INDAHNYA BERBAGI: Aliran Maturidiah Bukhara

Amazing

Tuesday, 15 July 2014

Aliran Maturidiah Bukhara


A. Pendiri Maturidiah Bukhara 
         Pendiri Maturidiah Bukhara bernama Abu al-Yusr Muhammad al-Bazdawi. Ia dilahirkan pada tahun 493 H / 1099 M di Bukhara . Kemudian dikenal dengan al-Bazdawi. Dalam sirah al-Bazdawi disebutkan bahwa dia mendapatkan pelajaran agama pertama kali dari ayahnya yang belajar kepada kakeknya, Abdul Karim, yang belajar pula kepada Maturidi. Kemudian al-Bazdawi belajar kepada para ulama dari golongan Hanafiah. Disinilah Ilmu yang ia miliki ialah teologi Islam, tafsir, hadits, fiqh, dan lainnya.                                                                                                                
   Al-Bazdawi mempunyai banyak murid dan satu diantaranya adalah Najm al-Din Muhammmad al-Nasafi (460-537). Al-Nasafi menyebutkan bahwa al-Bazdawi adalah Imam al-Imamah pada masanya di negeri ma wara’a al-Nahr, orang-orang menimba ilmu kepadanya dari segala penjuru.[1]
   
B. Pembahasan Tentang Tuhan
a.       Akal dan Wahyu
Kata akal berasal dari bahasa Arab al-‘aql yang berarti paham, mengerti, atau berfikir. Kata ini identik dengan kata nous dalam bahasa Yunani yang berarti daya pikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Menurut Dr. Zaki Nazib Mahmud, akal adalah menghubungkan peristiwa dengan sebab akibat atau konklusinya. Dalam islam akal mendapatkan perhatian dan penghargaan yang tinggi. Dalam Islam, disamping akal juga ada wahyu. Akal dan wahyu menjadi pemahasan polemis di kalangan pateolog Islam.                                                                       
Golongan Maturdiiah Bukhara berpendapat, akal dapat mengetahui adanya Tuhan dan yang baik dan yang buruk. Tetapi, akal tidak dapat mengetahui kewajiban berterimakasih kepada Tuhan dan kewajiban brbuat baik dan menjauhi yang buruk. Untuk mengetahui kewajiban itu diperlukan wahyu. Dalam kaitan ini akal harus mendapatkan bimbingan dari wahwu.[2] Harun Nasution menyebutkan bahwa akal menurut al-Bazdawi tidak dapat mengetahui kewajiban-kewajiban dan hanya dapatmengetahui sebab-sebab yang membuat kewajiban-kewajiban menjadi kewajiban.

b.      Kekuasaan dan kehendak Tuhan                                                                  
             Golongan Maturidiah Bukhara, sekalipun tidak seekstren Asy’ariah, memiliki paham yang dekat dengan Asy’ariah. Menurutnya, tidak mustahil Allah memberikan beban atas diri manusia dengan kewajiban-kewajiban yang tidak dapat dipikulnya. Tetapi al-Bazdawi juga berpendapat bahwa tidak mungkin Allah melanggar janji-Nya untuk memberi pahala kepada orang yang berbuat baik, dan sebaliknya bukan tidak mungkin Allah membatalkan ancaman untuk memberikan hukuman kepada orang yang berbuat jahat. Berat dugaan pendapat ini ia munculkan ingin mengesankan bahwa Allah itu bersifat adil. [3]            
               Keterangan Bazdawi mengandung arti bahwa ada yang tidak dapat tidak, meski dilakukan oleh Tuhan, yaitu memenuhi wa’d nya, yakni memenuhi janji untuk member upah kepada orang yang berbuat baik. Kalau dipakai istilah yang digunakan Muktazilah, maka dalam paham Bazdawi ada satu kewajiban Tuhan, yaiu memenuhi wa’d-Nya.[4]

c.       Sifat-Sifat Tuhan
a)      Sifat Tuhan Pada Umumnya
Kaum Matudiriah golongan Bukhara, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat . Persoalan banyak yang kekal, mereka menyelesaikan dengan mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui kekekalan sifat-sifat itu sendiri, juga mengatakan bahwa Tuhan bersama-sama sifat-Nya  kekal, tetapi sifat-sifat itu sendiri tidaklah kekal.
b)      Anthropomorphisme
Karena Tuhan bersifat immaterial, tidaklah dapat dikatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani. Kaum Maturidiah golongan Bukhara dalam hal ini tidak sepaham dengan kaum Asy’ariah. Tangan Tuhan menurut Bazdawi, adalah sifat dan bukan anggota badan Tuhan, yaitu sifat yang sama sifat-sifat lainnya seperti pengetahuan, daya dan kemauan.
c)      Melihat Tuhan
Kaum Matudiriah dengan kedua golongannya sepaham dengan hal ini dengan kaum Asy’ariah. Al-Maturidi juga berpendapat bahwa Tuhan dapat dilihat karena Ia mempunyai wujud. Menurut Bazdawi, Tuhan dapat dilihat, sungguhpun tidak mempunyai bentuk, tidak mengambil tempat dan tidak terbatas.
d)     Sabda Tuhan
Mengenai Sabda Tuhan atau Kalam Allah atau tegasny al-Qur’an persoalannya dalam teologi adalah : kalau sabda merupakan sifat, sabda mesti kekal, tetapi sebaliknya sabda adalah tersusun dan oleh kerena itu mesti diciptakan dan tidak bias kekal.
Kaum Matudidiriah dan kedua golongannya sependapat dengan kaum Asy’ariah bahwa sabda Tuhan atau Al-Qur’an adalah kekal. Al-Qur’an, kata Maturidi, adalah sifat kekal dari Tuhan, satu, tidak terbagi, tidak bahasa Arab, ataupun Syriak, tetapi diucapkan manusia dalam ekspresi berlainan.
Menurt Bazdawi, selanjutnya, apa yang tersusun dan disebut al-Qur’an bukanlah sabda Tuhan, tetapi merupakan tanda dari sabda Tuhan. Ia disebut sabda Tuhan dalam arti kiasan.[5]
C. Manusia
a.       Pelaku dosa besar
Aliran Matudiriah, baik Samarkand maupun Bukhara, sepakat menyatakan bahwa pelaku dosa masih tetap sebagai mukmin karena adanya keimanan dalam dirinya. Adapun balasannya  yang diperoleh kelak di akhirat tergantung apa yang dilakukannya di dunia. Jika ia meninggal tanpa tobat terlebih dahulu, keputusannya diserahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT.[6]  

b.      Iman dan Kufur
Adapun pengertian iman menurut Maturidiah Bukhara, sebagaimana yang dijelaskan oleh Bazdawi adalah, tashdiq bi-al qalb dan tashdiq bi al-lisan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tashdiq bil al-qalb adalah meyakini dan membenarkan dalam hati tentang keesaan Allah dan rasul-rasul yang diutus-Nya beserta risalah yang dibawanya. Adapun yang dimaksud tashdiq bi al-lisan adalah mengakui kebenaran sagala pokok ajaran Islam secara verbal.
Bazdawi menyatakan bahwa iman tidak dapat berkurang, tetapi bisa bertambah dengan adanya ibadah-ibadah yang dilakukan.[7]

c.        Perbuatan
Mengenai perbuatan manusia, Bazdawi tidak mengikuti paham Maturidi. Perbuatan manusia baginya semula , sungguhpun diciptakan Tuhan, tidaklah perbuatan Tuhan. Manusia adalah pembuat dari perbuatan dalam arti kata yang sebenarnya. Bazdawi dikritik oleh pihak lain : melakukan perbuatan yang diciptakan Tuhan lebih tepat dikatakan perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia. Dengan kritik demikian, akhirnya Bazdawi menjadi ragu-ragu dalam mengatakan bahwa perbuatan manusia adalah perbuatan manusia dalam arti sebenarnya. Akhirnya lagi, bagi golongan Matudiriah Bukhara, daya manusia tidaklah efektif dalam mewujudkan perbuatannya, seperti halnya juga dikatakan oleh Asy’ari.[8]







[1]. Sirajuddin Zar, Teologi Islam : Aliran dan Ajarannya, Padang, IAIN Press, 2003,hlm.102.
[2] . Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1994.hlm. 153-155.
[3] . Ibid, Sirajuddin Zar, hal. 103-105.
[4]. Abdul Aziz Dahlan, Teologi dan Aqidah dalam Islam, Padang, IAIN-IB Press, 2001, hal. 136.
[5].  Harun Nasution, 2011, Teologi Islam : Aliran Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta : UI-Press hal. 137-146.
[6]. Abdul Rozak, Ilmu Kalam, Bandung, CV Pustaka Setia, 2007, hal . 138.
[7]. Abdul Rozak, Ilmu Kalam, Bandung, CV Pustaka Setia, 2000, hal. 150.
[8]. Op. Cit, Abdul Aziz Dahlan, hal. 135. 




DAFTAR PUSTAKA

Asmuni, Yusran. 1994. Ilmu Tauhid. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Dahlan, Abdul Aziz. 2001. Teologi dan Aqidah dalam Islam. Padang : IAIN-IB Press.
Nasution, Harun. 2011. Teologi Islam : Aliran-aliran Sejarah Anlisa Perbandingan. Jakarta : UI-Press.
Rozak, Abdul. 2000. Ilmu Kalam. Bandung : CV Pustaka Setia.
             . 2007. Ilmu Kalam. Bandung : CV Pustaka Setia.
Zar, Sirajuddin. 2003. Teologi Islam : Aliran dan ajarannya. Padang : IAIN Press.