INDAHNYA BERBAGI: Hisab bagi Orang Mukmin dan Orang Kafir

Amazing

Saturday, 12 July 2014

Hisab bagi Orang Mukmin dan Orang Kafir

A. PENDAHULUAN
       Beriman kepada hari Akhir dan kejadian yang ada padanya merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Untuk mencapai kesempurnaan iman terhadap hari Akhir, maka semestinya setiap muslim mengetahui peristiwa dan tahapan yang akan dilalui manusia pada hari tersebut. Di antaranya yaitu masalah hisab (perhitungan) yang merupakan maksud dari iman kepada hari Akhir. Karena, pengertian dari beriman kepada hari kebangkitan adalah, beriman dengan hari kembalinya manusia kepada Allah SWT dihisab. Sehingga hakikat iman kepada hari kebangkitan adalah iman kepada hisab ini.

B. PEMBAHASAB
           1.  Pengertian Hisab
Hisab adalah peristiwa Allah SWT menampakkan kepada manusia amalan mereka di dunia dan menetapkannya. Atau Allah SWT mengingatkan dan memberitahukan kepada manusia tentang amalan kebaikan dan keburukan yang telah mereka lakukan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, Allah SWT akan menghisab seluruh makhluk dan berdua dengan seorang mukmin, lalu menetapkan dosa-dosanya. Syaikh Shalih Ali Syaikh mengomentari pandangan ini dengan menyatakan, bahwa inilah makna al muhasabah (proses hisab). Demikian juga Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan, muhasabah adalah proses manusia melihat amalan mereka pada hari Kiamat.
Hisab menurut istilah aqidah memiliki dua pengertian.
Pertama. Al ‘Aradh (penampakkan dosa dan pengakuan), yang mempunyai dua pengertian.
1. Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan Allah SWT dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini mencakup orang yang di-munaqasyah hisabnya (diperiksa secara sungguh-sungguh) dan yang tidak dihisab.
2. Pemaparan amalan maksiat kaum Mukminin kepada mereka, penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain) dan pengampunan Allah SWT atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang ringan (hisab yasir).
Kedua. Munaqasyah (diperiksa secara sungguh-sungguh), dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan) antara kebaikan dan keburukan. Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan, hisab, dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksudkan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya.

           2. Perbedaan Hisab Mukmin dan Hisab Kafir
Syaikhul Islam menyatakan, hisab, dapat dimaksudkan sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap pelakunya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan di dalam sabdanya: “Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa”. Aisyah bertanya,”Bukankah Allah telah berfirman ‘maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, ” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hal itu adalah al ‘aradh. Namun barangsiapa yang dimunaqasyah hisabnya, maka ia akan binasa”. [Muttafaqun ‘alaihi]
Allah swt. Berfirman :

Artinya : “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.”

Penelitian dalam hisab (pemeriksaan) dan pertanyaaan tidaklah dilakukan kecuali terhadap orang-orang yang akan disiksa. Adaapun hisab yang ringan, hal itu merupakan pembeberan amal perbuatan terhadap seorang mukmin, lalu ia mengakui dosa-dosanya, maka Allah mengampuninya.
Addi ibnu Hatim r.a menceritakan hadis berikut, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : Tiada seorangpun diantara kalian melainkan pasti akan diminta pertanggung jawaban oleh Rabbnya di hari kiamat tanpa ada juru penerjemah antara dia dan Rabbnya. Lalu ia memandang kearah kanannya, maka ia tidak meliah apapun kecuali amal perbuatan yang telah dikerjakannya. Ia memandang kearah kirinya maka ia tidak melihat apapun kecuali amal perbuatan yang telah dikerjakannya. Ia memandang kearah depannya, ia tidak melihat apa-apa kecuali neraka persis berada dihadapannya . Karena itu peliharalah diri kalian dari neraka sekalipun hanya ( dengan menyedekahkan) sebutir buah kurma. (Riwayat Syaikhain dan Turmudzi).

Hadis diatas jelas bahwa Allah kelak akan menghisab semua menusia tanpa pakai perantara , melainkan dia sendirilah yang melakukannya. Khalifa Ali pernah memberikan nasehat kepada seseorang dengan hadis ini. Seseorang laki-laki bertanya kepadanya,” Wahai Amirul Mu’minin, bagaimanakah Allah menghisab semua manusia dalam waktu yang bersama-samaa?” Khalifa Ali menjawab, “ SebagaimanaDia memberi rezeki mereka dalam waktu yang sama, Diapun akan menghisab mereka dalam waktu yang sama.” Ia memandang kea rah depannya, maka ia tidak melihat yang lain kecuali neraka yang persisberada di hadapannya. Menurur makna lahiriah, kalimat ini menunjukkan bahwa keadaan demikian hanya dialami oleh orang-orang kafir dan orang-orang munafik.

Dari Shafwan ibnu Maharriz yang telah menceritakan bahwa ketika Ibnu ‘Umar sedang tawaf tiba-tiba ada eorang laki-laki mencegatnya dan bertanya, “ Wahai Abu ‘Abdur Rahman apakah engkau pernah mendengar dari Nabi saw tentang pembicaraan rahasia?” Ibnu ‘Umar menjawab, bahwa ia pernah mendengar Nabi saw bersabda : Orang Mukmin didekatkan kepada Tuhannya. Rasulullah bersabda : Orang mukmin mendekat (kepada Tuhannya) lalu Allah menaunginya di dalam naungannya dan membuatnya mengakui segala dosanya, “Tahukah kamu dosa anu?” Hamba yang bersangkutan menjawab, “Saya mengakui wahai Tuhanku,” dia melakukan pengakuan sebanyak dua kali. Lalu Allah berfirman, “ Aku telah menutupinya di dunia, dan pada hari ini aku memberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosamu itu, dan Aku sekarang mengampunimu,” lalu ia diberi kitab kebaikannya. Sedangkan orang kafir dan munafik, maka Allâh berfirman : ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka’. Ingatlah, kutukan Allâh (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim”. (H.R al Bukhari) Sabda Nabi saw menyatakan, “ Orang mukmin didekatkan kepada Tuhannya”, mengandung makna bahwa ia didekatkan dengan penuh hormat dan diletakkan pada kedudukan yang tinggi.

Dari Abu Hurairah r.a yang telah mengatakan bahwa para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita dapat melihat Tuhan pada hari kiamat? “Rasulullah menjawab : “Apakah kalian berdesak-desakan bila melihat matahari ditengah hari yang tidak berawan?” Mereka berkata ,”Tidak.” Rasulullah melanjutkan : “Dan apakah kalian berdesak-desakan ketika melihat rembulan di malam purnama yang tidak berawan?” Mereka menjawab, ”Tidak.”Rasulullah bersabda : “Demi Tuhan yang diriku berada didalam genggaman kekuasaan-Nya, kami tidak berdesak-desakan saat melihat Tuhanmu, melainkan sebagaimana kamu melihat salah satu di antara keduanya (matahari dan bulan)”
Lalu Allah menjumpai hamba (Nya) dan berfirman, “ Hai Fulan, bukankan aku telah memuliakanmu, menjadikanmu berkuasa, mengawinkanmu, dan menundukkan kuda dan unta bagimu serta membiarkanmu memimpin dan berkuasa? “Hamba yang bersangkutan menjawab, “Benar.” Allah berfirman,” Apakah kamu berkeyakinan bahwa kamu akan bersua denganKu? “ Hamba menjawab, “Tidak.” Allah berfirman, Sesungguhnya Aku melupakanmu sebagaimana kamu dahulu melupakanku.” Kemudian Allah menjumpainya lagi untuk kedua kalinya dan berfirman, “ Hai Fulan, bukankan aku telah memuliakanmu, menjadikanmu berkuasa, mengawinkanmu, dan menundukkan kuda dan unta bagimu serta membiarkanmu memimpin dan berkuasa? “Hamba yang bersangkutan menjawab, “ Benar ya Tuhanku.” Allah berfirman, ” Apakah kamu berkeyakinan bahwa kamu akan bersua denganKu? “ Hamba menjawab, “Tidak.” Allah berfirman, Sesungguhnya Aku melupakanmu sebagaimana kamu dahulu melupakanKu.” Kemudian Allah menjumpainya lagi untuk yang ketiga kalinya dan mengatakan hal yang sama seperti yang sebelumnya. Lalu hamba yang bersangkutan berkata, “ Wahai Tuhanku, aku beriman kepadaMu, kepada kitabMu, dan aku menunaikan shalat, melakukan puasa dan bersedekah,” dan ia memuji Allah dengan pujian yang baik menurut kemampuannya. Lalu Allah berfirman,”Baiklah kalau begitu.” Kemudian dikatakan kepadanya, “Sekarang, Kami akan mengemukakan saksi dari Kami terhadap kebenaranmu.” Hamba yang bersangkutan berfikir dalam dirinya,” Siapakah yang akan menjadi saksi terhadap diriku?” Lalu dikuncilah mulutnya, dan dikatakan kepada pahanya, dagingnya dan tulang-tulangnya, “Berbicaralah!” Lalu berbicaralah pahanya dan dagingnya serta tulang-tulangnya menceeritakan amal perbuatan yang telah dilakukannya. Demikian itu dilakukan untuk memeperkuat alasan Allah terhadap hamba yang bersanggkutan, dan hamba itu adalah seorang munafik. Dan yang mendapat perlakuan seperti ini adalah orang yang dimurkai oleh Allah swt. (H.R Muslim).
Demikianlah keadaan tiga jenis manusia. Yang pertama seorang mukmin, ia mendapatkan ampunan dan kemuliaan Allah swt (sebagaimana yang dijelaskan dari hadits di atas). Yang kedua seorang yang kafir dan ketiga orang munafik (seperti yang dijelaska dari hadis di atas). Orang kafir dan orang munafik mendapat laknat dan kemurkaan Allah swt.

Dari Anas Ibnu Malik yang telah mengatakan bahwa Rasulullah saw telah bersabda : Di datangkanlah orang-orang yang hidup senang di dunia dari kalangan calon penghuni neraka pada hari kiamat , kemudian dicelupkan ke dalamneraka dengan sekali celup, kemudian dikatakan, “ Hai anak Adam, apakah engkau pernah melihat kebaikan sekali saja? Apakah engkau pernah mengalami hidup senang sekali saja?” Lalu dia menjawab, “Tidak, demi Allah, ya Tuhanku.”
Dan didatangkanlah orang yang hidup paling sengsara ketika didunia dari kalangan calon penghuni surrga, lalu dicelupkanlah (dimasukkan) ia kedalam surge dengan sekali celup. Lalu dikatakan kepadanya,” Hai anak Adam, apakah engkau pernah mengalami hidup sengsara? Apakah engkau mengalami hidup sulit?” Lalu dia menjwab ,”Tidak pernah, ya Tuhanku, sedikitpun saya tidak pernah mengalami kesengsaraan, dan kesusahan.” (H.R Imam Muslim).
Makna sabda Nabi saw “ Lalu dicelupkanlah ia ke dalam neraka dengan sekali celup “, yakni satu kali dia dimasukkan ke dalam neraka : hanya Allah lah yang lebih mengetahui.
Perhitungan terhadap amal perbuatan manusia yang dilakukan selama hidup di dunia nanti di yaumul akhir pasti setiap manusia akan di minta pertanggung jawaban perbuatan yang dilakukannya, sebagaimana firman Allah di antaranya :
Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (Q.S al-Insyiqaq : 10-12)
Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka. (Q.S al Ghasyiyah : 25-26)
Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allâh amat cepat hisabnya. (QS al Mu’min : 17)
Tidaklah diragukan bahwa Allah swt telah berbicara tentang hari kiamat: "Kerajaan yang haq pada hari itu kepunyaan Allah Yang Rahman. Dan hari itu adalah hari yang sukar bagi orang yang kafir." (QS. Al-Furqon : 26).
Dikhususkannya kesulitan pada hari itu bagi orang kafir menunjukkan bahwa orang-orang mukmin tidaklah demikian. Juga firman Allah: “Maka hari itu adalah hari yang sangat sulit. Bagi orang-orang kafir tidaklah mudah." (QS. Al-Mudatsir: 9-10).
Ayat inipun menunjukkan bahwa hari tersebut mudah bagi orang mukmin dan tidak sulit, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat lain : "Mereka datang dengan segera kepada yang memanggil itu. Orang-orang kafir berkata: "Ini adalah hari yang amat berat." (QS. Al-Qomar : 8).
Ini berarti bahwa hari kiamat sangat panjang bagi orang kafir dan sangat ringkas bagi orang mukmin. Allah pun telah menerangkan di dalam kitab-Nya tentang panjangnya masa hisab pada hari kiamat. Hal ini Allah terangkan di dalam firman-Nya : "Para ahli surga pada hari itu lebih baik tempat menetapnya dan lebih indah tempat istirahatnya( maqiil)." (Al Furqon : 24).

C. KESIMPULAN
       AllAH swt yang Maha Pengasih dan Maha Lembut tidak menghisab kaum Mukminin dengan munaqasyah, namun mencukupkan dengan al aradh. Dia hanya memaparkan dan menjelaskan semua amalan tersebut di hadapan mereka, dan Dia merahasiakannya, tidak ada orang lain yang melihatnya, lalu Allah SWT berseru : “Telah Aku rahasiakan hal itu di dunia, dan sekarang Aku ampuni semuanya”. Adapun orang-orang kafir, mereka akan dipanggil di hadapan semua makhluk. Kepada mereka disampaikan semua nikmat Allâh Ta'âla, kemudian akan dipersaksikan amalan kejelekan mereka disana.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Nashif, Syekh Manshur Ali. 2007. Mahkota Pokok-Pokok Hadis Rasulullah SAW. Bandung : Sinar Baru Algensindo.

Ad-Dimasyqiy, Syekh ‘Irfan Ibnu Sulaiman Al-‘Asysya Hassuna. 2007. Himpunan Hadis Qudsi. Bandung : Sinar Baru Algensindo.