INDAHNYA BERBAGI: TUGAS SA’IL : MENANGGAPI DA’WA

Amazing

Tuesday, 15 July 2014

TUGAS SA’IL : MENANGGAPI DA’WA

         A. PENDAHULUAN
Sebagaimana telah disampaikan pada bahasan sebelumnya, proses mujadalah,  sedikitnya akan melalui tiga tahapan pengujian. Tahapan yang dimaksud, yaitu man’u (meminta penjelasan), naqdhu (menolak penjelasan), dan mu’aradhah (mengajukan alternatif).
Makalah ini berjudul tentang sa’il judul ini kami ambil karna banyak pembahsan yang menarik didalam nya, makalah ini dibuat bukan hanya untuk pemenuhan tugas mata kuliah adabul bahtsi saja akan tetapi juga untuk mengetahui bagaimana kita bisa berdebat dengan baik dengan beretika dan sopan.
       B. PEMBAHASAN
Tugas Sa’il terbagi menjadi tiga tahapan pengujian. Tahapan yang dimaksud, yaitu man’u (menuntut dalil), naqdhu (menolak dalil), dan mu’aradhah (mengajukan alternatif).
1.      Man’u (meminta penjelasan)
Man’u terhadap tasdhiq memiliki variasi dan penjabaran lebih luas dari pada man’u terhadap taqsim maupun ta’rif. Hal itu karena tasdhiq sudah merupakan gabungan dari konsep yang lebih kompleks dari yang hanya sekadar membahas peristilahan kata, seperti yang terjadi dalam ta’rif. Lebih lanjutmengenai hal itu, berikut ini akan diuraikan bahasannya.[1]                                                                                
 Sebelum melanjutkan ke pembahasan berikutnya lebih baiknya kita jelaskan terlebih dahulu apa itu  ta’rif, tasdhiq, dan taqsim. 1) Ta’rif berasal dari bahasa Arab berarti proses memaknai, adapun secara istilah berarti suatu pembatasan atau penjelasan pada suatu pengertian yang dengan pembatasan atau penjelasan itu, suatu pengertian yang jelas dan terang. Sasaran ta’rif yaitu gambaran (hakikat sesuatu), pembatas (pembeda sesuatu). 2) Tasdhiq merupakan pengertian mengenai nisbath (hubungan) antara suatu (objek) terhadap suatu yang lain (predikat), baik berupa hubungan pembenaran (ijab, affirmasi) maupun hubungan pembatalan (salah, negasi).[2] 3) Taqsim. Sebagaimana kata taqsim berasal dari bahas Arab, “qasama”, yang berartimembagi atau memilah sedangkan klasifikasi berasal dari bahas Inggris class, yang berarti pengelompokan.
 a.       Objek man’u
Man’u atau menuntut dalil terhadap tasdhiq harus disesuaikan dengan bentuk-bentuknya. Menuntut dalil terhadap badhihi tidak sama caranya dengan menuntut dalil terhadap nazhari. Patokan mengenai hal itu, akan diuraikan berikut ini.
1.    Tasdhiq yang berbentuk badhihi jalli tidak dapat di-man’u.
2. Apabila tasdhiq berbentuk badhihi khofi, sa’il dapat menuntut tanbih yang menopang keniscayaannya.
3. Apabila tasdhiq yang dimujadalahkan berbentuk nazhari ghoer mudalal, sa’il mempunyai tugas menuntut dalil terhadapnya.
4. Apabila tasdhiq yang dimujadalahkan berbentuk nazhari ghoer mudalal, sa’il mempunyai tiga tugas: man’u, naqdhu, dan muaradhah.
b.      Man’u mustanad
Sanad ialah ungkapan yang disebut oleh sa’il setelah man’u dianggap akan melahirkan naqidh man’u (oposisi da’wa yang di-man’u). Sanad dapat dibedakan dari dalil.
c.       Pembagian Sanad
1.      Sanad Qath’i
Sanad qath’I ialah sanad (sandaran) yang dengan tegas menunjuk kesalahan yang dianggap oleh sa’il terdapat pada da’waan muda’i.
2.      Sanad tajwizi
Sanad tajwizi ialah sanad (sandaran) yang mengungkapkan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam da’wa atau dengan tidak tegas menunjukkan kesalahan tersebut.
d.      Tugas muda’i: menanggapi man’u sa’il
Ketika da’waan muda’i di-man’u oleh sa’il, tugas muda’I ialah mengafirmasikan atau menanggapinya sebagai jawaban atas tuntutan sa’il. Jawaban (tanggapan) yang harus dilakukan oleh muda’I adakalanya langsung, adakalanya tidak langsung.
e.       Man’u terhadap taqrib
Taqrib (pendekatan) ialah uraian mengenai hubungan keniscayaan (istilzam) antara dalil dan muda’a (da’wa). Dengan kata lain, ia adalah aplikasi dalil terhadap da’wa.[3]
f.       Man’u terhadap man’u atau sanad
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, tugas dan kewajiban muda’I adalah mengafirmasi man’u yang disampaikan atas da’wanya. Dengan demikian, ia tidak perlu membuat man’u terhadap man’u atau sanad. Maksudnya, tidak menuntut atau menolak keabsahan man’u atau sanad dari sa’il.
Yang diperbolehkan bagi muda’I adalah membatalkan man’u dari sa’il dengan berdalil bahwa da’waanya bersifat badhihi karenahal tersebut sama dengan mengafirmasi da’wa yang diman’u sa’il. Begitu pula, muda’i diperbolehkan membatalkan man’u dengan menda’wa bahwa sebenarnya sa’il sendiri menerima da’waan muda’I. Namun hal ini hanya dialektis, tidak realistis.

2.      Naqdhu dalam tasdhiq
Sebelum membahas pengertian naqdhu, terlebih dahulu perlu disampaikan bahwa dalam bahasan naqdhu ini, istilah muda’I diganti dengan muallil, sedangkan istilah sa’il diganti dengan istilah naaqidh (yang membatalkan). Hal demikian sesuai dengan bahasan yang akan dibicarakan.
a.       Pengertian naqdhu
Menurut bahasa, naqdhu berarti melepas tali dan kadang berarti merusak, ingkar dan sebagainya. Dalam istilah kaifiyat mujadalah, naqdhu berarti penda’waan sa’il dalil muallil yang menyebutkan bahwa ia tidak relevan dengan kesimpulannya. Ketidak relevanan karena dua hal, yaitu : jiryan (keberlakuan) dan takhaluf (selisih).[4]
b.      Tugas muallil dan naqidh
Dengan menghadapi dalil muallil, naqidh dapat menganggap dalil muallil tidak absah, mengakibatkan daur dan tasalsul, membatalkan keniscayaan dalil, sehingga tidak diperbolehkan naqidh membatalkan premis major dari dalil yang mengakibatkan daur dan tasalsul.[5]                                                                                              Muallil dapat mempertahankan dalilnyadengan menjawab da’wanya dengan dalil lain walaupun hal ini terkadang dianggap ifham, atau menentang kemustahilan daur dan tasalsul apabila berupa daur man’u atau tasalsul fi al-ummur al-i’tibariyah.[6]                       
c.       Macam-macam naqdhu
1.      Naqdhu ijmali
Naqdhu ijmali maksudnya ialah batalnya dalil menyebabkan batalnya salah satu dari premis-premisnya.
2.      Naqdhu maksur
Naqdhu maksur ialah apabila naqidh meninggalkan sebagian sifat dalil muallil ketika  ia menganggap bahwa dalil muallil mengandung jiryan. Muallil dapat membatalkan jiryan yang dituduhkan naqidh dengan memakai sanad bahwa sebagian sifat yang ditinggalkan mengandung konotasi kausalitas atau keniscayaan dengan da’wa.
3.      Naqdhu terhadap redaksi
Naqdhu terhadap redaksi yang dimaksudkan ialah membatalkan ungkapan muda’I karena susunan redaksinya tidak sesuai dengan aturan-aturan ilmu nahwu dan sharaf, atau tidak sesuai dengan kaidah ejaan yang disempurnaan atau grammar.[7]

3.      muaradhah terhadap tasdhiq
a.       pengertian muaradhah
muaradhah menurut bahasa berarti perlawanan, sementara menurut istilah dalam kaifiyat mujadalah ialah kerja muaridh dalam mengafirmasi oposisi (naqidh) bagi apa yang telah dida’wakan dan diberi dalil oleh muallil.
b.      Pembagian muaradhah
1.      Muaradhah bi al-qalbi
Dalil dari muaradhah yang dinamakan muaradhah bi al-qalbi ialah apabila sama dengan dalil dari muallil dalam materi dan formanya.
2.      Muaradhah bi al mitsli
Dalil muaridh dinamakan muaradhah bi al-mitsli, apabila sama dengan dalil muallil hanya dalamformanya saja, sementara dalam materinya berbeda.
3.      Muaradhah bi al-ghoer
Dalil muaridh termasuk muaradhah bi al-ghoer, apabila berbedadari dalil muallil dalam formanya (syakal atau macamnya berlainan), baik antara keduanya adapersamaan materi ataupun tidak.[8]
C. PENUTUP
            Man’u (meminta penjelasan)
Man’u terhadap tasdhiq memiliki variasi dan penjabaran lebih luas dari pada man’u terhadap taqsim maupun ta’rif. Hal itu karena tasdhiq sudah merupakan gabungan dari konsep yang lebih kompleks dari yang hanya sekadar membahas peristilahan kata, seperti yang terjadi dalam ta’rif.
Naqdhu dalam tasdhiq
Sebelum membahas pengertian naqdhu, terlebih dahulu perlu disampaikan bahwa dalam bahasan naqdhu ini, istilah muda’I diganti dengan muallil, sedangkan istilah sa’il diganti dengan istilah naaqidh (yang membatalkan).
Muaradhah
muaradhah menurut bahasa berarti perlawanan, sementara menurut istilah dalam kaifiyat mujadalah ialah kerja muaridh dalam mengafirmasi oposisi (naqidh) bagi apa yang telah dida’wakan dan


[1].Nanih Machendrawaty. Teknik Debat Dalam Islam. (Bandung : CV Pustaka Setia. 2003). hal. 175.
[3] Op.cit, hal. 177-183
[5].Op.cit.hal. 184-185.
[7]. Op.cit, hal. 186-188.