untuk esensi peristiwa tersebut, dan juga untuk kondisi-kondisi peristiwa yang melebur diri kedalamnya .[7]

3.      Filsafat Sosiologi
a.       Peradaban Ummat Manusia Secara Umum
Sesungguhnyna organisasi kemasyarakatan (ijtima’ insani) umat manusia adalah satu keharusan. Para filosof telah melahirkan kenyataan ini dengan perkataan mereka : “Manusia adalah bersifat politis menurut tabiatnya”. Ini berarti, ia memerlukan satu organisasi masyarakat, yang menurut para filosof dinamakan “kota” (al-madinah).
Dan itulah yang dimaksud dengan peradaban (‘umran) . Keharusan adanya organisasi kemasyarakatan manusia atau peradaban itu dapat diterangkan oleh kenyataan, bahwa Allah SWT telah menciptakann dan menyusun manusia itu menurut satu bentuk yang hanya dapat tumbuh dan mempertahankan hidupnya dengan bantuan makanan . Ia memberi petunjuk kepada manusia itu atas keperluan makan menurut watak dan memberi padanya kodrat kesanggupan untuk memperoleh makanan itu.
Tetapi kodrat manusia tidak cukup hanya untuk memperoleh makanan. Sekalipun makanan itu ditekankan sedikit-dikitnya sekedar cukup untuk makan sehari-hari saja, misalkan sedikit gandum diperlukan usaha yng cukup banyak juga. Misalnya menggiling, meremas, dan memasak. Masing-masing pekerjaan membutuhkan sejumlah alat dan hal inipun menuntut pekerjaan tangan lebih banyak lagi dari yang telah disebutkan di atas. 
Adalah diluar kemampuan manusia untuk melakukan semua itu atau sebagiannya kalau hanya sendiri saja. Jelas bahwa ia tidak dapat berbuat banyak tanpa bergabung dengan beverapa tenaga lain dari sesama manusia, jika ia hendak memperoleh makanan bagi dirinya dan sesamanya. Dengan bergotong royong maka kebutuhan manusia, kendati beberapa kali lebih banyak dari jumlah mereka, dapat dipenuhi.
Oleh karena itu organisasi masyarakat menjadi keharusan bagi manusia. Tanpa organisasi itu eksistensi manusia tidak akan sempurna. Keinginan Tuhan hendak memakmurkan dunia dengan makhluk manusia dan menjadikan mereka khalifah dipermukaan bumi ini tentulah tidak akan terbukti. Inilah arti yang sebenarnya dari peradaban.[8]

b.      Fenomena sosial
Ibnu Khaldun telah membahas gejala-gejala kemasyarakatan atau fenomena sosial dan dai memberi istilah waqi’atu I’-umran al basyari atau ahwaluh I-ijtima’ al-insan.
Dia sendiri tidak memberikan definisi secara langsung untuk gejala-gejala kemasyarakatan itu. Juga tidak menerangkan ciri-ciri khas serta perbedaan-perbedaan  gejala-gejala kemasyarakatan itu dengan gejala-gejala lainnya seperti dilakukan oleh sosiolog yang hidup di abad ini, misalnya Durkheim yang telah menulis panjang lebar tentang gejala-gejala sosial  di dalam buku Les Regles de la Methode Sociologigue. Ibnu Khaldun hanya memberikan contoh gejala-gejala masyarakat itu dalam pembukaan Muqaddimahnya. Katanya :
“Hakikat sejarah adalah catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat itu, seperti keliaran, keramahtamahan, dan solidaritas golongan tentang revolusi-revolusi dan pemberontakan-pemberontakan oleh segolongan rakyat melawan golongan yang lain dengan akibat timbulnya kerajaaan-kerajaan dan negara-negara dengan bermacam-macam tingkat, tentang macam-macam kegiatan dan kedudukan orang, baik untuk mencapai penghidupannya maupun dalam memperoleh bermacam-macam cabang ilmu pengetahuan dan teknologi dan pada umumnya tentang perubahan yang terjadi dalam masyarakat karena watak masyarakat itu sendiri. . . (al-Muqaddimah, al-Bayan : 261).
Juga :
“Di dalam kitab ini, sekarang kami akan menerangkan gejala-gejala masyarakat, yang menyangkut hal ihwal dan keadaan masyarakat dalam soal hak milik, mata pencaharian, ilmu pengetahuan dan produksi” (al-Muqaddimah, al-Bayan : 270)
Dari contoh-contoh yang dikemukakan Ibnu Khaldun diatas, secara singkat dapat menarik definisi dari gejala-gejala masyarakat, yaitu : kaidah-kaidah dan kecendrungan-kecendrungan umum yang dibentuk oleh individu-individu satu masyarakatsebagai dasar dalam mengatur masalah-masalah sosial yang terjadi di antara mereka, serta mempererat hubungan-hubungan yang mengikat mereka satu sama lainnya dan yang mengikat mereka dengan orang selain golongan mereka.[9] 

c.       Sebab-sebab yang mendorong Ibnu Khaldun Menciptakan Ilmu Baru
Sebab terpenting yang mendorong Ibnu Khaldun mneciptakan ilmu barunya, sosiologi adalah keinginannya yang penuh semangat untuk membebaskan pembahasan-pembahasan historis dan berita-berita bohong. d
Disamping itu tak kalah pula pentingnya dorongan pribadinya untuk menciptakan suatu alat yang dapat dipergunakan oleh ahli-ahli bahasa dan para pengarang yang terjun ke dalam dunia ilmu sejarah untuk dapat membedakan berita-berita yang jujur dan berita-berita yang bohong, yang berhubungan dengan gejala-gejala masyarakat. 
Ibnu Khaldun melihat bahwa kitab-kitab sejarah yang telah dikarang orang sebelumnya telah diliputi dan dipenuhi berita-berita yang tidak objektif. Dia berpendapat bahwa dia wajib membebaskan sejarah dari berita-berita semacam ini.[10]

   C. PENUTUP
Ibnu Khaldun merupakan seorang sosok pemikir muslim legendaries. Khaldun membuat karya tentang pola sejarah dalam bukunya yang terkenal: Muqaddimah, yang dilengkapi dengan kitab Al-I’bar yang berisi hasil penelitian mengenai sejarah bangsa Berber di Afrika Utara. Dalam Muqaddimah itulah Ibnu Khaldun membahas tentang filsafat sejarah dan soal-soal prinsip mengenai timbul dan runtuhnya negara dan bangsa-bangsa.
Ketenaran Ibnu Khaldun sebagai ilmuan dapat dilihat dari karya momumentalnya, al-Muqaddimah. Kitab ini sesunguhnya merupakan pengantar bagi karya universalnya yang berjudul kitab al-‘Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi ayyami al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa man ‘Asarahun min Dzami as-Sulthan al-Akbar. Seluruh bangunan ilmunya dalam kitab al-Muqaddimah memaparkan ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah. Sementara cakupan kitab al-‘Ibar merupakan bukti empiris-historis dari teori yang dikembangkannya. Orisinalitas  dan kedalaman pemikirannya, telah berhasil meletakkan karyanya al-Muqaddimah sebagai sebuah karya besar yang unik dan melampaui zamannya.
1.      Filsafat Sejarah
Menurut Ibn Khaldun, sejarah adalah salah satu displin ilmu yang di pelajari secara luas oleh bangsa-bangsa dan generasi-generasi. Untuk kebutuhan itu dipersiapkan kesadaran-kesadaran dan dilakukan perjalanan-perjalanan. Rakyat awam mempunyai semangat tinggi untuk mengetahuinya. Para Raja dan pemuka rakyat berlomba-lomba memahaminya.
2.      Filsafat Sosial
Sesungguhnyna organisasi kemasyarakatan (ijtima’ insani) umat manusia adalah satu keharusan. Para filosof telah melahirkan kenyataan ini dengan perkataan mereka : “Manusia adalah bersifat politis menurut tabiatnya”. Ini berarti, ia memerlukan satu organisasi masyarakat, yang menurut para filosof dinamakan “kota” (al-madinah).




                [1] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, danPraktis, (Jakarta : Ciputat pers, 2002), h. 91.
[2] Ibid, h. 92.
[3] Al-Allamah Abdurrahman Muhammad bin Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, Penerjemah : Masturi Irham, Malik Supar, Abidun Zuhri (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2011) h. 1085-1086.
[4] Al-Allamah Abdurrahman Muhammad bin Khaldun , Muqaddimah Ibn Khaldun, Penerjemah : Ahmadie Thoha,  (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2000), h. 3.
[5] Ibid, h. 12.
[6] Ibid, h. 13-14.
[7] Ibid, h. 58.
[8] Ibid, h. 71-72
[9] Ali Abdulwahid Wafi, Ibnu Khaldun : Riwayat dan Karyanya, (Jakarta : PT Grafitipers, 1985), h. 84-85.
             [10] Ibid, h. 95. 


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Muhammad bin Khaldun, Al-Allamah Abdurrahman. Muqaddimah Ibn Khaldun. Penerjemah : Ahmadie Thoha. Jakarta : Pustaka Firdaus. 2000.
---------------------------------------------------------------. Muqaddimah Ibnu Khaldun. Penerjemah : Masturi Irham, Malik Supar, Abidun Zuhri. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. 2011.
Nizar, Samsul. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, danPraktis. Jakarta : Ciputat      pers. 2002.
Wafi, Ali Abdulwahid.  Ibnu Khaldun : Riwayat dan Karyanya. Jakarta : PT Grafitipers. 1985.