INDAHNYA BERBAGI: Tata Pergaulan

Amazing

Tuesday, 15 July 2014

Tata Pergaulan

    A. PENDAHULUAN
Untuk memelihara kehidupan yang lebih baik, syari’at memberikan aturan tentang tata pergaulan. Manusia sebagai makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan sesamanya akan selalu berada dengan orang lain yang sejenis maupun berbeda jenis.
Syari’at menyuruh umatnya agar menghindari perbuatan yang dapat menjerumus kepada perbuatan yang tercela. Untuk itu, pembinaan akhlak dan moral dan prilaku terpuji hendaklah ditanamkan sejak dini. Agar harapan masa depan generasi muda Islam tidak merusak moral dan dapat menjada generasi penerus yang menyelamatkan bangsa.
     B. PEMBAHASAN
1.      Larangan  Berduaan Tanpa Mahram
عَنِ ابْنِ عَبَّا سٍ رَ ضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَ سُوْ لَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ
 سَلَّمَ يَخْطُبُ يَقُوْ لُوْ : لاَ يَخْلُوَنَّ رَ جُلٌ بِاءِ مْرَ اَ ةٍ اِلاَّ وَ مَعَهَا ذُ وْ مَحْرَ مٍ وَ
 لاَ تُسَا فِرُ اْلمَرْ اَةُ اِلاَّ مَعَ ذِ يْ مَحْرَ مٍ فَقَا مَ رَجُلٌ. فَقَا لَ : يَا رَ سُوْ لَ اللهِ،
 اِنَّ اِمْرَ اَ تِى خَرَ جَتْ حَا جَةً وَ اِ نِّى اِكْتَتَبْتُ فِى غَذْوَةِ كَذَا وَكَذَا، فَقَا لَ :
 اِنْطَلِقْ فَحَجِّ مَعَ اِ مْرَاَتِكَ.  ( متفق عليه )  
Ibnu Abbas berkata,” Saya mendengar Rasulullah SAW  berkhotbah, “ Janganlah seseorang laki-laki bersama dengan seorang perempuan, melainkan (kehendak) besertanya (ada) mahramnya, dan janganlah bersafar (berpergian) seseorang perempuan, melainkan dengan mahramnya. “ Seseorang berdiri lalu berkata, “ Ya Rasulullah, istri saya keluar untuk haji, dan saya telah mendaftarkan diri pada peperangan anu dan anu. Maka beliau bersbda’ “ Pergilah dan berhajilah bersama istrimmu.” ( Mutatafaq ‘alaih )

Dalam hadis diatas ada dua larangan, yaitu :
1.      Larangan berdua-duan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dan belum resmi menikah.
     Dalam hal ini, para ulama telah sepakat bahwa perbuatn itu haram hukumnya, tanpa pengecualian. Dalam hadis lain ditambahkan bahwa kalau laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berkumpul, maka yang ketiganya adalah setan, sehingga sangat mungkin mereka melakukan hal-hal yang dilarang oleh syara’.
Jika ada keperluan kepada wanita yang bukan muhrim, Al-Qur’an telah mengajarkan, yaitu melalui tabir:
 “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir.”
        Larangan tersebut, antara lain dimaksdkan sebagai batasan dalam pergaulan antara lawan jenis demi mengghindari fitnah. Dalam kenyataannya, di Negara-negara yang menganut pergaulan bebas, norma-norma hokum dan kesopanan yang merupakan salah satu pembeda antara manusia dan binatang seakan-akan hilang..
     Oleh karena itu, larangan Islam, tidak semata-mata untuk membatasi pergaulan, tetapi lebih drai itu yakni, untuk menyelamatkan peradaban manusia. Berduaan dengan lawan jenis merupakan langkah awal untuk terjadinya fitnah. Dengan demikian, larangan perbuatan tersebut, sebenarnya sebagai langkah preventif aagar tidak melanggar norma-norma hokum yang telah ditetapkan oleh agama dan yang telah disepakati oleh masyarakat.[1]

2.      Larangan wanita untuk berpergian, kecuali dengan mahramnya
     Tentang wanita yang berpergian tanpa mahram, terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama. Ada yang menyatakan bahwa larangan tersebut sifatnya mutlak. Dengan demikain, perjalanan apa saja, baik dekat maupun jauh, harus disertai mahram. Ada yang berpendapat bahwa perjalanan itu adalah perjalanan jauh yang memerlukan waktu minimal dua hari. Ada pula yang berpendapat bahwa larangan tersebut ditujukan bagi wanita yang masih muda saja, sedangkan wanita yang sudah tua diperbolehkan, dan masih banyak lagi pendapat lainnnya. Seandainya, kalau dikaji secara mendalam, larangan wanita mengadakan safar adalah adalah sangat kondisioanal. Seandainya wanita tersebut dapat menjaga diri dan diyakini tidak terjadi apa-apa, serta ia merasa ia akan merepotkan mahramnya setiap kali aka pergi, maka perjalanan dibolehkan, misalnya pergi untuk kuliah, ke kantor, dan lain-lain yang memang sudah biasa dilakukan setiap hari. Namun lebih baiknya ditemani oleh mahramnya, kalau tidak merepotkan dan mengganggunya.[2]

2.      Sopan Santun dan Duduk di Jalan
عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ
 قَالَ : اِ يّا كُمْ وَ اْلجُلُوْ سَ عَلَى الطُّرّ قَا تِ فَقَا لُوْا : مَا لَنَا بُدٌّ اِنَّمَا هِيَ
مَجَا لِسُنَا نَتَحَدَّ ثُ فِيْهَا قَال َ: فَاِ ذَا اَبَيْتُمْ اِلَّا اْلمَجَا لِسَ فَاَ عْطُو الطَّرِيْق
حَقَّهَا قَا لُوْا : وَ مَا حَقُّ الطَّرِيْقِ ؟ قَالَ : غَضُّ اْلبَصَرِ وَكَفُّ اْلاَ ذَى
 وَرَدُّ اسَّلَامِ وَاَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ وَ نَهْيٌ عَنِ اْلمُنْكَرِ.
 ( رواه البخري و مسلم و ابو داود )   

Dari Abu Said Al-Khudry r.a., Rasulullah bersabda,’Kamu semuanharus menghindari untuk duduk di atas jalan (pinggir jalan)-dalam riwayat lain, di jalan-mereka berkata ,”Mengapa tidak boleh padahal itu adalah tempat duduk kami untuk mengobrol. Nabi bersbda, “Jika tidak mengindahkan larangan tersebut karena hanya itu tempat unntuk mengobrol, beerilah hak  jalan. “Mereka bertanya, “Apakah hak jalan itu?” Nabi bersabda , “Menjaga pandangan mat, beerusaha untuk tidak menyakiti, menjawab salam, memerinth kepaada kebaikan dan melarang kemunkaran.” ( H.R. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud )
            Rasulullah melarang duduk dipinggir jalan, baik di tempat duduk yang khusus, baik di tempat duduk yang khusus, seperti di atas kursi, di bawah pohon,dll. Sebenarnya larangan tersebbut bukan beerarti larangan pada tempat duduknya, yakni bahwa membuat tempat duduk di pinggir jalan itu haram. Terbukti ketika para sahabatmerasa keberatan dan beragumen bahwanya itulah tempat mereka mengobrol. Rasulullah pun membolehkan dengan syarat mereka harus memenuhihak jalan, yakni :
1.      Menjaga Pandangan Mata
Menjaga pandangan merupakan sesuatu keharusan bagi setiap muslim atau muslimat, sesuai dengan perintah Allah dalam Qur’an Surah An-nur ayat 30.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.”

2.      Tidak menyakiti
Tidak boleh menyakiti orang-orang yang lewat, dengan lisan, tangan, kaki, dll. Dengan lisan misalnyamengata-ngatai atau membicarakannya, dengan tangan misalnya melempar dengan batu-batu kecilatau benda apa sajayang akan menyebabkan orang lewat sakit dan tersinggung.[3]

3.      Menjawab Salam
Menjawab salam merupakan kewajiban bagi orang yang mendengar salam tersebut. Apabila orang yang lewat dijalan itu mengucapkan salam, hendaklah dijawab dengan penuh kesungguhan. Karena, terkadang ada orang yang mencemoohkan bacaan salam teersebut.[4]

4.      Menyeru Kepada Kebaikan dan Mencegah Kepada Kemunngkaran
Apabila seseoarang duduk dijalan kemudian melihat ada orang yang berjalan dengan sombong atau sambil mabuk atau memakai kendaraan dengan kebut atau yang lainnya, diwajibkan untuk menegurnya atau memberinya nasehat dengan cara yang bijak. Jika tidak mampu, karena kurang memiliki kekuatan untuk itu, do’akanlah dalam hati supaya orang tersebut menyadari kekeliruan dan kecerobohannya.

3.      Menyebar Luaskan Salam
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَا مٍ قَا لَ : قَا لَ رَسُوْ لَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :
يَا اَيُّهَا النَّا سُ، اَفْسشُوا السَّلَا مِ وَ صِلُّوا  اْلاَرْحَامِ وَ اَطْعِمُوْا الطَّعَا مَ وَصَلُّوْا
 بِا للَّيْلِ وَ النَّا سُ نُيَّا مٌ تَدْ خُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَا مٍ.
(اخر جه الترمذى و صححه )
 “ Dari  Abdullah bin Salam ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW., “ Hal manusia, siarkanlah salam dan hubungkan keluarga-keluarga dan berilah makan dan shalatlah pada malam ketika manusia tidur, niscaya kamu masuk surga dengan sejahtera.”
Hadis di atas mengandung beberapa pokok bahasa, yaitu :
1.      Menyebarkan Salam
Salam merupakan salah satu identitas seorang muslim untuk saling mendoakan antar sesama muslim setiap kali bertemu. Mengucapkan salam menurut kesepakatan para ulama hukumnya sunat mu’akad.
Setiap orang beriman hendaknya menyebarluaskan tali perdamaian dan keselamatan bagi seluruh umat yang di seluruh jagat raya ini. Karena Islam sebagai ajaran yang membawa keselamatan dan ramah bagi seluruh alam. Umat Iaslam, dilarang untuk hidup bermusuhan dan mengadu domba antar umat Islam. Umat Islam hendaknya membawa obor perdamaian bagi ketentraman hidup seluruh umat manusia.

2.       Menjalalin silaturrahmi
Menjalin silahturrahmi pada dasarnya menjalin ukhuwah (persaudaraan) antar umat Islam secara khusus, serta antar umat manusia pada umumnya. Persaudaraan antar sesama umat Islam biasanya ukuwah Islamiyah.[5]
Allah SWT berfirman dalam Q.S Ali-Imran :
 “ Dan berpegganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

3.      Memberi Makanan
Rasa solidaritas sosial antar sesame dapat diwujudkan antara lain dengan memberi makanan kepada mereka yang membutuhkan. Banyak diantara saudara kita terutama kaum dhuafa yang merasakan kesusahan dalam hidup, bahkan untuk makanpun tidak cukup untuk sehari.
Seorang muslim yang enggan member makan saudaranya yang miskin tergolong pendusta agama. Seorang muslim yang enggan member makan saudaranya yang miskin tergolong pendusta agama. Demikian disebut dalam surat al-Ma’un ayat 3 yaitu :
“ Dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin.”

4.      Shalat Sunnah Malam Hari
Shalat sunnah malam hari terutam sepertiga malam yaitu shalat tahajjud merupakan shalat sunnah yang memiliki keutamaan. Siapa saja yang melakukan sholat sunnah tahajjud Allah memberikan tempat yang terpuji disisinya.[6] Allah berfirman dalam Surrah Al-Ira’ 79.

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.”

      Shalat sunnah malam akan memberikan dampak psikologis bathiniyah bagi pelakunya serta memperkokoh keyakinan kepada Allah SWT. Pahal yang besar diberikan kepada orang yang mau melakukan shalat tahajjud.

PENUTUP
  a. Kesimpulan

1.      Larangan  Berduaan Tanpa Mahram
a.       Larangan untuk berduaan anatara lelaki dan perempuan yang bukan muhrimnya.
b.      Anjuran bagi perempuan untuk disertai muhrimnya pada saat berpergian.
c.       Mendampingi iseri harus didahulukan daripada mengikuti perang.
2.      Sopan Santun dan Duduk di Jalan
a.       Anjuran untuk berlaku sopan untuk duduk di jalan dengan menjaga hak-hak pengguna jalan.
b.      Hak-hak pengguna jalan yaitu terpelihara dari pandangan yang tidak enak, tidak disakiti, di jawab salamnya, serta di ajak kepada kebaikan dan dilarang melakukan kemungkaran.
3.      Menyebar Luaskan Salam
a.       Anjuran untuk menyebarkan kalimat salam sebagai wujud perrdamaian.
b.      Umat Islam hendaknya menciptakan silahturrahmi, member makanan bagi mereka yang membutuhkan, dan anjuran untuk melakukan shalat tahajjud.
c.       Allah memberikan jaminan surge bagi orang yang melakukan kebaikan.

  b.  Saran
            Semoga makalah ini dapat menambah wawasan pembaca, serta kritik dan saran yang membangun dari pembaca terutama dari dosen pembimbing sangat pemakalah harapkan.








                 


[1]. Rahcmat Syafe’I, 2000, Al-Hadis ( Aqidah, Akhlak, Sosial, dan Hukum ), Bandung : Pustaka Setia. hal. 218-219
[2]. Ibid, hal. 219-220
[3]. Ibid, hal. 223-224.
[4]. Oneng Nurul Bariyah, 2007, Jakarta : Kalam Mulia, hal. 184
[5]. Ibid, hal. 187.
[6]. Ibid, hal. 188-189


DAFTAR KEPUSTAKAAN
Syafe’I, Rachmat.2000. Al-Hadis ( Aqidah, Akhlak, Sosial, dan Hukum ). Bandung : Pustaka Setia.
Bariyah. Oneng Nurul. 2007. Jakarta : Kalam Mulia.



Cinta Itu Indah